Return of the Mount Hua Sect

Chapter 235: Mengapa Kau Bertingkah Seperti Itu? (5)

5866 Kata

Chapter 235: Mengapa Kau Bertingkah Seperti Itu? (5)

Yoon Jong menelan ludah keringnya secara perlahan.

Sorot pandangan mata dari ratusan orang di dalam Aula Agung saat ini secara luar biasa tampak sedang terpaku secara terfokus menatap lurus ke arah posisi berdirinya.

Jajaran prajurit pengawal Istana Binatang, belasan Pelindung Istana, dan bahkan wibawa Tuan Istana Binatang sendiri.

Ia merasakan kedua belah persendian kaki mudanya mulai bergetar halus menahan tegang di bawah kepungan sorot mata tersebut.

Tepat pada detik ketegangan kritis itu membungkam lidahnya, getaran suara bass raksasa milik Tuan Istana Binatang kembali terdengar bergema keras di udara.

"Sirkulasi pendengaran tuaku kemarin siang sempat menyaring informasi yang menyatakan bahwa jasad mudamu telah secara sukarela mencurahkan seluruh sediaan harta pribadimu di Kunming murni murni hanya ditujukan untuk menyalurkan pasokan pangan membantu kelangsungan hidup warga perbatasan kami yang miskin."

Yoon Jong menganggukkan kepala mudanya pelan tanda membenarkan fakta tersebut.

Ia memendam ketakutan batin berupa seandainya sirkulasi bibirnya nekat memaksakan diri murni untuk menyuarakan kalimat jawaban verbal siang ini, getaran suaranya dijamin pasti akan terdengar sangat bergetar canggung sekali menahan tegang.

"Atas dasar motif hukum apa yang mendorong telapak tanganmu nekat mengeksekusi kelakuan sebersih itu?"

"…Maaf?"

Tuan Istana Binatang melanjutkan untaian kalimat interogasinya menggunakan getaran nada suara yang terkesan tiada hentinya meluncurkan tekanan moral.

"Jasad mudamu menyandang status resmi selaku pendekar asing dari Dataran Tengah. Dan rute perjalanan luar rombongan kalian ke Yunnan ini bagaimanapun juga murni hanya ditujukan murni untuk menyelesaikan satu misi rahasia sekte kalian semata. Jika situasinya memang tersaji demikian, atas dasar alasan logis apa yang membolehkan telapak tanganmu nekat mengeksekusi tindakan sosial sekejam itu? Bukankah keputusan konyol tersebut secara nyata justru akan melahirkan ancaman keamanan yang teramat sangat membahayakan keselamatan misi rahasia kalian murni karena memicu datangnya perhatian publik?"

Yoon Jong mengunci rapat bilik mulutnya diam membisu.

Ia di sepanjang malam kemarin sebenarnya memang telah secara sukses merapikan draf kalimat jawaban daruratnya bersama Jo Geol murni untuk mengantisipasi pertanyaan sejenis.

Namun di bawah wibawa aula siang ini... sirkulasi otaknya menyimpulkan bahwa jasadnya dipaksa oleh takdir murni untuk menyuarakan alur penjelasan yang teramat sangat berbeda sekali dari rencana awalnya.

Setelah secara perlahan memejamkan sepasang kelopak matanya sejenak murni murni hanya untuk merapikan kembali sirkulasi Qi di dalam dadanya, Yoon Jong menegakkan kepalanya tegak memandang lurus tepat ke arah wajah raksasa Tuan Istana Binatang.

"Jasad tuaku secara jujur bersumpah sama sekali menolak memiliki kapasitas logika yang memadai murni murni hanya untuk mencerna arah maksud dari pertanyaan yang Anda ajukan barusan, Tuan Istana."

"Tuaku murni hanya menuntut jawaban mengenai alasan logis dibalik tindakan sosialmu kemarin."

"Batin tuaku bersumpah tetap menolak memendam pemahaman hukum atas pertanyaan sejenis siang ini."

"Hmm?"

Seluruh getaran canggung di sepanjang persendian tulang kaki Yoon Jong secara ajaib seketika berhenti berguncang halus.

Setelah menarik sebutir napas panjang secara sangat teratur nan mendalam sekali murni untuk menstabilkan mentalnya, ia memaku sorot pandangan matanya menatap lekat ke arah sepasang kelopak titik merah delima mata Tuan Istana.

