Chapter 117: Suatu Hari Nanti, Bunga Plum Akan Mekar di Seluruh Dunia (2)
Chung Myung mendaki Lotus Peak dan menatap ke arah langit dalam keheningan yang tenang.
Ia saat ini sudah tidak lagi memiliki kebutuhan khusus untuk menyembunyikan keahlian bela dirinya dari pandangan orang lain. Namun latihan keras di tempat ini telah berubah menjadi sebuah kebiasaan yang melekat erat hingga ia hanya merasa tenang ketika sedang berada di area puncak Lotus Peak.
Setelah menatap ke arah langit untuk waktu yang cukup lama, Chung Myung memalingkan kepalanya menatap ke arah hamparan pegunungan Gunung Hua yang terpampang nyata di bawah kakinya berdiri.
"Hmm."
Ia telah berhasil melintasi satu buah gunung yang terjal.
Meskipun begitu, ia sama sekali belum merasa puas sedikit pun saat ini.
"Jalan di depan masih teramat sangat panjang sekali."
Meskipun ia menyadari dengan sangat baik bahwa sifat tidak sabaran hanya akan mendatangkan bencana bagi pendekar bela diri, entah mengapa bagian hatinya perlahan-lahan mulai memelihara rasa cemas yang tipis.
Bukannya kecepatan perkembangan dari para murid generasi ketiga berjalan dengan sangat lambat selama ini.
Jika mereka terus berlatih secara konsisten seperti ini ke depannya nanti, mereka suatu hari nanti di masa depan dipastikan kelak pasti akan tumbuh menjadi barisan master tangguh yang tidak akan berani diabaikan oleh siapa pun di bawah langit.
Meskipun begitu, kejayaan luar biasa tersebut adalah wujud masa depan yang masih berada di tempat yang sangat jauh belaka dari jangkauan mereka saat ini.
Kenyataan fisik dari Gunung Hua saat ini masih tidak lebih dari sekadar sebuah sekte lemah yang gersang dan bersahaja di bawah langit.
"Jadi seperti inilah wujud dari memikul tanggung jawab memimpin sebuah sekte."
Rasanya seolah-olah ada sebuah beban tanggung jawab yang sangat berat sedang bertengger kokoh di atas kedua belah pundaknya sepanjang waktu seutuhnya.
Saat ini, setiap kali ada masalah kecil yang terjadi di dalam sekte, para murid secara insting dipastikan kelak pasti akan memalingkan pandangan mata mereka menatap ke arah Chung Myung seutuhnya.
Hal yang sama sebenarnya telah terjadi berulang kali sepanjang hidupnya di masa lalunya dahulu. Namun ada sebuah perbedaan yang sangat jelas di antara tatapan mata penuh ekspektasi yang dilayangkan oleh saudara-saudara seperguruannya di masa lalu dengan tatapan mata yang dilayangkan oleh saudara-saudaranya saat ini seutuhnya.
"Pekerjaan memimpin sekte ini dipastikan telah berjalan dengan sangat berat bagimu di masa lalu, Sahyung."
Mendorong dari arah belakang pundak dari orang yang sedang memimpin di barisan depan tidaklah terlalu sulit untuk diselesaikan.
Meskipun begitu, bahkan jika ada orang yang terus mendorong dari arah belakang sekalipun, memimpin pergerakan semua orang melangkah maju ke depan adalah sebuah pekerjaan yang luar biasa sulitnya untuk diselesaikan sepanjang hidup manusia seutuhnya.
Di masa lalunya dahulu, Chung Myung selalu memelihara pemikiran arogan bahwa dirinyalah sosok tunggal yang sedang memimpin pergerakan Gunung Hua melangkah maju di bawah langit.
Nama kehormatan dari Gunung Hua yang paling tersohor di seluruh penjuru dunia fana di masa lalu tidak diragukan lagi adalah Plum Blossom Sword Saint seutuhnya, dan wujud keberadaan dari sang Plum Blossom Sword Saint lah yang telah berhasil membangun wibawa kejayaan Gunung Hua sepanjang sejarah Murim.
Meskipun begitu, apakah Chung Myung di masa lalu benar-benar telah memimpin pergerakan Gunung Hua dengan benar?
'Tentu saja tidak.'
Sebuah rasa perih yang tipis merayap memenuhi bagian dadanya saat ini.
