Dunia Satisfy sedang digemparkan oleh berita hangat.
Seluruh guild ternama di benua sedang bergerak aktif mencari keberadaan sosok pandai besi misterius yang identitasnya tersembunyi. Di berbagai media komunitas game dan internet, kemunculan anak panah rating Epic pertama menjadi topik pembicaraan teratas. Siapakah sosok pengrajin berbakat dan berpotensi besar yang belum memiliki nama dan reputasi tersebut?
Banyak orang yang mulai melakukan investigasi untuk mencari tahu keberadaannya.
*Menempuh jalan pandai besi adalah jalan tersulit di game ini. Aku selalu mengerahkan seluruh kemampuanku. Namun, bagaimana bisa ada orang yang memiliki keahlian melebihi diriku saat ini?*
Panmir sendiri sepanjang kariernya baru berhasil membuat equipment rating Epic sebanyak dua kali. Ia memegang rekor sebagai pemain pertama yang berhasil membuat item Epic. Namun, dalam detail deskripsi item buatannya pun, sistem tidak pernah mencantumkan gelar 'pengrajin' (*artisan*). Siapakah sosok yang dianugerahi gelar pengrajin oleh sistem tersebut, gelar yang bahkan tidak bisa diraih oleh pandai besi peringkat pertama global sepertinya?
*Teng! Teng!*
Rasa persaingan yang kuat mendorong Panmir untuk menempa besi lebih giat demi bisa melampaui sang pandai besi misterius.
Di sisi lain, Shin Youngwoo, sosok yang sedang menjadi pusat perhatian dunia tersebut, sedang asyik menikmati mie instan cup di sebuah toko kelontong sebelum berangkat kerja.
"Sialan, mie instan cup begini saja harganya sudah 1.000 won? Apa pemilik toko ini ingin orang miskin sepertiku mati kelaparan? Cih, hidup di zaman sekarang benar-benar kejam jika tidak punya banyak uang."
Aku terus menggerutu sembari menyeruput kuah mie instan.
* * *
Pukul 5:30 pagi.
Meskipun hari Minggu, kantor penyalur tenaga kerja harian di kotaku sudah dipenuhi oleh para pencari kerja. Zaman di mana para mahasiswa rela mengantre demi mencari pekerjaan kasar tampaknya sudah berakhir. Pemuda masa kini enggan bekerja kasar! Lapangan pekerjaan kini didominasi oleh pekerja asing, membuat masa depan ketenagakerjaan negeri ini terasa suram.
*Aduh, kepalaku pusing sekali.*
Aku masih belum terbiasa dengan aroma pekat asap rokok dan alkohol yang menguar dari para pekerja paruh baya di sekelilingku pagi-pagi begini.
"Aku ingin segera mendapatkan pekerjaan hari ini agar bisa pulang istirahat cepat."
Di tengah lamunanku, sesosok pria mengenakan seragam kontraktor berseru lantang ke arah kerumunan.
"Butuh empat orang pekerja lapangan untuk proyek Gedung Shinwoo!"
Pekerjaan kasar di lokasi konstruksi umumnya meliputi bersih-bersih area proyek, memindahkan tumpukan batuan dan kayu, serta menyekop pasir. Pekerjaan fisik yang sangat menguras tenaga dan membuat tubuh kotor terkena debu proyek, namun aku sudah sering melakukannya. Tanpa ragu, kuangkat tanganku tinggi-tinggi.
"Sini! Aku... Uhuk!"
Mendadak seorang pekerja paruh baya beraroma alkohol mendorong perutku keras ke belakang! Tubuhku terdorong ke sudut ruangan, membuatku melewatkan kesempatan terpilih untuk proyek konstruksi tersebut.
"Orang-orang egois! Seharusnya mereka memberikan kesempatan kepada anak muda yang sedang kesulitan keuangan ini terlebih dahulu!"
Di saat aku sibuk menggerutu kesal, seorang pria paruh baya lainnya yang mengenakan kaos lengan pendek kembali berseru. "Butuh tiga orang asisten pemasang ubin. Harus yang sudah berpengalaman!"
Pekerjaan asisten ubin bertugas mendampingi tukang ubin utama untuk mengangkat material ubin, semen, dan pasir. Pekerjaan mengangkat ubin ini sebenarnya cukup merepotkan karena harus ekstra hati-hati agar ubinnya tidak pecah, namun upahnya terhitung lumayan.
Kuangkat tanganku kembali. "Sini! Aku sudah sering menjadi asisten ubin lebih dari 10 kali... Ugh!"
Lagi-lagi tubuhku didorong paksa ke sudut ruangan oleh para pekerja yang lebih tua. Aku kembali melewatkan kesempatan karena pria itu memilih tiga orang pekerja lain yang dinilai lebih berpengalaman dibandingkan diriku.