"Apakah di sepanjang sejarah kehidupan ras manusia di bawah langit siang ini, seorang manusia fana dideklarasikan berkewajiban untuk memiliki sebaris alasan hukum terlebih dahulu murni murni hanya ditujukan untuk menyodorkan uluran tangan bantuan menyelamatkan kelangsungan hidup sesama manusia lainnya?"

"..."

Menerima satu jawaban filosofi yang tersaji sangat bertolak belakang nan di luar seluruh batas kalkulasi logikanya tersebut, jasad raksasa Tuan Istana Binatang seketika tersentak diam mematung di tempat.

"Apakah objek manusia yang sedang sekarat di depan sepasang mata kita memeluk status selaku warga perbatasan Yunnan ataupun warga Dataran Tengah, variabel sepele sekelas itu bersumpah sama sekali menolak menyandang perbedaan derajat kemanusiaan sedikit pun bagi batin tuaku. Detik ketika sepasang mata tuaku mendeteksi adanya sesosok manusia fana yang sedang berada dalam krisis kelangsungan hidup pangan di depan hidungku, maka telapak tanganku secara refleks wajib meluncurkan gerakan memberikan pertolongan bagi jiwanya. Alur moralitas kemanusiaan sebersih itulah yang sejak hari pertama latihan fisik diajarkan nan ditanamkan secara disiplin oleh faksi Gunung Hua kami bagi batin tuaku."

Menyaksikan kedahsyatan wibawa keteguhan iman yang dipamerkan secara gagah berani oleh Yoon Jong di depan podium tersebut, Chung Myung dan Jo Geol secara perlahan saling mendekatkan kepala mereka dan berbisik pelan.

"Tentu saja, porsi kelakuan sosial yang ia lepaskan kemarin pada hasil akhirnya memang terbukti tersaji sangat terlampau berlebihan sekali bagi kas pribadi kita."

"Mm. Derajat kerugian finansialnya bersumpah tersaji sangat terlampau ekstrem sekali bagi dompet kita."

Sepasang iblis cilik kotor tiada guna satu ini...

"Ahem."

Setelah secara sengaja meledakkan satu suara dehaman batuk keras murni murni hanya untuk membungkam kebisingan bisikan di belakang jubahnya, Yoon Jong kembali memaku fokus pandangan matanya menatap wajah Tuan Istana dengan raut garis wajah yang memancarkan keteguhan keyakinan yang teramat sangat jernih nan kokoh sekali.

"Apakah itu secara tidak langsung menyuarakan konfirmasi berupa jasad mudamu tetap bersedia mengeksekusi keputusan sosial yang sama seandainya di masa depan nanti jasadmu kembali diperhadapkan dengan situasi darurat yang serupa?"

"Keputusan hukumnya bersumpah sama sekali menolak berjalan kaku seperti itu."

Yoon Jong menggelengkan kepala mudanya mantap menolak.

"Filosofi suci jalan Dao pada hasil akhirnya selamanya menolak dirawat di bawah kendali aturan yang kaku nan mati. Sebagaimana bait suci ajaran kuno yang menyebarkan ungkapan berupa: Dao yang dapat dinamai bukanlah Dao yang abadi, maka atas dasar kalkulasi medis jenis apa yang membolehkan sepasang situasi darurat di perbatasan dideklarasikan menyandang kesamaan hakiki seandainya variabel lanskap geografi dan ketulusan batin yang menyelimuti dadanya telah resmi berubah haluan? Jasad tuaku siang ini murni hanya bertindak murni murni mengikuti arah tuntutan ketulusan batin yang menyelimuti dadaku saat itu semata."

"Murni murni hanya mengikuti arah tuntutan ketulusan batinmu semata, katamu."

Kedua belah sudut bibir dari wajah raksasa Tuan Istana Binatang secara bertahap tampak mulai miring terayun sedikit ke atas, mengukir seulas senyuman tipis yang hangat.

"Arah kesimpulan akhirnya secara tidak langsung menegaskan bahwa di sepanjang menit kemarin siang, batin rohanimu murni murni hanya mendeteksi adanya luapan hasrat kemanusiaan yang teramat tebal sekali murni murni hanya ditujukan untuk menyalurkan bantuan bagi rakyat kami."

