Lokasi kuil pusat Gereja Judar aslinya memeluk rute jarak yang tidak terlampau jauh dari letak kuil Dominion. Jika rombongan memilih menggunakan rute jalur pintas, mereka dipastikan sanggup tiba di tujuan dalam kurun waktu tiga hari perjalanan saja. Namun anehnya, sangat jarang ada pemain Satisfy yang nekat melintasi jalur pintas tersebut. Rata-rata orang memilih menempuh jalur memutar melewati jalan raya utama, meskipun harus rela menghabiskan waktu dua kali lipat lebih lama.
Alasannya tergolong sangat logis. Wilayah jalur pintas tersebut merupakan area tebing habitat sarang kawanan Griffon liar. Kelengahan fokus sesaat saja di sepanjang tebing dipastikan akan memicu terkaman puluhan ekor Griffon lapar secara berbondong-bondong. Bahkan barisan penguasa wilayah setempat terbiasa menjatuhkan hukuman pembuangan bagi narapidana kejahatan kelas berat ke habitat Griffon tersebut, mempertegas statusnya sebagai zona maut yang sangat dihindari oleh masyarakat umum.
Namun hari ini.
Sesosok pemuda Asia berpenampilan biasa didampingi oleh seorang pemuda berambut hitam tampak melangkah santai memasuki area lembah habitat Griffon, bertindak layaknya ngengat yang nekat menabrak nyala api. Mereka tak lain adalah Grid dan Toban.
“Toban, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Aku sangat bosan menanti pergerakan lambanmu.”
“Ssst! Tutup mulutmu, Grid!”
Toban yang sedang siaga penuh mengintai pergerakan tebing sarang Griffon bergegas membekap mulut Grid yang sedang menguap lebar. Bulir-bulir keringat dingin tampak bercucuran membasahi dahinya saat dia membisikkan peringatan kencang. “Sudah tidak terhitung berapa kali aku memperingatkanmu sepanjang jalan! Apa kau memang sengaja ingin memancing kedatangan kawanan predator itu dengan suara nguap kerasmu, hah?!”
Monster Griffon di lembah ini rata-rata dibekali kekuatan Level 260 oleh sistem. Ditambah dengan kepakan sayap raksasa yang kuat serta kapasitas stamina yang tebal, predator langit tersebut dikenal sangat lihai menukik menyergap buruan mereka dari udara. Sifat agresi kelompoknya yang solid menobatkan mereka sebagai salah satu predator lapangan teratas di Satisfy. Bahkan pemain ranker tingkat atas sekalipun dipastikan akan langsung tewas terkapar jika sampai terkepung oleh serangan kelompok mereka secara mendadak.
Itulah alasan Toban bersikap sangat waspada sepanjang jalan.
“Mohon bersikap tenang dan mengekor rapat di belakang langkahku. Aku telah melintasi jalur lembah ini sebanyak puluhan kali sebelumnya. Selama kau patuh mengikuti instruksi langkahku, kita dipastikan sanggup melewati ngarai tebing ini secara aman tanpa perlu bertemu dengan kawanan Griffon.”
“...”
“Minimalisasi suara helaan napasmu sehalus mungkin, lalu gerakkan tubuhmu merangkak merapat di tanah batu. Mengerti?”
Toban dengan sangat terampil menjatuhkan tubuh kekarnya ke tanah batu dan mulai mengambil posisi merangkak merayap ke depan.
Grid yang menyaksikan keanehan perilaku tersebut dari posisi berdiri hanya bisa mengernyitkan dahinya heran. “Bukankah instruksi bicaramu terdengar terlampau pongah di telingaku? Apa kau saat ini sedang mencoba menceramahiku, hah? Budak kotor sepertimu rupanya sudah tidak menaruh rasa segan di hadapan majikannya?”
Toban yang tersentak menyadari kelalaian status budaknya segera menyahut panik. “A-Ah! Mohon maaf, Grid. Aku bersumpah tidak bermaksud mengguruimu. Aku murni hanya ingin menjamin keselamatan kita...”
“Sangat berisik kalimatmu. Aku menolak mematuhi instruksi konyolmu itu. Merangkak merayap di tanah batu? Apa kau sudah gila? Bukankah aku sudah terlampau kenyang melakukan gerakan konyol itu semasa wajib militer dulu?!”