Jika saja ia di masa lalu telah memahami dengan sangat jelas apa yang ia ketahui saat ini, maka takdir kejayaan Gunung Hua di masa lalu mungkin akan berjalan dengan wujud yang sama sekali berbeda seutuhnya kelak.
Bukan hanya para keturunan Gunung Hua saat ini saja, melainkan saudara-saudara seperguruannya di masa lalu dipastikan tidak akan perlu berakhir dengan nasib tragis semacam itu seutuhnya kelak.
Bahkan bagi mereka yang saat itu melangkah dengan sangat tenangnya menuju ke medan pertempuran meskipun mengetahui dengan sangat jelas bahwa mereka sedang berjalan menuju ke arah gerbang kematian mereka sendiri seutuhnya.
"Pikiran tidak berguna."
Chung Myung dengan cepat menggelengkan kepalanya menepis seluruh lamunan buruk tersebut seutuhnya.
Semua kisah tragis itu hanyalah merupakan bagian dari lembaran sejarah masa lalu yang telah terlanjur berlalu seutuhnya sepanjang waktu.
Apa yang paling penting saat ini bukanlah membiarkan diri sendiri terperangkap di dalam rawa masa lalu, melainkan menggunakan sejarah masa lalu tersebut sebagai pupuk berharga untuk menjalani kehidupan di masa kini dengan sebaik-baiknya.
Dan untuk terus melangkah maju menuju ke arah masa depan yang jauh lebih cerah dan indah kelak.
Untuk melakukan hal tersebut……
"Lebih dari segalanya, aku sendiri wajib tumbuh menjadi jauh lebih kuat lagi melampaui batas kekuatanku saat ini."
Hanya dengan metode itulah ia kelak pasti akan mampu menghindari tragedi kehilangan segala sesuatu yang berharga di sekelilingnya seperti yang terjadi di masa lalunya dahulu seutuhnya.
Chung Myung menyadarinya dengan sangat jelas.
Dunia persilatan Murim adalah sebuah tempat yang teramat sangat kejam dan tidak memiliki belas kasihan sedikit pun sepanjang waktu seutuhnya.
Nilai keadilan? Tentu saja hal mulia semacam itu benar-benar eksis di dunia persilatan.
Nilai kesetiaan? Hal mulia semacam itu tentu saja juga benar-benar eksis di sana.
Meskipun begitu, seluruh nilai keadilan dan kesetiaan mulia tersebut tidak lebih dari sekadar hak istimewa yang hanya bisa dilayangkan oleh pihak yang kuat kepada pihak yang lemah saja sepanjang waktu seutuhnya.
Mereka yang tidak memiliki kekuatan mutlak di tangannya bahkan tidak akan pernah diberikan kesempatan terkecil pun untuk mempraktikkan nilai keadilan di dunia persilatan, dan mereka sama sekali tidak memiliki hak apa pun untuk sekadar membicarakan nilai kesetiaan di depan umum.
Para murid Gunung Hua saat ini kemungkinan besar memelihara pemikiran bahwa mereka telah merasakan seberapa kejamnya dunia persilatan yang sesungguhnya di sepanjang perjalanan hidup mereka selama ini.
Mereka dipastikan mengira telah mengalami penderitaan berat yang tiada akhirnya di sepanjang masa-masa kemerosotan sekte Gunung Hua selama ini.
Meskipun begitu, asumsi semacam itu sama sekali tidak benar adanya seutuhnya.
Segera di masa depan nanti, mereka kelak pasti akan memahaminya sendiri seutuhnya.
Mereka selama ini sebenarnya terus dilindungi dengan sangat amannya oleh struktur tebing terjal Gunung Hua ini, dan oleh seluruh pencapaian luar biasa yang telah diselesaikan oleh Gunung Hua di masa lalu.
Meskipun begitu, masa perlindungan nyaman tersebut dianggap telah resmi berakhir hari ini seutuhnya.
Segera di masa depan nanti, Gunung Hua dipastikan kelak pasti harus mulai melangkahkan kaki mereka maju melangkah ke seluruh penjuru dunia persilatan luar seutuhnya.
Detik di saat hari bersejarah itu benar-benar tiba nanti, mereka kelak pasti akan berhadapan langsung secara nyata dengan kejamnya dunia persilatan Murim yang sesungguhnya, jenis kekejaman luar biasa yang belum pernah mereka saksikan sekali pun di sepanjang hidup mereka selama ini.