"Benar sekali."

"Meskipun keputusan bantuan tersebut secara memalukan memaksa telapak tanganmu nekat menjual kepemilikan pedang baja sekte sendiri."

"..."

Mengapa sasis mulut raksasanya tiada hentinya menyuarakan detail urusan penjualan pedang baja tersebut secara vulgar di depan umum?

"Jasad tuaku sepanjang hari ini tiada hentinya meluncurkan prosesi introspeksi diri merenungi kelalaian disiplinku tersebut."

"Apakah itu secara tidak langsung menyuarakan konfirmasi berupa batin rohanimu saat ini sedang didera oleh rasa penyesalan yang mendalam?"

"Jasad tuaku menegaskan bahwa tuaku sedang meluncurkan introspeksi diri. Namun batin tuaku bersumpah sama sekali menolak memelihara sisa rasa penyesalan sedikit pun siang ini."

Yoon Jong menyuarakan kalimat keputusannya menggunakan getaran nada suara yang teramat sangat mantap nan kokoh sekali.

Tuan Istana memiringkan kepala raksasanya pelan, kembali melayangkan pertanyaan konfirmasi.

"Sebuah perumusan kalimat filosofi yang tersaji sangat ganjil nan unik sekali bagi telingaku. Makna hukum jenis apa sebenarnya yang terkandung dibalik untaian kalimatmu barusan?"

Yoon Jong tampak mematung diam selama beberapa saat murni murni hanya untuk merapikan kembali sirkulasi kata di dalam kepalanya, bibir mudanya terkatup rapat menahan emosi.

Baru setelah meyakini draf penjelasannya telah tersusun rapi di kepala, ia kembali bersuara pelan.

"Sudah menjadi kewajiban hukum yang teramat wajar sekali bagi kelayakan batin tuaku murni murni hanya untuk meluncurkan prosesi introspeksi diri, menimbang fakta berupa jasad tuaku secara ceroboh kemarin telah memicu lahirnya bencana kegaduhan sosial yang secara nyata sempat menempatkan keselamatan nyawa jajaran adik seperguruanku di bawah ancaman bahaya militer perbatasan. Tindakan kelalaian tersebut merupakan sebuah aib disiplin yang teramat pantas kuadili secara kejam oleh batin tuaku sendiri. Namun sebaliknya, silsilah moralitas di sepanjang jasad jiwaku bersumpah menolak memberikan izin bagi lahirnya rasa malu sosial sedikit pun murni murni hanya karena tanganku telah secara nyata bertindak menyelamatkan nyawa sesama manusia fana dari kepunahan kelaparan."

Yoon Jong secara perlahan memejamkan sepasang kelopak matanya sejenak.

Kemudian ia membuka kelopak matanya kembali halus dan memaku sorot matanya menatap tajam ke arah wajah Tuan Istana Binatang.

"Keutuhan Sekte Gunung Hua pada hasil akhirnya menyandang status sosial selaku segalanya bagi nafas kehidupan jasad tuaku siang ini. Landasan rohani itulah yang melatarbelakangi mengapa batin tuaku bersumpah sama sekali menolak memelihara rasa malu sedikit pun atas keputusan sosialku kemarin. Sekte Gunung Hua yang selama ini kukenal melalui didikan para leluhur di sepanjang sejarah abad ini bersumpah dipastikan akan selalu memprioritaskan keselamatan kelangsungan hidup jasad manusia yang sedang sekarat kelaparan jauh di atas keagungan kepemilikan sebilah pedang baja logam biasa. Setidaknya, alur moralitas kemanusiaan sebersih itulah yang sepanjang tahun diajarkan secara disiplin oleh faksi kami, dan alur itu pula yang kemarin siang secara nyata telah dieksekusi oleh telapak tanganku."

"Meskipun seandainya keputusan sosialmu kemarin terbukti secara nyata telah mendaratkan tindakan pelanggaran yang menabrak aturan hukum adat sekte kalian sendiri?"

"Bagaimana caranya Sekte Gunung Hua kami diperbolehkan oleh ajaran suci Taois murni murni hanya untuk menanamkan doktrin sesat bagi batin muridnya berupa: Nilai kepemilikan sebilah pedang baja logam mati menyandang derajat kepentingan yang jauh lebih mulia nan berharga seandainya disandingkan dengan keselamatan nyawa manusia fana yang sedang sekarat menemui ajal?!"