"Ada pekerjaan lain?" "Aku... Aduh!"
Beberapa mandor proyek tampak datang mencari pekerja, namun aku selalu gagal terpilih karena terus disikut oleh para pekerja senior yang sengaja menghalangi jalanku. Tampaknya mereka tidak senang jika jatah pekerjaan mereka direbut oleh anak muda sepertiku.
"Sialan kalian! Kalian akan menyesal telah menyia-nyiakan tenagaku!"
Para pekerja senior itu sengaja memblokir jalanku. Mereka tidak ingin jatah harian mereka berkurang.
*Siapa juga yang mau datang ke tempat pengap ini jika punya pilihan lain? Memangnya kalian pikir aku tidak ingin bekerja di tempat yang lebih nyaman seperti anak muda lainnya? Aku juga butuh uang untuk bertahan hidup sama seperti kalian! Berikan aku jatah pekerjaan harian juga!*
Melihat wajah mereka membuat kekesalanku menumpuk layaknya melihat anjing yang terus menggonggong di depanku. Namun, karena mereka semua adalah orang tua, aku terpaksa menahan amarahku dan kembali duduk pasrah di kursi sudut.
"Fufufu." Kepala kantor penyalur tenaga kerja yang sedang membaca koran di mejanya mendadak melirik ke arahku.
Pria itu tampaknya berusia awal 30-an. Dialah sosok yang mewarisi bisnis kantor penyalur ini dari mendiang ayahnya. Dari setiap 10 kali aku datang ke tempat ini untuk mencari pekerjaan harian, setidaknya tiga kali aku terpaksa pulang dengan tangan kosong. Kepala kantor itu terus memperhatikanku hingga mandor proyek berikutnya datang.
"Butuh satu orang untuk pekerjaan menarik kabel listrik! Tidak butuh pengalaman kerja. Upahnya 110.000 won sehari. Ayo, siapa yang mau cepat!"
Upah yang ditawarkan 20.000 won lebih tinggi dibandingkan upah harian standar pekerja kasar. Namun, anehnya tidak ada satu pun pekerja di ruangan yang mengangkat tangan mereka. Tentu ada alasan kuat kenapa mandor itu berani menawarkan upah setinggi itu.
*Aku tidak akan pernah melupakan penderitaan pekerjaan itu.*
Aku pernah mengambil pekerjaan menarik kabel listrik itu sekali.
Pekerjaannya sebenarnya terlihat sederhana, hanya bertugas menarik kabel listrik berukuran raksasa di sepanjang jalur proyek. Namun, stamina yang terkuras benar-benar berada di luar nalar. Pergelangan tanganku bisa terluka jika salah memegang kabel. Terlebih lagi, kabelnya sangat tebal dan berat.
Hanya menarik kabel saja... namun tanganku sampai melepuh hebat meskipun sudah mengenakan sarung tangan proyek, dan seluruh otot tubuhku terasa nyeri selama dua hari berturut-turut setelahnya.
*Kejadian musim dingin kemarin benar-benar mimpi buruk bagiku.*
Seluruh pekerja di ruangan tampak memalingkan wajah mereka, ada yang pura-pura bersiul, ada pula yang bergegas melangkah keluar ruangan untuk merokok.
"Tidak ada yang mau?" Mandor proyek itu bertanya kembali dengan ekspresi bingung.
Detik berikutnya, salah satu pekerja senior menunjuk ke arahku. "Mandor, pemuda di sudut itu sangat ahli menarik kabel." "Benar! Dia sangat giat bekerja dan memiliki stamina yang luar biasa kuat." "Kudengar dia sudah sering melakukan pekerjaan penarikan kabel listrik. Dia adalah ahlinya!"
*Orang-orang tua sialan!*
Kupelototi mereka agar berhenti mengoceh, namun para pekerja senior itu terus merekomendasikanku agar mandor memilihku. Mandor proyek itu akhirnya menunjuk ke arahku. "Bagus, Nak. Ayo ikut denganku. Wajahmu terlihat sangat meyakinkan."
Jika aku menolaknya saat ini, suasana di ruangan pasti akan semakin memburuk. Aku melirik ke arah kepala kantor meminta bantuan, namun ia justru tersenyum tipis ke arahku. Terpaksa, kuambil ponselku lalu menempelkannya di telinga pura-pura menerima panggilan telepon masuk.
"Ah, iya, halo. Ini Shin Youngwoo... Oh, ada lowongan pekerjaan di tempat proyek lain? Baik, aku akan segera ke sana sekarang..."