Korea Selatan di dunia nyata saat ini dikisahkan masih memeluk status gencatan senjata dengan Korea Utara yang telah berlangsung selama lebih dari 100 tahun lamanya, didukung oleh provokasi militer yang tiada henti berseliweran di perbatasan. Demi menjamin pertahanan keamanan negara, seisi pemuda Korea Selatan diwajibkan menjalani dinas wajib militer secara fisik, tidak terkecuali bagi Shin Youngwoo.
“Apa kau sendiri pernah mencicipi rasanya dikirim wajib militer, hah? Apa kau memahami rumitnya ritual merangkak tiarap taktis militer?”
“Wajib militer...?”
Toban aslinya lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat, menjadikannya sama sekali tidak menaruh minat terhadap dunia wajib militer ataupun berinteraksi langsung dengan tentara aktif di dunia nyata.
Grid mendecakkan lidahnya kesal. “Pemain yang seumur hidupnya tidak pernah memeluk senapan militer nekat mengguruiku tentang tata cara merangkak tiarap... Hei, kau warga sipil tak terlatih. Asal kau tahu saja, aku adalah alumni prajurit angkatan darat Korea Selatan yang saat ini memegang status sebagai pasukan cadangan aktif. Kau sama sekali tidak tahu seberapa besar siksaan fisik yang kuderita saat dipaksa tiarap merayap di sepanjang latihan militer dulu! Tubuhku bahkan tetap gemetar ketakutan setiap kali memori latihan tiarap itu terlintas di kepalaku. Dan sekarang kau memaksaku mengulangi siksaan merangkak tiarap itu di dalam game virtual?! Terlebih lagi dengan dipandu oleh orang yang merangkak tiarapnya terlihat sangat kaku sepertimu?!”
“...”
Runtutan penjelasan emosional Grid seketika membungkam mulut Toban tanpa sanggup membantah sedikit pun. Siapa yang menyangka instruksi merangkak tiarap taktis darinya justru memicu kemarahan wajib militer dari sang pandai besi legendaris? Dia murni mematung kebingungan di tanah batu.
“Pemain tanpa konsep tiarap taktis...” Grid menggerutu kesal sembari merogoh inventarisnya menarik keluar sepotong jubah merah kusam yang berbau amis darah. Jubah merah peninggalan bos Malacus, **Malacus' Cloak**.
Toban seketika melompat panik dari posisinya berdiri. “G-Grid! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, hah?! Untuk alasan gila apa kau mengeluarkan jubah kotor itu di tempat ini?! Bukankah aku sudah berkali-kali memperingatkanmu untuk mengunci rapat jubah amis tersebut di dalam inventaris sepanjang jalan?!”
Toban adalah salah satu saksi sejarah yang ikut berpartisipasi dalam sesi raid Malacus dulu, menjadikannya menyadari betul opsi status berbahaya yang melekat pada Malacus' Cloak. Bau amis darah yang mengalir pekat dari jubah tersebut dipastikan akan memancing naluri lapar ratusan Griffon yang mendiami tebing ngarai tinggi dalam sekejap!
“Tindakanmu ini sama saja dengan bunuh diri secara sukarela!” Wajah Toban seketika memucat membayangkan teror ratusan paruh Griffon menukik mengincar posisi mereka. “Cepat simpan kembali jubah amis itu ke dalam inventarismu sekarang juga!”
Melihat kepanikan Toban, Grid justru menyunggingkan tawa puas. “Untuk alasan apa kau berpikir aku bersedia memilih rute jalur pintas berbahaya ini, Toban? Apa kau berasumsi aku nekat kemari murni demi menghemat durasi perjalanan kita? Tentu saja dugaannmu salah. Sejak awal, target utamaku melintasi lembah ini adalah murni untuk memburu kawanan Griffon. Sangatlah bodoh jika aku mengabaikan potensi panen material di sarang mereka.”
Serpihan tulang, kulit zirah, serta otot tendon Griffon diakui memegang nilai komoditas bahan penempaan tingkat tinggi yang sangat laris di pasaran pandai besi. Terlebih lagi, tendon Griffon merupakan salah satu bahan baku utama yang dibutuhkan untuk menempa senjata Unique **Gale Spear** (Tombak Gale). Pon sempat bercerita kepadanya mengenai nominal koin emas fantastis yang rela digelontorkannya di pasar pemain murni demi menebus satu keping tendon Griffon saja, memicu hasrat bisnis Grid.
Dan hari ini adalah peluang emas baginya. Di sekitar wilayah Winston tidak memiliki habitat sarang Griffon liar, menjadikannya enggan membuang peluang panen material langka di lembah ini secara gratis.
“Akan kubantai habis seisi kawanan Griffon di tempat ini hari ini!”
