Chapter 120: Suatu Hari Nanti, Bunga Plum Akan Mekar di Seluruh Dunia (5)
Postur tubuh fisiknya ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang kubayangkan selama ini.
Wi Sohaeng memang telah mengetahui sejak awal mula bahwa usia dari Naga Ilahi Gunung Hua masih terhitung sangat muda seutuhnya. Namun ketika berdiri berhadapan langsung seperti saat ini, tinggi badannya terasa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi badan Wi Sohaeng sendiri.
Meskipun begitu, tubuhnya sama sekali tidak terlihat kurus kerempeng.
Secara keseluruhan, seluruh struktur tubuh fisiknya memancarkan kesan yang sangat kokoh dan terlatih dengan sempurna seutuhnya.
Dan juga……
'Ia ternyata berwajah tampan?'
Raut wajahnya terbukti cukup tampan seutuhnya.
Keharmonisan di antara proporsi tubuhnya yang ideal dengan ketampanan raut wajahnya dipastikan kelak pasti akan memaksa siapa pun yang melihatnya untuk menganggukkan kepala menyetujui ketampanannya seutuhnya.
"……"
Tentu saja wujud keindahan fisik tersebut dipetakan dengan catatan jika ia sedang tidak memasang ekspresi wajah 'aku merasa sangat kesal hingga rasanya ingin mati saja' di wajahnya saat ini.
"Uhuk! Uhuk! Ehem! Mengapa ada begitu banyak tebaran debu kotor di tempat ini! Aish!"
Bukankah kau sendiri sosok tunggal yang baru saja memicu terjadinya ledakan debu dahsyat tersebut baru saja?
Mengapa kau sendiri sosok yang memicu ledakannya dan kau sendiri pula sosok yang meluapkan kekesalan saat ini?
Chung Myung, dengan mengenakan seragam bela diri Gunung Hua miliknya yang warnanya telah terlanjur memudar kusam, melambaikan satu tangannya menyapu kepulan debu di sekitar wajahnya santai.
Ia kemudian menatap ke arah Yoon Jong dengan ekspresi wajah cemberut masam seutuhnya.
"Apakah jadwal kepulanganku secara resmi jatuh pada hari ini?"
"Sama sekali tidak."
"Huh? Bukan hari ini?"
"Masa latihan tertutupmu seharusnya masih tersisa sekitar tiga hari lagi di dalam jadwal."
"Lalu mengapa kau datang mengganggu latihanku saat ini?"
"Pemimpin Sekte sedang mencari keberadaanmu saat ini."
"Keueu. Pemimpin Sekte rupanya telah menaruh rasa kasihan yang mendalam kepadaku dan memberikan instruksi khusus agar aku segera mengakhiri masa latihan tertutupku lebih awal! Sahyung. Sahyung sekalian, jangan pernah sekali pun di sepanjang hidup kalian mencoba untuk mengikuti program latihan meditasi tertutup kelak. Setelah dipaksa hanya memakan pil Bigu Dan saja secara berturut-turut selama tiga bulan lamanya, aku saat ini merasa seolah-olah ada sebutir kecambah kotor yang sedang tumbuh berkembang di dalam perut fisiku."
"……Bukan urusan sepele semacam itu masalahnya saat ini. Tampaknya ada sebuah insiden besar yang baru saja terjadi di sekte kita."
"Huh? Insiden macam apa?"
Chung Myung memiringkan kepalanya bingung dan memalingkan pandangan matanya menatap ke arah Wi Sohaeng.
"Siapa pendekar asing ini?"
"Ini adalah Tuan Muda Wi Sohaeng, utusan pendekar yang datang jauh-jauh dari Sekte Bayangan Api."
"Sekte Bayangan Api?"
"Apakah kau mengingat nama dari sekte tersebut?"
"……Bagaimana mungkin aku bisa mengingat hal semacam itu?"
Meskipun lubang mulutnya melontarkan kalimat penolakan yang begitu santainya baru saja, pandangan mata Chung Myung terbukti sedang menatap ke arah Wi Sohaeng dengan kilatan ketertarikan yang mendalam seutuhnya.
'Sekte Bayangan Api.'
Di masa lalunya dahulu, memang benar ada sebuah sekte cabang bawahan bernama Sekte Bayangan Api yang bernaung di bawah Sekte Utama Gunung Hua milik mereka.
'Aku awalnya mengira seluruh sekte cabang bawahan Gunung Hua telah terlanjur runtuh musnah dari dunia persilatan selama ini, namun tampaknya ada satu sekte cabang yang terbukti masih sanggup bertahan hidup hingga saat ini.'