*Ddiririring... Ddiririring...*
"......"
Suara nada dering standar dari ponsel di genggamanku mendadak bergema kencang di tengah kepura-puraanku. Sontak seluruh pekerja di dalam ruangan tertawa terpingkal-pingkal hingga meneteskan air mata. Mandor proyek itu ikut tersenyum tipis menatapku. "Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang."
Siapa sebenarnya orang gila yang meneleponku sepagi ini? Di dunia nyata aku hampir tidak pernah menerima panggilan telepon dari siapa pun. Kenapa panggilan ini harus masuk di saat yang sangat tidak tepat? Kutatap layar ponselku lalu bergegas mengangkatnya setelah melihat ID peneleponnya. Suara yang sangat kuhalau mendadak terdengar dari seberang telepon.
*(Halo, Pelanggan Shin Youngwoo. Kami dari Layanan Keuangan Mother's Heart is Happy. Kami hanya ingin mengingatkan jika batas waktu pembayaran bunga pinjaman Anda adalah besok hari, Anda tidak melupakannya, kan?)*
"...Sudah jatuh tempo?"
*(Jika Anda lupa membayar, tentu Anda tahu konsekuensinya, kan?)*
"T-Tentu saja tidak. Aku mengerti. Aku akan menyiapkan uangnya besok."
*(Terima kasih atas kerja samanya, Debitur... maksud kami Pelanggan. Semoga hari Anda menyenangkan. Mother's Heart is Happy berharap Anda selalu tersenyum hari ini~)*
Panggilan terputus.
*Sialan.*
Kesenanganku bermain game membuatku melupakan kenyataan pahit jika diriku adalah seorang debitur yang terlilit utang. Aku harus bekerja keras demi bisa membayar bunga pinjaman tersebut besok. Pekerjaan menarik kabel listrik yang berat ini terpaksa kuambil demi bisa keluar dari jerat utang ini.
"Mandor... Apa Anda benar-benar akan membayarku 110.000 won hari ini?"
"Tentu saja!"
"Apa itu janji?"
"Ya! Aku juga akan menjamin jatah makan siangmu nanti!"
Hari itu aku benar-benar merasakan siksaan neraka dunia proyek. Malam harinya—
"K-Kakak?" Sehee terbata-bata menatap kondisiku yang compang-camping saat melangkah masuk ke dalam rumah. Aku langsung ambruk jatuh telentang di lantai teras sebelum sempat melepaskan sepatuku.
"Sial... Mandor pelit itu... Dia membayarku penuh namun hanya memberiku roti krim murahan untuk makan malam... Tanpa memberi susu sama sekali! Mana ada orang waras yang tega memberi makan roti krim kering tanpa susu di dunia ini! Ugh... Aku harus segera login... Anak panah buatanku... harus segera terjual..."
Kesadaranku hilang setelah mengucapkan kalimat tersebut karena aku langsung tertidur lelap akibat kelelahan luar biasa.
* * *
Saat terbangun kembali, seluruh persendian tubuhku terasa sangat kaku layaknya tertimpa lempengan baja. Kuperiksa layar ponselku dengan susah payah untuk melihat jam. Pukul 5:20 pagi.
"Gawat!"
Aku sudah terlambat jika memperhitungkan jarak tempuh menuju kantor penyalur tenaga kerja. Terburu-buru kuganti pakaian kerjaku sembari cemas tidak akan mendapatkan jatah pekerjaan hari ini. Jika aku datang terlambat, kejadian disikut pekerja senior seperti kemarin pasti akan terulang kembali.
"Aku pergi sekarang!"
Setelah membayar bunga pinjaman kemarin, sisa saldo di tabunganku hanya tinggal 9.220 won. Aku harus segera mengumpulkan uang untuk membayar biaya sewa bulanan kapsul game minggu depan. Tepat saat aku hendak melangkah keluar pintu teras, ibuku menghampiriku lalu menepuk pundakku lembut. "Sarapan dulu, Nak."
"Aku tidak sempat, Bu. Aku sudah sangat terlambat," jawabku tergesa-gesa.
"Youngwoo," ibuku memanggil namaku dengan nada bicara yang sangat serius. Tubuhku refleks menciut cemas. Kupikir ia akan mulai mengomeliku kembali. Ibuku tahu betul detail utangku. Ia sangat sedih melihatku kecanduan game hingga mengabaikan kuliahku demi bermain game. Kesedihan mendalam karena melihat putranya terlilit utang di usia muda.
Namun saat kutatap wajahnya, pandangan mata ibuku terlihat sangat tenang dan penuh kasih sayang.
"Makanlah dulu," ucapnya lembut.
"T-Tapi kenapa? Aku harus segera pergi ke kantor penyalur..."