“Dasar majikan gila!”
“Apa? Ulangi sekali lagi kalimat makianmu tadi?”
Grid melayangkan tatapan berkilat dingin menatap wajah Toban. Namun kali ini Toban bersikeras menolak mengalah. Baginya, ancaman serbuan Griffon terasa jauh lebih mengerikan dibandingkan kemarahan Grid saat ini.
“Aku menyadari betul bahwa kapasitas kekuatan bertarungmu saat ini sangatlah mengerikan, Grid! Kelincahan fisikmu bahkan layak disandingkan setara dengan jajaran 10 pemain terkuat global!”
“Hehehe, benarkah penilaianmu setinggi itu?” Grid menyeringai senang menerima pujian mendadak tersebut sembari mengelus hidungnya bangga menahan malu.
Namun Toban yang kepalanya diliputi kecemasan segera merapatkan posisinya dan menyemburkan kekesalannya tepat di depan wajah Grid. “Namun kehebatan fisikmu tetap tidak akan cukup untuk melumpuhkan populasi kawanan Griffon di ngarai ini! Sekali kau memicu keributan besar di tempat ini, kita dipastikan akan berakhir tewas terkepung oleh serbuan ratusan Griffon sekaligus. Bahkan Kraugel peringkat pertama global sekalipun dipastikan tidak akan sanggup membinasakan ratusan predator langit tersebut sendirian! Dan kau dengan sangat bodohnya nekat memancing mereka mengenakan jubah amis Malacus' Cloak?! Cepat simpan benda kotor itu sekarang juga!”
“Umm...”
Bagaimanapun kasarnya ego Grid, Griffon tetaplah merupakan kategori monster liar Level 260 yang sangat sulit untuk ditundukkan dalam jumlah besar. Grid memutuskan mematuhi rasionalitas tersebut dan mengembalikan Malacus' Cloak ke dalam inventarisnya. Dia melirik Toban pelan. “Baiklah, aku bersedia mengalah. Aku akan membatalkan rencana perburuan kelompok berskala besar hari ini. Sebagai gantinya, mari kita lumpuhkan kawanan Griffon tersebut satu per satu secara terpisah. Mengerti?”
Menatap ketegasan hasrat berburu Grid, Toban menyadari dirinya tidak memiliki celah untuk melayangkan bantahan baru.
“Fiuuh, jika target kita murni memancing mereka satu per satu... meskipun memakan waktu lebih lama, kurasa taktik itu masih cukup rasional untuk dijalankan.”
Sejujurnya, Toban pun diam-diam menaruh minat terhadap perolehan EXP serta material drop berharga dari hasil berburu Griffon. Namun tepat di saat mereka berdua sepakat memulai perburuan satu per satu...
*Kieeeeek!*
Raungan kencang melengking membelah keheningan lembah.
Masalah utamanya ternyata dipicu oleh teriakan histeris Toban saat meluapkan kekesalannya tadi. Pola suara berdensitas tinggi tersebut terlanjur merambat memantul di sepanjang dinding tebing, memancing perhatian puluhan ekor Griffon di atas sarang mereka.
“Gawat...” Toban menatap ngeri ke arah langit ngarai yang mendadak dipenuhi oleh bentangan sayap puluhan ekor Griffon yang menukik turun, lalu menjatuhkan tubuhnya lemas ke tanah batu. “Sialan...! Pertarungan ini telah berakhir murni sebelum dimulai! Kita dipastikan akan berakhir tewas mengenaskan!”
Grid mendengus sinis. “Hentikan ratapan kepasrahan kotormu itu, Toban. Bagaimana bisa sesosok legenda sepertiku tewas terkapar di lembah terpencil seperti ini?”
“Grid...”
Dalam hitungan detik, set lengkap zirah putih Holy Light Armor beserta sarung tangan zirah dan mahkota perak di kepala Grid telah terpasang anggun menyelimuti tubuhnya, didukung genggaman erat bilah hitam raksasa Dainsleif di tangan kanannya. Wibawa kegagahan ksatria suci yang dipancarkannya seketika menyodorkan secercah harapan di mata Toban.
*Benar juga... Grid adalah sesosok monster petarung yang sesungguhnya!*
Pemuda di depannya ini sukses melumpuhkan perlawanan kombinasi Asuka, Black Teddy, Box, serta dirinya sekaligus dalam duel di hutan kemarin. Meskipun level karakternya tergolong rendah, wibawa kelas legendarisnya menempatkannya di kasta pemain terkuat di Satisfy saat ini. Toban meyakini peluang memenangkan pertempuran menghadapi serbuan Griffon ini masih terbuka lebar jika dibantu kekuatan Grid.