Jalannya takdir pasang surut dari sebuah sekte cabang bawahan dipastikan kelak pasti akan selalu bergantung sepenuhnya pada wujud kekuatan dari Sekte Utama di bawah langit.
Mengingat kondisi Gunung Hua yang telah terpuruk runtuh selama puluhan tahun terakhir, dipastikan bukan merupakan sebuah perjuangan yang mudah bagi sekte cabang bawahan mereka untuk sekadar mempertahankan papan nama sekte mereka terpasang tegak di depan gerbang dan merekrut murid baru sepanjang sejarah persilatan seutuhnya.
Merupakan sebuah keajaiban besar yang sangat luar biasa seutuhnya bahwa sekte mereka terbukti masih eksis hingga detik ini.
"Sekte Bayangan Api adalah salah satu sekte cabang bawahan Gunung Hua."
"Ah, benarkah begitu? Lalu ada keperluan apa seorang utusan dari sekte cabang bawahan mendatangi tempat latihan sepi ini saat ini?"
"Mari kita segera pergi menemui Pemimpin Sekte saat ini untuk mendengarkan seluruh detail penjelasannya secara langsung nanti."
"Baiklah kalau begitu."
Sembari keduanya sedang sibuk bertukar percakapan santai baru saja, Wi Sohaeng hanya bisa berdiri diam menatap ke arah sosok Chung Myung dengan mata yang membelalak lebar karena terkejut seutuhnya.
Setelah beberapa saat keheningan berlalu, ia memalingkan wajahnya menatap ke arah Yoon Jong dan melayangkan pertanyaan dengan nada suara yang sangat linglung seutuhnya.
"Itu…… tolong jangan katakan padaku saat ini bahwa pendekar di depan kita saat ini adalah……"
"Ia adalah Chung Myung."
"Ah, ya. Hahaha. Aku awalnya memang menduga hal luar biasa semacam itu…… Apa?!"
Bocah keparat ini……
Bukan, pendekar gila di depanku saat ini?
Pendekar yang sedang berdiri santai tepat di depan mataku saat ini juga?!
Sudut kelopak mata Wi Sohaeng tampak berkedut hebat seketika seutuhnya.
Detik di saat ia melihat kehadiran Yoon Jong tadi, ia jelas-jelas bisa merasakan aroma keharuman pemahaman Dao Gunung Hua yang sangat mendalam memancar dari dalam dirinya seutuhnya.
Bukankah seluruh pergerakan tubuh fisik Yoon Jong seolah-olah menyampaikan pesan khidmat kepada dunia fana: 'Seperti inilah wujud asli dari seorang Taois sejati, inilah tingkat kedalaman pemahaman Dao yang wajib dikuasai oleh seorang murid Gunung Hua sejati'?
Meskipun begitu, sangat bertolak belakang dengan wujud keindahan tersebut, bajingan di depannya saat ini……
'Ia hanya terlihat layaknya sesosok bajingan preman jalanan yang hobi melayangkan ludah di sudut gang-gang gelap belaka sepanjang hari.'
Jika Yoon Jong tidak sedang berada di tempat ini saat ini untuk mengawal pergerakannya, ia merasa dirinya saat ini sudah akan dicengkeram kerah bajunya dengan sangat kasarnya oleh Chung Myung dan diseret paksa masuk ke dalam gua batu gelap untuk dirampok habis-habisan seutuhnya.
Ia dipastikan kelak pasti harus menyerahkan seluruh kepingan uang perak di dalam kantong celananya hanya demi bisa meloloskan diri dengan selamat dari cengkeraman kejam anak ini kelak.
Sembari ingatan masa kecilnya yang buruk tentang segerombolan preman jalanan mendadak terstimulasi kencang di dalam kepalanya baru saja, Wi Sohaeng menatap ke arah Chung Myung dengan pandangan mata yang dipenuhi kecemasan yang aneh seutuhnya.
'Apakah seluruh desas-desus hebat tentang dirinya di dunia persilatan luar selama ini adalah sebuah kebohongan belaka?'
Tidak peduli dari sudut pandang mana pun ia mencoba menilai penampilannya saat ini, bajingan di depannya saat ini sama sekali tidak terlihat layaknya seorang pendekar agung yang sanggup menghancurkan murid generasi kedua Southern Edge secara berurutan dan meruntuhkan kekuatan Jin Geum-ryong seutuhnya di atas panggung baru-baru ini.
"Pergilah bersihkan seluruh sisa debu di tubuhmu terlebih dahulu. Kau sama sekali tidak diperbolehkan menemui Pemimpin Sekte dengan wujud penampilan kotor semacam itu."
"Ada masalah apa dengan wujud penampilanku saat ini?"
"Kuharap kau bersedia mematuhi permintaanku kali ini."