Pintu kamar mendadak terbuka dan ayahku melangkah keluar. Ayah duduk di meja makan sembari membuka koran paginya lalu berucap pelan. "Beristirahatlah hari ini."
"Istirahat? Apa maksud Ayah?"
*Uhuk! Uhuk!* Ayah hanya terbatuk pelan tanpa menjawab pertanyaanku lalu kembali fokus membaca koran.
Ibuku berbisik lembut di telingaku. "Kemarin malam kamu pulang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Ayahmu sangat cemas melihat keadaanmu hingga ia sendiri yang menggendongmu masuk ke dalam kamar tidur."
"Eh?"
"Kami adalah orang tuamu. Kami tidak ingin melihat putra kami menderita kelaparan dan kelelahan seperti itu. Kemarin kamu sudah bekerja sangat keras. Hari ini beristirahatlah di rumah."
"Ibu..." Dadaku terasa sesak dipenuhi rasa haru menatap ketulusan kasih sayang orang tuaku meskipun aku sudah sering membuat mereka kecewa sepanjang tahun ini.
Sehee melangkah keluar dari kamarnya sembari menguap pelan lalu menyodorkan lembaran koyo penghilang rasa sakit ke tanganku.
"Tempelkan ini di punggungmu. Kemarin Kakak sudah bekerja sangat keras, kan?"
"Sehee..."
*Keluarga yang benar-benar luar biasa!*
Kupeluk erat tubuh ibuku dan Sehee sembari menahan tangis haru di dadaku.
Kupikir aku sendirian berjuang di dunia yang kejam ini, namun ternyata aku memiliki keluarga yang sangat hangat di sisiku. Mereka memperlakukanku layaknya malaikat meskipun aku adalah putra dan kakak yang tidak berguna bagi mereka. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga ini.
"A-Apa ini? Kenapa Kakak mendadak memelukku erat begini? Pelukan Kakak rasanya hangat... Eh, tidak! Ini sangat aneh!" Sehee menggerutu canggung sembari membalas pelukanku pelan, sedangkan ibuku terus mengelus rambutku lembut. Setelah itu, kulepaskan pakaian kerjaku lalu duduk di meja makan menikmati hidangan sup iga sapi buatan ibu yang sudah berbulan-bulan tidak kurasakan kelezatannya.
"Ayah, kalau begitu apa Ayah bisa melunasi sisa utangku?"
*Takk!* Ayah yang sejak tadi makan dengan tenang mendadak melempar sendok makannya tepat mengenai dahiku. Aku berteriak kesakitan sembari mengusap dahiku yang memar, sementara ibuku mendecakkan lidah lalu memberikan sendok makan baru untuk ayah.
"Bukankah sudah sering kukatakan? Kami ingin kamu belajar mandiri. Usiamu sudah 26 tahun. Kamu harus bertanggung jawab penuh atas segala tindakan dan keputusan yang kamu ambil sendiri."
Suasana kehangatan meja makan tadi seketika lenyap dalam sekejap akibat bualanku. Di saat aku sibuk mengusap dahiku, ayah menyodorkan sebuah amplop cokelat ke arahku.
Ayah berkata pelan. "Ini uang jajan untukmu hari ini. Karena kami yang memintamu beristirahat di rumah hari ini, kami tidak ingin kamu mengalami kerugian finansial."
"Ayah..." Aku terharu menatap ketulusan ayahku yang biasanya bersikap kaku namun ternyata sangat memedulikanku hari ini. Dengan senang hati kuterima amplop pemberiannya.
*Berapa isinya?*
Kuraba ketebalan lembaran uang di dalam amplop menggunakan jemariku. Isinya terasa agak tipis. Saat kuintip ke dalam amplop, hanya ada tujuh lembar uang kertas di dalamnya. Rasa kecewa merayap di dadaku. Kuberucap pelan. "Ayah... upah harian paling minim untuk pekerja kasar saat ini setidaknya berkisar di angka 90.000 won..."
Ayah menatapku dengan pandangan menyesal. "Hah... benarkah? Maaf, hanya itu uang tunai yang kupegang saat ini. Terimalah seadanya."
Ia memberi isyarat agar aku tidak menuntut sisa kekurangannya nanti. Aku lupa jika ayahku adalah orang yang sangat hemat jika menyangkut pengeluaran uang belanja. Jika ia membeli satu porsi ayam goreng, ia menuntut keluarga kami harus bisa membaginya untuk tiga kali makan.
Terpaksa kuterima uang saku 70.000 won tersebut dengan lapang dada.
"Setidaknya ini jauh lebih baik daripada tidak diberi sama sekali."