“Grid! Segera layangkan perintah tempurmu kepadaku!”
Karena dirinya telah menyepakati status sebagai budak pribadi Grid, Toban bersumpah akan mendedikasikan perannya sebagai tameng pelindung terkuat di garis depan! Dia bersiap siaga penuh menerima komando Grid. Namun Grid justru melemparkan sepotong jubah merah kusam Malacus' Cloak tepat ke arah wajahnya.
“Segera kenakan jubah amis darah itu ke tubuhmu. Lalu berlarilah secepat mungkin.”
“...?”
Toban mematung kebingungan tidak memahami maksud komando Grid. Berlari mengenakan Malacus' Cloak? Bukankah aroma amis darah dari jubah tersebut otomatis akan memosisikan dirinya sebagai magnet target utama serbuan paruh tajam kawanan Griffon? Untuk tujuan konyol apa Grid memintanya mengenakan jubah tersebut jika tujuannya meloloskan diri dari kepungan?
Grid berteriak kesal menatap kelemotan berpikir budaknya. “Apa isi kepala pelindungmu terlampau sempit untuk membaca taktikku? Sederhana saja: tugas utamamu hari ini adalah bertindak sebagai umpan hidup!”
“Umpan hidup?!”
Toban refleks meragukan pendengarannya. Dirinya selaku manusia asli yang memeluk kepekaan intelijen tertinggi di planet bumi, nekat diposisikan tak lebih dari sekadar umpan pancingan bagi gerombolan monster liar?!
“Apa kau benar-benar serius dengan perintah gila ini, Grid?!”
Grid menyahut ketus. “Memangnya wajahku terlihat layaknya sedang merancang lelucon di depanmu? Ini adalah komando resmi majikanmu.”
“Tidak masuk akal! Memaksa seorang pemain bertindak sebagai umpan pancingan bagi monster merupakan pelanggaran hak asasi pemain Satisfy! Tindakanmu sangat menyalahi nilai etika bermain!”
“Persetan dengan nilai etika bermainmu! Hak istimewa apa yang dimiliki seorang budak kotor untuk mendengungkan nilai hak asasi di hadapanku? Krisis kepungan puluhan Griffon ini dipastikan akan terurai jika kau bersedia memancing fokus serangan mereka ke arahmu, membebaskanku membantai mereka satu per satu dari arah belakang secara dinamis!”
Logika taktik tersebut harus diakui sangat efektif. Bertarung menghadapi puluhan Griffon secara frontal dipastikan akan berujung pada kematian karakter mereka berdua. Toban hanya bisa meratap pasrah didera keharuan. Beberapa hari lalu dirinya sangat gembira menerima quest SS-grade pertamanya, namun realitasnya hari ini justru menjelma menjadi kutukan maut yang menyengsarakan hidupnya.
“Sialan kau, Grid!”
*Tetes.*
Belakangan ini, frekuensi dirinya ingin menangis di dalam game Satisfy terbukti melonjak sangat tajam akibat ulah Grid. Toban terpaksa mengenakan Malacus' Cloak ke tubuhnya. Seketika itu juga, aroma amis darah pekat mengalir membasahi seisi ngarai, menyedot perhatian serta fokus amarah kawanan Griffon di langit lurus ke arah posisinya berdiri.
*Kieeeeek!*
Kawanan Griffon yang dibekali agresi liar setara dengan orc liar tersebut seketika melepaskan pekikan gembira mendeteksi aroma hidangan amis darah segar di bawah mereka. Barisan paruh baja tajam mereka menukik lurus mengincar kepala Toban.
“Hadapi tamengku, kawanan burung sialan!”
Toban memosisikan tameng besinya ke depan menghadang serangan menukik pertama.
*Trang!*
Dampak benturan fisiknya terasa sangat masif, memaksakan langkah kaki Toban terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Memanfaatkan celah kelengahan pertahanan Toban, seekor Griffon berukuran raksasa mengepakkan sayapnya kencang merilis badai gelombang angin pelumpuh posisi, dilanjutkan dengan satu sabetan cakar kaki yang sangat tebal.
“Ugh?! Gawat!”
Toban terhuyung kehilangan keseimbangan akibat hempasan gelombang angin. Cakar tajam Griffon raksasa tersebut meluncur deras menyasar dadanya yang tanpa pelindung tameng.