"Baiklah, baiklah. Aku dipastikan kelak pasti akan segera membasuh tubuhku dengan cepat saat ini juga."
Sembari menyaksikan langkah kaki Chung Myung yang berjalan mendahului mereka dengan sangat cepatnya ke depan, Wi Sohaeng melayangkan pertanyaan pelan kepada Yoon Jong.
"……Apakah pendekar gila itu benar-benar merupakan sang Naga Ilahi Gunung Hua yang sangat legendaris di dunia persilatan saat ini?"
"Aku secara pribadi sama sekali tidak mengetahui perihal nama gelar konyol Naga Ilahi semacam itu sepanjang hidupku selama ini. Namun jika pendekar yang kau maksudkan baru saja adalah Chung Myung, maka bocah keparat itu tidak diragukan lagi adalah orangnya seutuhnya."
"……Benarkah begitu adanya?"
"Tuan Muda Wi."
"Ya?"
"……Kuharap kau tidak terburu-buru untuk merasa terkejut saat ini. Masih ada banyak sekali kejutan gila lainnya yang kelak pasti akan segera kau saksikan dari wujud perilakunya nanti."
Sebuah gelombang ketakutan yang sangat dingin mendadak merayap menyelimuti bagian punggung badannya saat itu juga, memaksa Wi Sohaeng untuk mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut perihal kejutan gila apa lagi yang akan ditunjukkan oleh anak gila tersebut kelak seutuhnya.
* * *
"Jadi?"
Chung Myung, setelah selesai membasuh tubuh fisiknya dan merapikan kembali pakaian seragam sektenya, mendudukkan tubuh fisiknya tegak tepat di hadapan Pemimpin Sekte sembari melipat kening dahinya kesal.
"Segerombolan bajingan dari sekte cabang bawahan Wudang berani melayangkan serangan permusuhan ke arah sekte cabang bawahan milik kita baru-baru ini, dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka sekarang bahkan berani memanggil bantuan dari barisan anjing-anjing Sekte Utama mereka untuk turun gunung?"
"……Kau sendiri juga menyandang status sebagai seorang Taois sejati di dalam sekte ini, bajingan kecil."
Mengapa kau harus repot-repot menggunakan kosakata kasar semacam itu di depan umum! Tolong jaga bahasamu!
Meskipun begitu, kalimat teguran Yoon Jong sama sekali tidak mampu menembus lubang telinga Chung Myung seutuhnya saat ini.
"Jadi alasan itulah yang membuat mereka melayangkan permohonan bantuan darurat kepada sekte kita saat ini."
Chung Myung menganggukkan kepalanya pelan dalam keheningan.
Sebuah kilatan cahaya yang sangat serius mendadak menyelimuti pandangan matanya seketika seutuhnya.
"Pemimpin Sekte!"
"Mm!"
"Sama sekali tidak ada hal yang perlu Anda cemaskan dari masalah sepele ini saat ini. Murid Anda ini dipastikan kelak pasti akan segera pergi ke sana menyelesaikan masalah kekacauan ini hingga tuntas sebelum akhirnya kembali pulang ke sekte nanti."
Raut wajah dari seluruh Tetua di dalam ruangan tampak bergetar sedikit karena terkejut seutuhnya.
Bocah gila ini terbukti telah menjalani program latihan meditasi tertutup selama tiga bulan lamanya di dalam gua tanpa pernah melihat cahaya matahari sekalipun selama ini. Apakah kepribadian gila anak ini akhirnya benar-benar telah tumbuh menjadi jauh lebih dewasa saat ini? Bagaimana mungkin ia sanggup melontarkan kalimat tanggung jawab yang begitu berwibawa dan menenangkan hati semacam itu hari ini?
Meskipun begitu, di saat seluruh Tetua di dalam ruangan berhasil dikelabui oleh kebohongan manis tersebut saat ini, Yoon Jong sama sekali tidak terpengaruh sedikit pun seutuhnya.
"……Bagaimana metode nyata yang akan kau gunakan untuk menyelesaikan kekacauan tersebut hingga tuntas kelak?"
"Bagaimana metode yang akan kugunakan, kau bertanya?! Aku dipastikan kelak pasti akan segera melesat berlari kencang menuju ke wilayah Namyang tersebut saat ini juga dan menghancurkan seluruh…… apa nama aula bela diri tiruan mereka tadi? Aula Jalan Leluhur?"
"Aula Jalan Leluhur!"