'Aku sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk memanjakan mereka di bawah ketiak perlindunganku kelak.'
Meskipun begitu, detik di saat waktu sulit itu benar-benar tiba nanti, ia wajib membangun sebuah tempat perlindungan yang kokoh di mana mereka semua kelak pasti akan bisa menaruh rasa percaya penuh dan bersandar dengan amannya sepanjang waktu.
Apakah tempat perlindungan kokoh yang dimaksudkannya kelak adalah wujud dari kekuatan Chung Myung sendiri atau wujud kekuatan dari Sekte Gunung Hua secara keseluruhan kelak.
Chung Myung menempatkan dirinya duduk bersila di atas tanah kotor area puncak.
Ia secara perlahan memejamkan kedua belah matanya rapat-rapat dan mulai memusatkan fokus pikirannya menatap ke arah bagian dalam tubuh fisiknya sendiri seutuhnya.
Ia bisa merasakannya dengan sangat jelas saat ini.
Area Dantian di dalam tubuhnya saat ini telah tumbuh berkembang hingga mencapai ukuran sebesar buah kuncup yang kecil seutuhnya.
Jika dibandingkan dengan total energi internal luar biasa yang dimilikinya di masa lalunya dahulu, kadar energi internalnya saat ini masih terlihat layaknya setetes air belaka di tengah-tengah hamparan lautan yang luas.
Meskipun begitu, kadar energi tersebut terbukti terus tumbuh berkembang secara nyata sepanjang waktu.
Perkembangan yang berjalan dengan sangat lambat namun pasti seutuhnya, persis seperti apa yang diinginkannya sejak awal mula, langkah demi langkah seutuhnya.
Ilmu bela diri asli milik Gunung Hua adalah wujud dari Seni Ortodoks yang sejati di bawah langit.
Itu adalah sebuah seni bela diri yang jujur di mana seorang pendekar hanya akan mampu mendaki hingga ke puncak tertinggi keahlian bela diri dengan cara mendaki tebing terjal pegunungan menggunakan kedua belah kaki mereka sendiri secara nyata sepanjang waktu seutuhnya.
Sama sekali tidak ada jalan pintas yang instan di dalamnya kelak.
Hanya ada langkah kaki nyata yang konsisten melangkah dari satu langkah ke langkah berikutnya sepanjang waktu tanpa mengenal kata lelah sedikit pun seutuhnya.
'Aku dipastikan kelak pasti akan tumbuh menjadi jauh lebih kuat lagi melampaui batas kekuatanku saat ini.'
Bukan sebagai sosok Plum Blossom Sword Saint di masa lalunya dahulu, melainkan sebagai wujud Chung Myung di kehidupannya saat ini.
Ia dipastikan kelak pasti akan tumbuh menjadi jauh lebih kuat dan jauh lebih kuat lagi melampaui batas kemampuannya sepanjang waktu.
Dan suatu hari nanti di masa depannya kelak, ia dipastikan pasti akan tumbuh menjadi jauh lebih kuat melampaui batas kekuatan dari sosok 'Heavenly Demon' tersebut seutuhnya.
Sebuah perjalanan hidup tanpa adanya batas akhir untuk mengejar kesempurnaan jalan bela diri yang sejati di bawah langit.
Chung Myung secara perlahan mengangkat kepalanya menatap ke arah langit yang luas.
- Apakah tebasan bunga Plum milikmu telah berhasil mekar dengan sempurnanya saat ini, Chung Myung?
Sudut mulut Chung Myung melengkung membentuk senyuman tipis seutuhnya.
"Belum saatnya."
Meskipun begitu……
"Suatu hari nanti di masa depan, mereka dipastikan kelak pasti akan mekar dengan sangat indahnya kelak."
Detik di saat tebasan bunga Plum miliknya sendiri benar-benar mekar dengan sempurnanya dari ujung pedang Chung Myung suatu hari nanti di masa depannya kelak.
Bukan hanya wilayah pegunungan Gunung Hua saja, melainkan seluruh penjuru dunia fana di bawah langit dipastikan kelak pasti akan diselimuti oleh aroma keharuman yang sangat mendalam dari guguran kelopak bunga Plum merah pekat seutuhnya.
Chung Myung melompat bangkit berdiri tegak dari posisi duduknya.