*Sialan!*
Akibat hempasan angin tersebut, Toban bahkan tidak sempat memosisikan tameng besinya untuk memblokir serangan. Menerima sabetan cakar tajam berukuran raksasa tersebut tanpa pelindung dipastikan akan menguras habis stat HP-nya secara instan. Terlebih lagi, mengapa densitas kekuatan Griffon yang satu ini terasa berkali-kali lipat lebih mematikan dibandingkan Griffon lainnya? Toban bergegas melirik nama target di atas kepala sang predator, lalu menyemburkan makian kasarnya.
“Sialan! Burung raksasa ini ternyata merupakan monster bos lapangan?!”
Tebakannya 100% akurat. Sesosok Griffon raksasa yang memimpin serbuan 22 ekor Griffon di lembah tersebut merupakan bos lapangan Level 290 bernama **Griffon Captain** (Kapten Griffon).
“Wahai dewa, untuk dosa apa kau nekat menguji nasibku sekejam ini?!” teriak Toban histeris.
Menerima serangan cakar yang tidak mungkin dihindari tersebut, Toban bergegas menenggak potion pemulihan HP instan sembari merapalkan buff pertahanan daruratnya, lalu memejamkan matanya pasrah menanti perihnya robekan cakar. Namun tepat di saat cakar tajam tersebut hampir menyentuh zirahnya, siluet Grid mendadak menyembul cepat di belakang punggung Kapten Griffon, meluncurkan tebasan pedang pamungkas Pagma's Swordsmanship, Kill secara presisi ke arah celah sayapnya.
*Blarrr!*
**[Critical Hit!]** **[Opsi pasif dari Holy Light Gloves diaktifkan secara otomatis, memicu skill 5-Joint Attacks (5 Serangan Gabungan) secara beruntun ke arah target.]**
Damage dasar dari skill Kill Level 1 menyodorkan daya rusak sebesar 1.500% dari total Attack Power fisik pengguna, sedangkan kelulusan Kill Level 2 mendongkrak daya rusaknya menjadi sebesar 1.800% secara mutlak. Terlebih lagi, Grid baru saja menggelontorkan tambahan 200 poin stat yang diperolehnya dari kematian Paus sepenuhnya ke dalam stat Strength fisiknya. Ditambah lagi dengan restu berkat perang Dewa Dominion pada kepingan pavraniumnya yang mendongkrak total damage serangannya.
Namun akumulasi daya rusaknya tidak berhenti di situ saja.
Di detik pertempuran ini, Dainsleif mendeteksi keberadaan 23 ekor kawanan Griffon di lembah sebagai musuh aktif. Memicu aktifnya opsi tambahan +345 Attack Power fisik bawaan pedang raksasa hitam tersebut, dipadukan dengan buff penguat stat Blacksmith's Rage serta damage 1.800% tebasan Kill, menyajikan ancaman kematian yang sangat nyata bagi monster bos sekalipun.
Ditambah dengan keberuntungan terpicunya serangan kritis (*critical hit*) serta combo 5 kali tebasan beruntun dari sarung tangan legendaris Holy Light Gloves. Total damage yang dihasilkan terbukti melampaui logika nalar akal sehat sistem Satisfy.
**[Anda menghasilkan 284.000 poin damage.]**
*Batas HP maksimal Paus Drevigo kemarin bukankah murni berkisar di angka 300.000 poin saja?*
Grid terbelalak kaget membaca barisan notifikasi damage yang terpampang di layarnya.
*Kieeeeek...!*
Satu tebasan tunggal. Kapten Griffon menderita hantaman damage yang terlampau dahsyat dalam satu kali sabetan pedang raksasa Grid, menyebabkannya seketika ambruk terkapar ke tanah batu dengan kondisi sisa HP kritis. Toban yang menyaksikan pemandangan tersebut murni melongo lebar dengan sepasang mata melotot ke arah Grid. “Grid... kapasitas damage gila macam apa yang baru saja kau lepaskan tadi?! Jangan katakan padaku kau sengaja menyembunyikan sisa kekuatan mengerikanmu ini sepanjang duel melawan rombongan Box kemarin?!”
Kekuatan tersembunyi kelas legendaris rupanya memendam potensi yang jauh lebih mengerikan dari bayangannya selama ini.
Grid menyahut dengan raut wajah datar yang tenang. “Bukan seperti itu realitasnya. Tebasan barusan murni terjadi karena faktor keberuntungan belaka.”
Padahal di dalam hatinya, Grid sendiri dirundung keterkejutan yang jauh lebih masif dibandingkan Toban.