"Ah, benar sekali! Aku dipastikan kelak pasti akan menghancurkan kepala dari seluruh bajingan Aula Jalan Leluhur tersebut hingga hancur lebur, dan juga menghancurkan kepala dari seluruh bajingan Wudang yang berani turun gunung membantu mereka kelak! Dan setelah itu, demi bisa memastikan bahwa kaki kotor mereka tidak akan pernah berani melangkah menapakkan kaki di wilayah Namyang kembali untuk selamanya di masa depan nanti, aku dipastikan kelak pasti akan membakar habis seluruh gedung aula bela diri mereka hingga rata dengan tanah, dan tindakan pembakaran mutlak itulah yang baru layak disebut sebagai wujud penyelesaian masalah yang tuntas!"
"Gedung yang ingin kau bakar habis itu adalah sebuah kuil Taois yang suci, bajingan gila sejati!"
"Apakah sebuah kuil Taois yang suci di bawah langit terbukti kebal dari lahapan kobaran api sepanjang sejarah? Tentu saja tidak, bukan? Di hadapan lahapan kobaran api yang membara hebat, seluruh bangunan gedung di bawah langit adalah setara seutuhnya! Bahkan kuil suci Gunung Hua milik kita sendiri pun terbukti setara di bawah lahapan api di masa lalu."
"Mengapa kau harus menyeret nama baik Gunung Hua ke dalam masalah ini?!"
"Mengapa? Bukankah kuil sekte kita sendiri juga terbukti hangus terbakar hingga rata dengan tanah di masa lalu kita? Apakah kau sama sekali tidak mengetahui detail sejarah tersebut?"
Hyun Jong menyunggingkan senyuman hangat yang tipis di wajahnya seutuhnya.
Ia kemudian memalingkan kepalanya menatap lurus ke arah Ungeom yang sedang duduk tegak tepat di samping badannya.
'Apakah benar-benar aman bagi kita untuk mengirimkan bocah gila semacam ini pergi berkelana ke dunia luar saat ini?'
'Aku secara pribadi menilai kita wajib merenungkan kembali keputusan keberangkatannya saat ini.'
Bagaimana mungkin ada seorang manusia di bawah langit yang seiring dengan pertambahan usia fisiknya justru sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan sifat kedewasaan sedikit pun sepanjang hidupnya?
Sungguh bukan merupakan sebuah pekerjaan yang mudah untuk bisa mempertahankan sifat tidak waras secara konsisten sepanjang waktu semacam itu seutuhnya.
Yoon Jong menarik ujung jubah jinjing Chung Myung kencang.
"Tenangkan dirimu sedikit terlebih dahulu. Kumohon kepadamu."
"Menenangkan diri? Apakah saat ini wujud ekspresi wajahku terlihat layaknya ekspresi wajah seorang pendekar yang sanggup menenangkan diri dengan mudah saat ini?"
Mata Chung Myung berkilat tajam memancarkan kegilaan yang luar biasa dahsyat seutuhnya.
"Anda baru saja menyatakan secara resmi bahwa Sekte Bayangan Api adalah satu-satunya sekte cabang bawahan yang secara konsisten terus mengirimkan kepingan uang upeti tahunan untuk sekte kita selama ini, bukan?"
Tolong jangan menggunakan istilah uang upeti di depan umum…… istilah tersebut terdengar layaknya kosakata yang biasa diperagakan oleh para bandit dari Faksi Hitam seutuhnya.
Gunakan istilah uang bantuan operasional sekte atau istilah halus semacam itu……
"Sesosok bos besar di dalam dunia persilatan diwajibkan hukumnya untuk melindungi keselamatan dari seluruh anak buah yang rajin menyetorkan uang upeti tahunan di dalam wilayah kekuasaan mereka sepanjang sejarah! Jika aturan hukum persilatan tersebut dilanggar oleh sang bos besar, siapa lagi di bawah langit ini yang bersedia membuang uang perak mereka secara sukarela hanya demi bisa bernaung di bawah kepemimpinannya kelak?!"
"Perkataanmu itu sangat benar adanya! Ini adalah masalah yang menyangkut kelangsungan hidup dari aliran uang perak sekte kita kelak!"
Hyun Young melayangkan tepuk tangan meriah dengan ekspresi wajah dipenuhi kepuasan yang sangat mendalam seutuhnya.
Meskipun begitu, detik di saat pandangan mata seluruh Tetua di dalam ruangan mendadak beralih menatap tajam ke arah dirinya saat itu juga, ia secara perlahan mendeham keras dan menurunkan kedua belah tangannya kembali dalam keheningan yang canggung.
Chung Myung kembali melanjutkan desakan opininya dengan sangat keras seutuhnya.