"Sama sekali tidak ada hal yang perlu Anda cemaskan di surga sana, Sahyung Pemimpin Sekte."
Chung Myung menyeringai lebar seutuhnya.
"Pendekar yang sedang berdiri di hadapan dunia persilatan saat ini tidak lain adalah diriku sendiri, Chung Myung."
Itu adalah kalimat janji khidmat yang ditujukan khusus untuk memperkuat tekad di dalam dirinya sendiri seutuhnya.
Chung Myung melangkah berjalan perlahan menuruni area pegunungan kembali.
"Hm?"
Sembari ia melangkah berjalan menuruni area pegunungan, hidung Chung Myung mendadak menangkap aroma keharuman samar dari kelopak bunga prem yang tertiup angin dari suatu tempat, memicu senyuman tipis mekar di wajahnya seutuhnya.
"Musim semi akhirnya telah tiba rupanya."
Kelopak bunga prem sedang mekar dengan indahnya di sekeliling pegunungan saat ini.
Dengan aroma keharuman bunga prem yang membelai lembut lubang hidungnya, Chung Myung berjalan menuruni area pegunungan dengan langkah kaki yang terasa sedikit lebih ringan seutuhnya dari sebelumnya.
Dan dari arah belakang badannya, tebing terjal Gunung Hua tampak berdiri kokoh dalam keheningan menyaksikan kepergian sosok punggung Chung Myung seutuhnya.
Sembari Gunung Hua, yang sedang merangkul keberadaan Chung Myung di dalam dadanya, mulai mempersiapkan kelahiran dari sebuah perubahan takdir kejayaan yang baru bagi sekte mereka, jalannya waktu terus mengalir tenang tanpa memedulikan emosi manusia sedikit pun seutuhnya sepanjang sejarah.
Mekar dan layu, kemudian kembali mekar dan layu sepanjang waktu.
Sebuah aliran waktu yang berjalan cukup lama hingga kelopak bunga prem di sekitar pegunungan sempat mekar sebanyak dua kali lamanya.
Tahun-tahun berlalu begitu saja layaknya air yang mengalir tenang tanpa adanya hambatan sedikit pun sepanjang waktu seutuhnya.
* * *
Wilayah Shaanxi, Prefektur Hwaeum.
Seorang pria muda dengan membawa sebuah bungkusan barang besar di punggungnya melangkah berjalan memasuki gerbang masuk wilayah Hwaeum, menyelip di antara kerumunan ramai dari orang-orang setempat sepanjang jalan.
"……Apakah tempat yang sangat ramai ini benar-benar merupakan Prefektur Hwaeum yang kukenal dahulu?"
Pria muda tersebut.
Bukan, wujud ekspresi wajahnya saat ini masih terlihat jauh lebih dekat untuk disebut sebagai seorang bocah laki-laki dibandingkan dengan wujud seorang pria dewasa seutuhnya.
Ia melihat ke sekeliling jalanan dengan ekspresi wajah yang dipenuhi kebingungan yang mendalam seutuhnya.
"Tempat ini sudah seharusnya merupakan tempat yang benar."
Pemandangan dari Hwaeum yang sedang disaksikan oleh matanya saat ini terlampau jauh berbeda jika dibandingkan dengan wujud Hwaeum yang tersisa di dalam ingatan lamanya selama ini.
Prefektur Hwaeum yang ia kunjungi di masa lalunya dahulu adalah sebuah wilayah pemukiman bersahaja yang berada di perbatasan di antara sebuah desa kecil dan sebuah kota biasa.
Wilayah tersebut memang dinilai cukup makmur di masa lalu, namun kemakmuran tersebut sama sekali tidak berada dalam tingkatan yang layak untuk dipamerkan di depan umum, meskipun begitu wilayah tersebut juga tidak bisa disebut sebagai sebuah desa yang tertinggal di bawah langit.
Meskipun demikian, pemandangan jalanan yang sedang disaksikan oleh matanya saat ini sama sekali tidak ada bedanya dengan pemandangan dari sebuah pusat kota besar yang sangat sibuk seutuhnya.
Tentu saja jika dinilai berdasarkan skala luas wilayahnya, tempat ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kota-kota metropolitan yang sesungguhnya di bawah langit.