"Mereka adalah pihak pertama yang berani melayangkan genderang perang permusuhan kepada kita! Jadi kita diwajibkan hukumnya untuk melayangkan jawaban perang yang serupa kepada mereka kelak! Serahkan saja seluruh detail penyelesaian masalah ini ke dalam genggaman tanganku kelak! Aku dipastikan kelak pasti akan pergi ke sana dan menghancurkan seluruh kepala dari para bajingan keparat itu seutuhnya!"
Hyun Jong berbicara dengan senyuman hangat yang tipis di wajahnya.
"Chung Myung."
"Ya, Pemimpin Sekte!"
"……Kau sama sekali tidak diperbolehkan menghancurkan kepala dari para pendekar itu kelak."
"Kalau begitu apakah aku diperbolehkan untuk menghancurkan bagian tulang pinggang mereka saja kelak?"
"Kalimatku baru saja menyampaikan pesan bahwa kau dilarang keras membuat tubuh mereka menderita cacat fisik permanen atau melayangkan luka fisik yang teramat sangat serius sekali kepada mereka kelak."
"……"
Hyun Jong melepaskan helaan napas panjang yang sangat dalam seutuhnya sembari menatap ke arah Chung Myung dengan pandangan mata yang seolah-olah menyampaikan pesan: 'Apakah benar-benar aman bagi keselamatan sekte kita untuk mengirimkan bajingan gila semacam ini keluar saat ini?'
Meskipun begitu, tidak peduli seberapa khawatirnya mereka memikirkan metode penyelesaian masalah macam apa yang kelak akan diperagakan oleh anak gila tersebut nanti, selama aturan hukum tidak tertulis membatasi utusan pendekar maksimal berada di tingkat murid generasi kedua, maka mengesampingkan nama Chung Myung dari daftar utusan dirasa merupakan hal yang mustahil untuk diselesaikan seutuhnya bagi mereka saat ini.
Dan pada kenyataan yang sesungguhnya di lapangan, di luar dari masalah kegilaan sifat pribadinya yang teramat sangat menyebalkan sepanjang waktu, Chung Myung adalah sesosok pendekar yang paling bisa diandalkan kekuatannya oleh sekte saat ini seutuhnya di bawah langit.
"Bagaimanapun juga, karena situasi daruratnya telah terlanjur berjalan seperti ini, kau dipastikan kelak pasti harus segera melangkahkan kakimu pergi ke sana kelak."
"Jangan cemas, Pemimpin Sekte. Aku dipastikan kelak pasti akan menyelesaikan seluruh kekacauan ini dengan sangat bersihnya sebelum akhirnya kembali pulang ke mari kelak. Apakah jadwal keberangkatanku secara resmi jatuh pada hari ini?"
"Ada beberapa murid sekte lainnya yang dipetakan kelak pasti akan ikut pergi mengawal perjalananmu kelak. Jadi mari kita persiapkan keberangkatan kalian esok hari atau lusa nanti."
"Mengapa persiapan keberangkatannya harus memakan waktu yang sangat lama sekali semacam itu?"
"Kami masih wajib mengumpulkan lebih banyak lagi detail informasi intelijen terkait dengan situasi konflik di lapangan saat ini, dan ada beberapa hal krusial lainnya yang dirasa cukup mengkhawatirkan pikiranku saat ini. Jadi tolong pahami dengan baik alasan penundaan ini."
"Baik."
Tidak peduli apakah jadwal keberangkatannya secara resmi jatuh pada hari ini atau esok hari nanti kelak, selama ia pada akhirnya diperbolehkan untuk menghantam tubuh dari para bajingan Wudang tersebut kelak, Chung Myung sama sekali tidak memedulikan perihal penundaan waktu tersebut seutuhnya.
"Sangat bagus. Kalau begitu, karena tubuh fisikmu dipetakan saat ini pasti sedang berada dalam kondisi yang sangat lelah sekali setelah melewati masa latihan meditasi tertutup selama tiga bulan lamanya, pergilah beristirahat dengan tenang hari ini demi memulihkan kembali kondisi tubuh fisikmu."
"Aku memahaminya dengan sangat jelas seutuhnya, Pemimpin Sekte."
"Baiklah. Kau diperbolehkan meninggalkan ruangan ini sekarang. Aku dipetakan kelak pasti akan segera menentukan siapa saja murid sekte yang akan ikut pergi bersamamu kelak dan segera menyampaikan keputusan tersebut kepadamu nanti."
"Baik, kalau begitu aku permisi dulu."
Chung Myung bangkit berdiri dari posisi duduknya dan baru saja akan melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan ketika Hyun Jong secara perlahan kembali memanggil namanya lembut.
"Chung Myung."
"Ya?"
Chung Myung memalingkan kepalanya menatap ke arah depan, dan Hyun Jong menatap lekat ke arah wujud anak itu untuk sejenak sebelum akhirnya kembali membuka mulutnya berbicara.