Meskipun begitu, menyaksikan barisan gedung baru yang berdiri dengan begitu bersih dan megahnya di sepanjang kedua belah sisi jalan utama, atau barisan kedai toko yang padat merayap tanpa menyisakan ruang kosong sedikit pun di sepanjang jalanan, rasanya istilah 'prefektur' saja terasa tidak lagi cukup layak untuk menggambarkan tingkat kemakmuran wilayah ini saat ini seutuhnya.
'Apakah aku tidak sengaja melangkahkan kakiku memasuki wilayah yang salah baru saja?'
Pria muda tersebut melihat ke sekeliling jalanan sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri membuka mulutnya berbicara menyapa salah satu pejalan kaki setempat.
"Permisi tuan, apakah wilayah yang sangat ramai ini benar-benar merupakan Prefektur Hwaeum?"
"Apakah hari ini adalah kunjungan pertamamu ke wilayah ini, anak muda?"
"Tidak, ini bukan merupakan kunjungan pertamaku ke mari. Aku sempat singgah di wilayah ini sekali sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun tempat ini saat ini tampaknya telah terlanjur berubah dengan sangat drastisnya seutuhnya dari ingatan lamaku."
Pejalan kaki yang disapanya menyunggingkan senyuman hangat yang tipis di wajahnya.
"Jika kunjungan terakhirmu adalah sepuluh tahun yang lalu, maka sangat wajar bagi dirimu untuk merasa kebingungan seperti saat ini. Bahkan bagi penduduk lokal yang baru meninggalkan wilayah Hwaeum ini selama dua tahun terakhir saja dipastikan kelak pasti akan tersentak kaget saat menyaksikan perubahan drastis kota ini kembali hari ini!"
"Ah…… jadi tempat makmur ini benar-benar merupakan Prefektur Hwaeum rupanya."
"Tentu saja. Tempat ini mungkin terlihat sangat asing bagimu saat ini karena mengalami perubahan yang sangat pesat. Namun tempat ini tidak diragukan lagi adalah wilayah Hwaeum lama yang kau ketahui dahulu."
"Terima kasih atas penjelasan Anda, tuan. Meskipun begitu…… faktor apa sebenarnya yang membuat wilayah ini bisa mengalami perkembangan pesat hingga seperti ini?"
"Faktor apa yang menyebabkannya, kau bertanya? Semua kemakmuran kota ini berhasil dicapai murni berkat kontribusi besar dari keberadaan Sekte Gunung Hua seutuhnya."
"Maaf?"
"Apakah kau sama sekali tidak mengetahui nama besar Gunung Hua? Gunung Hua? Sekte Gunung Hua yang agung!"
"Ah, bukan hal konyol semacam itu maksudku, tuan. Aku tentu saja mengetahui nama baik dari Sekte Gunung Hua."
Pria muda tersebut, Wi Sohaeng, dengan terburu-buru menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan pejalan kaki tersebut.
Di tempat ini saat ini, jika kau berani melontarkan pernyataan di depan umum bahwa kau sama sekali tidak mengetahui nama besar Gunung Hua, kau dipastikan tidak akan lagi diperlakukan sebagai sesosok manusia yang waras oleh penduduk setempat sepanjang hidupmu seutuhnya.
Bagi pandangan mata penduduk lokal setempat saat ini, Gunung Hua bukan lagi sekadar nama dari sebuah sekte bela diri biasa belaka yang kebetulan berlokasi di dekat pemukiman mereka selama ini.
Melainkan telah berubah menjadi simbol kebanggaan utama mereka, harga diri mereka, dan bahkan telah dianggap layaknya keluarga kandung mereka sendiri seutuhnya kelak.
"Kenyataannya adalah, kunjungan pribadiku ke wilayah ini hari ini tidak lain adalah murni bertujuan untuk mengunjungi Sekte Gunung Hua tersebut."
"Oh? Begitukah adanya? Wah, wah, ternyata kau adalah seorang tamu terhormat dari sekte rupanya. Mari, silakan lewat sini. Jika kau memiliki pertanyaan apa pun terkait dengan sekte, silakan tanyakan saja langsung kepadaku. Aku dipastikan kelak pasti akan menjawab seluruh pertanyaanmu dengan senang hati seutuhnya."
Segera setelah mendengar pernyataan bahwa pemuda di depannya saat ini datang jauh-jauh murni bertujuan untuk mengunjungi Gunung Hua, ekspresi wajah dari pria paruh baya tersebut langsung memancar cerah dipenuhi kegembiraan seutuhnya.