"Apakah kau berhasil meraih sebuah pencapaian kejayaan yang baru sepanjang masa latihan meditasi tertutupmu selama tiga bulan terakhir?"
Chung Myung menyeringai sangat lebar seutuhnya.
"Para bajingan Wudang itu dipetakan kelak pasti akan segera merasakannya sendiri secara langsung menggunakan tubuh fisik mereka sendiri kelak."
"Baiklah. Aku memahaminya."
Chung Myung membungkukkan kepalanya memberi hormat khidmat sebelum akhirnya melangkah berjalan keluar meninggalkan ruangan seutuhnya.
"Yoon Jong, persiapkan tempat penginapan yang layak untuk Tuan Muda Wi menginap malam ini, dan bimbinglah ia untuk menikmati hidangan makanan terlebih dahulu karena ia dipetakan saat ini pasti sedang dilanda rasa lapar yang sangat mendalam setelah menempuh perjalanan jauh."
"Baik, Pemimpin Sekte. Aku dipastikan kelak pasti akan memastikan bahwa ia menerima penyambutan yang paling nyaman di sekte kita hari ini."
Setelah Yoon Jong dan Wi Sohaeng juga telah resmi melangkahkan kaki mereka berjalan keluar meninggalkan ruangan baru saja, Hyun Jong memasang ekspresi wajah yang terlihat sangat rumit seutuhnya.
"Hyun Sang."
"Ya, Sahyung Pemimpin Sekte."
"Aku sendiri sejujurnya tidak mengetahui secara pasti apakah ini hanyalah merupakan wujud kekhawatiran pribadiku yang terlampau berlebihan belaka saat ini, namun apakah menurutmu merupakan sebuah faktor kebetulan belaka jika sebuah sekte cabang bawahan Wudang mendadak melangkahkan kaki memasuki wilayah Namyang, wilayah subur yang selama ini terbukti selalu berada dalam kondisi damai tanpa adanya konflik apa pun sepanjang sejarah, dan secara sepihak melancarkan genderang perang permusuhan menghadapi Sekte Bayangan Api baru-baru ini?"
Hyun Sang sama sekali tidak bisa melayangkan kalimat jawaban dengan mudah seutuhnya saat ini.
Jika dipikir-pikir kembali dengan saksama, kejadian darurat di lapangan memang sangat mungkin terjadi murni didasari oleh faktor kebetulan belaka di dunia persilatan.
Meskipun begitu, semakin keras ia mencoba memikirkan masalah ini, maka akan semakin terlihat tidak wajar jika rentetan kejadian darurat tersebut terjadi hanya didasari oleh faktor kebetulan belaka seutuhnya sepanjang sejarah.
"Aku sendiri tidak mengetahui secara pasti apakah keputusan kita untuk mengirimkan Chung Myung pergi ke sana adalah keputusan yang tepat bagi sekte kita kelak. Jangan-jangan target utama yang sebenarnya sedang diincar oleh pergerakan licik mereka kali ini adalah……"
"Asumsi buruk semacam itu dipastikan sama sekali tidak benar adanya seutuhnya, Pemimpin Sekte."
Un Am menggelengkan kepalanya menolak kecurigaan tersebut seutuhnya.
"Menggunakan taktik menyerang sebuah sekte cabang bawahan kecil hanya demi bisa memicu pergerakan keluar dari seorang Chung Myung dirasa merupakan sebuah rencana yang terlampau berlebihan dan tidak masuk akal untuk diperagakan di dunia persilatan. Bukankah pihak lawan kita kali ini adalah Sekte Wudang yang agung? Mereka sama sekali tidak memiliki alasan logis apa pun untuk sekadar memicu pertikaian fisik menghadapi Sekte Gunung Hua kita saat ini. Keuntungan besar macam apa yang bisa mereka dapatkan dari tindakan konyol semacam itu kelak? Minat komersial luar biasa macam apa sebenarnya yang tersimpan di dalam wilayah Namyang yang kecil bersahaja tersebut hingga mampu memicu ketamakan dari sebuah sekte raksasa sekelas Wudang kelak?"
"Mmm."
Hyun Jong melepaskan suara erangan rendah yang dipenuhi lamunan pikiran yang mendalam seutuhnya.
Meskipun demikian, di balik suara erangan rendahnya baru saja tersimpan sebuah perasaan tersembunyi yang menegaskan bahwa ia sama sekali tidak bisa menyetujui opini penolakan yang dilontarkan oleh Un Am baru saja seutuhnya.
"Sejak peristiwa turnamen Ancestral Flame Conference dua tahun yang lalu berakhir dengan sukses, nama harum Chung Myung telah meroket naik dengan sangat gilanya di seluruh penjuru dunia persilatan seutuhnya. Aku bahkan mendengar kabar bahwa namanya saat ini selalu disebut di urutan pertama setiap kali para pendekar Murim sedang mendiskusikan perihal siapa sosok pendekar terbaik yang layak menyandang gelar Pakar Nomor Satu di Generasi Muda saat ini."
"Kabar sejarah tersebut memang benar adanya."
"Gelar kehormatan Naga Ilahi Gunung Hua yang disematkan di pundaknya saat ini dirasa terlampau megah dan berlebihan sekali untuk disandang oleh seorang pemuda seusia dirinya saat ini. Sekte Wudang mungkin memang tidak memedulikan masalah minat komersial kecil belaka seutuhnya. Namun mereka dipastikan bukan merupakan sebuah tempat suci yang bersedia berdiri diam menyaksikan sekte Taois lainnya berhasil mengamankan nama harum yang jauh lebih megah dibandingkan dengan nama besar sekte mereka sendiri di bawah langit kelak. Jangan-jangan……"
Tepat pada momen itulah.
"Memangnya kenapa jika hal buruk semacam itu benar-benar terjadi kelak?"
"Hmm?"
Ungeom berbicara sembari menyunggingkan senyuman hangat yang tipis di wajahnya seutuhnya.
"Pemimpin Sekte. Apakah Anda mengetahui secara pasti nama julukan konyol macam apa yang disematkan oleh anak-anak Gunung Hua di dalam sekte kita untuk memanggil sosok Chung Myung selama ini?"
"……Apakah ada nama julukan semacam itu yang beredar di dalam sekte?"
"Nama julukan tersebut tidak lain adalah Anjing Gila Gunung Hua."
Uh…… bukankah nama julukan tersebut terdengar agak sedikit terlampau kasar untuk didengar di depan umum……
Un Am, yang sedari tadi mendengarkan jalannya diskusi dalam keheningan yang khidmat, melepaskan suara deham kecil seutuhnya.
"Istilah Anjing Gila dirasa terlampau kasar untuk digunakan di depan umum, mari kita sepakati untuk memanggilnya menggunakan istilah Anjing Galak saja setelah ini."
Meskipun begitu, wujud panggilannya tetap saja tidak bisa terlepas dari wujud seekor anjing seutuhnya kelak.
Tidak, mengapa mereka semua sama sekali tidak mampu meloloskan diri dari wujud seekor 'anjing' di dalam pikiran kepala mereka sepanjang waktu?
Apakah itu menggunakan istilah anjing gila ataupun menggunakan istilah anjing galak kelak seutuhnya.
Kemudian, Ungeom terus melanjutkan kata-kata penjelasannya dengan raut wajah dipenuhi senyuman hangat seutuhnya.
"Di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir ini, anak-anak sekte kita telah mencurahkan segenap usaha keras mereka yang sangat luar biasa dahsyatnya hingga ke batas hancurnya belulang mereka seutuhnya demi melatih keahlian bela diri mereka. Saat ini, apakah lawan mereka kelak adalah Sekte Wudang ataupun Sekte Shaolin sekalipun di bawah langit, mereka dipastikan sama sekali tidak akan pernah bisa meremehkan kekuatan anak-anak sekte kita kelak seumur hidup mereka."
"Hal itu adalah kenyataan yang mutlak benar seutuhnya."
"Mm. Perkataanmu itu sangat benar adanya."
Sama sekali tidak ada satu orang pun pendekar di dalam ruangan ini saat ini yang tidak mengetahui seberapa mengerikannya penderitaan fisik luar biasa yang dipaksakan untuk dilalui oleh murid generasi kedua dan ketiga sekte di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir selama ini.
Secara jujur seutuhnya, mereka semua dipetakan setidaknya pernah memikirkan hal yang sama minimal sekali di dalam hati mereka selama ini bahwa mereka merasa sangat bersyukur karena tingkat kepangkatan generasi mereka di dalam sekte terbukti berada di atas tingkat kepangkatan milik Chung Myung selama ini.
"Di antara barisan anak-anak sekte kita, bocah keparat itu adalah, hm……"
Ungeom menggaruk bagian belakang kepalanya dengan ekspresi wajah canggung seutuhnya, raut wajahnya memaparkan dengan sangat jelas bahwa ia sendiri tidak mengetahui secara pasti metode bahasa manusia macam apa yang paling tepat untuk digunakan demi menggambarkan seluruh kegilaan perilaku yang diperagakan oleh Chung Myung di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir di dalam sekte selama ini.