"Penjelasan macam apa yang sebenarnya Anda maksudkan baru saja ketika menyatakan bahwa Hwaeum bisa berkembang pesat murni berkat kontribusi dari Gunung Hua?"
"Bukankah jawaban atas pertanyaan tersebut sudah terlanjur sangat jelas terpampang nyata di depan matamu? Kau tentu saja telah mendengar kabar bahwa momentum perkembangan Gunung Hua saat ini berjalan dengan sangat pesatnya layaknya matahari fajar yang sedang membumbung tinggi ke langit! Bahwa nama harum mereka saat ini sedang menyebar ke seluruh penjuru dunia fana di bawah langit, bukan?"
'Tidak juga. Aku selama ini tinggal di wilayah luar Shaanxi, dan aku menyadari dengan sangat jelas reputasi mereka di luar sana sama sekali tidak seindah apa yang kau klaim baru saja.'
Meskipun begitu, ia sama sekali tidak diperbolehkan melontarkan kalimat jujur semacam itu di hadapan pria paruh baya di depannya saat ini.
Pandangan mata dari pria di depannya saat ini seolah-olah menyampaikan pesan bahwa ia bersedia melayangkan satu pukulan keras untuk menghancurkan rahang pemuda tersebut jika ia berani melontarkan kalimat yang meremehkan nama baik Gunung Hua di depannya saat ini juga.
"Y-Ya, tebakan Anda sangat benar, tuan."
"Dan karena momentum perkembangan luar biasa tersebut, jumlah kunjungan dari para pendekar yang datang untuk mengunjungi Gunung Hua mengalami peningkatan yang sangat drastis belakangan ini. Seiring dengan semakin ramainya orang-orang persilatan yang datang berkunjung ke Gunung Hua, secara alami, jumlah pengunjung yang singgah di wilayah Hwaeum kita juga ikut meningkat drastis, dan persis layaknya pemandangan jalanan yang sedang kau saksikan saat ini, tempat ini telah berubah menjadi sangat ramai dan padat merayap, bukan?"
"Benar sekali."
"Di mana ada kerumunan banyak manusia berkumpul, maka aliran uang perak secara alami dipastikan kelak pasti akan mengalir mengikuti pergerakan mereka. Jadi sangat wajar jika Hwaeum kita mengalami perubahan drastis seperti ini saat ini."
"……Perkembangan ini benar-benar berjalan dengan sangat dramatis seutuhnya."
"Hahahaha. Bukankah semua kejayaan indah ini berhasil kita capai murni berkat kontribusi besar dari pihak Sekte Gunung Hua? Kau sendiri juga dipastikan telah mendengar kabar sejarahnya, bukan? Mengenai kejadian dua tahun yang lalu di turnamen Ancestral Flame Conference, di saat Gunung Hua secara resmi dan mutlak berhasil menghancurkan harga diri tinggi dari para bajingan Southern Edge sialan itu."
"Tentu saja aku mengetahuinya."
Kisah sejarah luar biasa tersebut saat ini telah terlanjur diketahui oleh hampir seluruh pendekar di bawah langit seutuhnya.
Sebuah insiden dahsyat di saat Gunung Hua, sekte bela diri yang selama ini dikenal telah runtuh lebur…… bukan, sekte bela diri yang saking lamanya terpuruk hingga namanya hampir terhapuskan sepenuhnya dari ingatan orang-orang Murim selama ini, secara mengejutkan berhasil menghancurkan kekuatan Sekte Southern Edge seutuhnya, sekte agung yang momentum kekuatannya saat itu dikatakan sanggup mengguncang seluruh penjuru dunia fana di bawah langit belakangan ini.
Manusia pada dasarnya selalu memelihara sifat alami yang gemar menikmati kisah kemalangan yang dialami oleh orang lain seutuhnya sepanjang sejarah.
Terlebih lagi, karena insiden dahsyat tersebut merupakan wujud kehancuran mental yang dialami secara resmi oleh sebuah sekte persilatan yang sukses di depan umum, sama sekali tidak ada alasan bagi para pendekar Murim untuk tidak mengunyah informasi menarik tersebut, mencabik-cabiknya, dan menikmati gosip hangat tersebut sepanjang waktu dengan penuh sukacita seutuhnya.
Persis layaknya cara kerja sebuah gosip tanpa kaki yang sanggup berjalan sejauh seribu mil dalam sekejap mata, seluruh detail kejadian menarik di turnamen Ancestral Flame Conference menyebar luas ke seluruh penjuru dunia fana dalam kurun waktu yang sangat singkat seutuhnya.
Kisah menarik itu saat ini bahkan telah terlanjur dibahas berulang kali di berbagai tempat hingga anak-anak kecil yang sedang bermain di sudut jalanan sekalipun dipastikan mengetahui alur ceritanya dengan sangat luar biasa detail seutuhnya.
Insiden tersebut terbukti memegang peranan yang sangat penting sepanjang sejarah hingga orang-orang Murim belakangan ini mulai menjuluki turnamen Ancestral Flame Conference tersebut dengan julukan kehormatan Dragon Fall Conference, sebuah wilayah turnamen di mana seekor naga perkasa yang sedang melesat terbang tinggi ke langit mendadak jatuh lebur menghantam permukaan tanah kotor untuk selamanya.
"Lawan mereka saat itu adalah Southern Edge. Bukan sembarang sekte kecil belaka, melainkan Sekte Southern Edge yang agung. Karena mereka terbukti sanggup memberikan pelajaran penting yang sangat berharga kepada sekte raksasa sekelas Southern Edge di depan umum, menurutmu seberapa tinggi nama harum Gunung Hua telah meroket naik di dunia persilatan saat ini? Aku pribadi bahkan tidak sanggup menghitung lagi berapa banyak jumlah pendekar luar daerah yang datang berkunjung murni bertujuan untuk menemui Gunung Hua sejak hari bersejarah itu berlalu. Mereka mengatakan antrean pendaftaran dari para pemuda yang sangat ingin diterima sebagai murid baru dari Gunung Hua terus mengalir tanpa adanya batas akhir sepanjang waktu."
"Begitu rupanya."
Wi Sohaeng menganggukkan kepalanya pelan seutuhnya.
Tampaknya tidak akan ada seorang pun pendekar di tempat ini saat ini yang akan mampu memahami makna penting di balik kata-kata penjelasan tersebut dengan jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang dipahami oleh Wi Sohaeng sendiri saat ini.
Kenyataan penting yang sesungguhnya adalah ia sendiri rela meluangkan waktunya berjalan jauh-jauh mengunjungi tempat ini murni karena tergiur oleh nama harum Gunung Hua yang belakangan ini terus memancar indah di seluruh penjuru dunia persilatan seutuhnya.
Jika rumor luar biasa tentang turnamen Ancestral Flame Conference dua tahun yang lalu tidak pernah menyebar luas hingga ke wilayah tempat tinggalnya selama ini, Wi Sohaeng dipastikan tidak akan pernah memelihara keinginan terkecil pun di dalam hatinya untuk repot-repot melangkahkan kakinya mengunjungi sekte ini hari ini.
"Hanya saja, ada satu hal kecil yang dirasa cukup mengecewakan di dalam perkembangan mereka belakangan ini."
"Maaf?"
Pria paruh baya tersebut memalingkan pandangan matanya menatap ke arah Gunung Hua dengan ekspresi wajah yang terlihat agak kurang puas seutuhnya.
"Dua tahun waktu berharga telah berlalu sejak hari kemenangan bersejarah tersebut, namun tidak ada pergerakan besar lainnya yang ditunjukkan oleh pihak Gunung Hua belakangan ini. Aku menilai sudah saatnya bagi mereka untuk mulai menunjukkan taring mereka kembali di dunia persilatan saat ini."
"Ah……"
"Yah. Sebuah sekte persilatan yang agung memang tidak diperbolehkan menggerakkan kekuatan mereka secara ceroboh dengan begitu mudahnya di bawah langit. Orang-orang bijak sering mengatakan bahwa seekor Great Peng yang perkasa bersedia mendekam tenang di sarangnya selama seribu tahun lamanya hanya demi bisa menempuh perjalanan jauh sejauh seribu mil hanya bermodalkan satu kepakan sayapnya yang gagah kelak, bukankah begitu? Sekte Gunung Hua milik kita dipastikan sedang berada dalam fase persiapan agung semacam itu saat ini. Ya, aku meyakini memang seperti itulah kenyataan yang sebenarnya kelak."
Itu adalah sebuah argumen penjelasan yang memaparkan rasa kebanggaan yang sangat mendalam dan tidak bisa disembunyikan sedikit pun terhadap wujud keberadaan Sekte Gunung Hua seutuhnya dari dalam dada penduduk lokal tersebut.