"Bagaimanapun juga, seperti itulah kondisi yang sesungguhnya terjadi saat ini. Siapa pun pendekar bodoh di dunia persilatan luar sana yang berani menantang kekuatan Naga Ilahi Gunung Hua kelak dipastikan kelak pasti akan segera menyadari dengan sangat menyakitkan mengapa Chung Myung layak dipanggil dengan sebutan tersebut seutuhnya nanti."
"Naga Ilahi?"
"Bukan. Anjing Gila."
"……"
Yah, hal itu……
Asumsi kasar semacam itu seharusnya tidak pantas dilayangkan kepada seorang murid sekte sendiri. Namun bagian hatiku entah mengapa sangat menyetujui kebenaran dari klaim tersebut seutuhnya saat ini.
"Utuslah Baek Cheon dan Yoon Jong untuk pergi mengawal perjalanannya kelak. Jika kita mempercayakan tugas ini ke tangan kedua murid tersebut, mereka dipetakan kelak pasti akan mampu menahan pergerakan gila Chung Myung dengan metode yang tepat di saat ia mulai bertindak di luar batas kewajaran kelak."
"……Benarkah begitu adanya?"
"Di antara seluruh barisan opsi murid yang kita miliki saat ini, kedua murid tersebut dipetakan memiliki persentase keberhasilan tertinggi untuk bisa melakukannya kelak, aku rasa memang demikian adanya."
"Kalau begitu bagaimana jika kita juga ikut mengirimkan Yu Iseol untuk pergi bersama mereka kelak? Setidaknya bocah gila itu terbukti sama sekali tidak berani melayangkan kekerasan fisik kepadanya hanya karena ia menyandang status kepangkatan sebagai Kakak Seperguruan Perempuan baginya di dalam sekte selama ini."
Bukankah hal luar biasa tersebut sudah merupakan wujud tindakan yang sewajarnya dilakukan oleh sekte kita kelak?
"Pemimpin Sekte."
Sembari meredakan atmosfer kegaduhan di dalam ruangan, Hyun Young membuka mulutnya berbicara dengan nada suara yang tenang seutuhnya.
"Pekerjaan mengirimkan anak-anak sekte kita pergi berpetualang kali ini bukan sekadar masalah sepele belaka. Mengirimkan anak-anak sekte kita melangkah pergi keluar kali ini menandakan secara resmi kepada dunia persilatan Murim bahwa Sekte Gunung Hua kita saat ini telah siap untuk menapakkan kaki kembali ke dunia luar seutuhnya. Ada banyak sekali pekerjaan penting yang wajib segera kita selesaikan ke depannya nanti."
"Mm!"
Hyun Jong menganggukkan kepalanya dengan sangat khidmat seutuhnya.
"Dengarkan instruksiku baik-baik."
"Ya, Pemimpin Sekte."
"Jika Sekte Utama diwajibkan berdiri kokoh sebagai simbol wajah kebanggaan bagi nama besar Gunung Hua di bawah langit, maka sekte-sekte cabang bawahan adalah wujud dari kedua belah tangan dan kaki yang menyokong pergerakan kita seutuhnya. Sekte Bayangan Api terbukti telah mempersembahkan kontribusi dan loyalitas yang sangat luar biasa besarnya bagi kelangsungan hidup Sekte Utama kita selama ini. Gunakan metode atau cara apa pun yang sanggup kita selesaikan demi bisa memberikan dukungan penuh bagi kejayaan Sekte Bayangan Api kelak, dan biarkan seluruh dunia persilatan Murim menyadari dengan sangat jelas mulai hari ini bahwa Sekte Gunung Hua tidak akan pernah sekali pun menelantarkan nasib dari sekte cabang bawahan kami kelak untuk selamanya."
"Kami dipastikan kelak pasti akan mengukir instruksi mulia Anda ini sangat dalam di dalam dada kami masing-masing, Pemimpin Sekte!"
Sembari menyaksikan seluruh Tetua di dalam ruangan membungkukkan kepala mereka secara bersamaan memberi hormat khidmat ke hadapannya baru saja, sebuah raut wajah yang memancarkan tekad penyelesaian yang sangat kuat dan kokoh menyelimuti seluruh wajah Hyun Jong seutuhnya.
'Kurun waktu dua tahun bukanlah sebuah aliran waktu yang singkat bagi kelangsungan hidup manusia seutuhnya.'
Aliran waktu yang dinilai telah sangat matang bagi pihak Sekte Gunung Hua untuk mendeklarasikan secara resmi wujud wajah baru dari Sekte Gunung Hua yang sesungguhnya ke seluruh penjuru dunia persilatan Murim di bawah langit seutuhnya.