Sembari menyaksikan kepribadian heboh pria paruh baya di depannya saat ini, Wi Sohaeng membatin di dalam hatinya bahwa sudah ada terlampau banyak perubahan besar yang terjadi di wilayah ini selama ini.
Bukan hanya wujud penampilan fisik bangunan kotanya saja yang mengalami transformasi secara drastis sepanjang waktu.
Melainkan di masa lalunya dahulu saat ia mengunjungi tempat ini, sangat sulit baginya untuk menemukan tanda-tanda vitalitas kehidupan yang ceria dari raut wajah para penduduk desa setempat selama ini.
Meskipun begitu saat ini, ia bisa merasakan energi kehidupan yang memancar cerah dipenuhi kegembiraan dari raut wajah para penduduk kota Hwaeum seutuhnya.
"Jika kau memang sedang merencanakan kunjungan menuju ke arah Sekte Gunung Hua, kau sebaiknya mencari tempat penginapan yang layak terlebih dahulu untuk menginap malam ini. Musang matahari dipastikan kelak pasti akan segera terbenam dalam kurun waktu yang singkat, dan jika kau memaksa untuk mendaki ke atas gunung saat ini juga, kau dipastikan kelak pasti akan terjebak di tengah-tengah kegelapan malam yang pekat di tengah perjalanan mendakimu nanti. Akan jauh lebih bijaksana bagimu untuk memulai pendakianmu esok pagi hari nanti."
"Ya. Terima kasih atas seluruh saran berharga Anda baru saja, tuan."
"Sama-sama, semoga perjalananmu menyenangkan."
Sembari menyaksikan pria paruh baya tersebut melambaikan tangannya ramah dan melangkah pergi menjauh, Wi Sohaeng melihat ke sekeliling jalanan kota dengan mulut yang sedikit terbuka lebar karena daze.
'Ternyata sebuah wilayah bisa mengalami transformasi sebesar ini belaka.'
Hanya murni disebabkan karena sebuah sekte persilatan setempat berhasil mengamankan sedikit nama harum di dunia persilatan, seluruh wilayah pemukiman di sekelilingnya terbukti sanggup mengalami transformasi perkembangan yang berjalan dengan sangat pesatnya sepanjang waktu.
Ini adalah sebuah contoh nyata yang memaparkan dengan sangat jelas alasan mengapa para pendekar persilatan dan sekte-sekte bela diri di bawah langit rela mempertaruhkan nyawa mereka demi memperebutkan sedikit nama harum di dunia persilatan sepanjang hidup mereka seutuhnya.
Wi Sohaeng mengangkat kepalanya menatap lurus ke arah wilayah pegunungan Gunung Hua.
Menyaksikan perubahan drastis kota Hwaeum di depan matanya saat ini seolah-olah memperkuat debaran keyakinan yang sempat goyah di dalam lubang dadanya selama ini seutuhnya.
Sekte Gunung Hua saat ini dipastikan telah berubah menjadi sekte yang sama sekali berbeda dengan wujud Gunung Hua lama yang sempat ia ketahui di masa lalunya dahulu seutuhnya.
Oleh karena itu……
'Aku wajib mengamankan wujud kerja sama mutlak dari pihak Gunung Hua, tidak peduli metode atau cara apa yang harus kugunakan kelak.'
Wi Sohaeng menatap tajam ke arah Gunung Hua dengan pandangan mata yang memancarkan tekad yang kuat seutuhnya.
Di area puncak pegunungan terjal yang menjulang tinggi di depan matanya saat ini, berdiri dengan begitu megahnya Sekte Gunung Hua yang agung.
- Pihak Sekte Gunung Hua dipastikan kelak pasti akan bersedia mengulurkan bantuan berharga untuk sekte kita kelak. Pergilah ke Gunung Hua segera dan mohon bantuan berharga dari mereka kelak.
'Kuharap penilaian yang dibuat oleh Ayah di masa lalu tidak salah seutuhnya kelak.'
Sembari merapatkan kedua belah bibirnya erat-erat untuk memperkuat tekadnya, Wi Sohaeng membalikkan badannya santai dan melangkah berjalan memasuki bagian dalam wilayah Prefektur Hwaeum seutuhnya.