Seolah-olah jasad mudanya siang ini sedang dipaksa oleh takdir murni murni hanya untuk menempuh ujian keimanan spiritual tingkat tinggi, seberkas getaran hawa kemarahan Taois yang teramat sangat jernih nan bersih sekali secara bertahap mulai merambat menyelimuti getaran suara Yoon Jong di udara.

"Seorang praktisi Taois yang sepanjang hidupnya memilih opsi murni hanya untuk merangkak naik meniti puncak gunung tinggi murni murni hanya ditujukan untuk berdiskusi membahas keagungan makna suci jalan Dao di dalam bilik kuil yang hangat, pada hasil akhir filosofinya bagaimanapun juga tetaplah murni memeluk status selaku sesosok manusia egois tiada guna yang secara pengecut memilih opsi melarikan diri memalingkan wajahnya dari badai penderitaan sosial di dunia fana murni demi kenyamanan pribadinya semata. Alasan ilmiah itulah yang melatarbelakangi mengapa seorang praktisi Taois sejati berkewajiban penuh murni murni hanya ditujukan murni murni untuk mengenali secara klinis dan merawat kelangsungan hidup dunia luar. Keagungan ajaran suci jalan Dao selamanya bersumpah menolak dirawat murni murni hanya untuk dipendam secara pasif di dalam dada penggunanya semata, melainkan wajib diwujudkan secara aktif lewat gerakan pertolongan dari sepasang telapak tangan dan kakimu di medan laga!"

Getaran suara pidato moralitas yang dilepaskan secara berapi-api oleh bilik mulut Yoon Jong tersebut seketika bergema sangat jernih nan nyaring sekali menusuk lubang telinga siapa saja yang menghuni Aula Agung siang ini.

"Pemimpin Sekte Gunung Hua kami yang jasad agungnya tiada hentinya kupuja di sepanjang hidupku dijamin pasti akan bersedia memilih keputusan politik murni untuk menjual kepemilikan pedang baja pusakanya, dan bahkan bersumpah rela mencukur habis keutuhan janggut di wajahnya sekalipun seandainya keputusan tersebut secara nyata sanggup melahirkan mukjizat pangan menyelamatkan kelangsungan hidup orang banyak. Kepingan kejayaan sejarah Sekte Gunung Hua di masa lalu memang menyandang status selaku perkara hukum yang teramat sangat penting sekali bagi batin kami. Namun seandainya kepingan kejayaan sejarah sebersih itu terbukti sama sekali menolak menyuguhkan kaitan manfaat yang nyata bagi kelangsungan hidup rakyat fana di bawah langit, lalu atas dasar motif keilmuan jenis apa yang membolehkan nama besar Gunung Hua untuk tetap dipertahankan eksistensinya di dunia persilatan? Murni murni hanya ditujukan murni murni untuk memuaskan hasrat kesombongan spiritual dari segerombolan pendekar Taois pelit berpikiran kerdil?!"

Secara bertahap, kedua belah otot bahu jasad mudanya tampak mulai ditarik tegak ke atas, memamerkan kebanggaan batin yang teramat sangat kokoh nan berwibawa sekali di udara.

Seluruh keraguan batin dan prasangka buruk yang sempat menyiksa kewarasan logikanya di sepanjang rute perjalanan perbatasan kemarin sore secara luar biasa siang ini telah resmi dihancurkan hingga lebur tanpa sisa, menyisakan keteguhan iman baru yang tersaji sangat jernih nan kokoh sekali di sepanjang jiwanya.

"Jasad tuaku sepanjang tahun ini sebenarnya tiada hentinya meluangkan waktu logikaku murni murni hanya ditujukan murni murni untuk mencari jawaban atas misteri sejarah: Mengapa nama besar Gunung Hua wajib dipertahankan eksistensinya di dunia persilatan Murim? Mengapa Sekte Gunung Hua berkewajiban murni murni hanya ditujukan murni murni untuk merebut kembali keagungan kejayaan sejarah mereka di masa lalu? Apakah di sepanjang ingatan paman raksasa saat ini mengantongi jawaban hukumnya?"

"Jawaban yang mana?"

"Sebab jawaban hukumnya pada kenyataannya bersumpah sama sekali menolak ada sejak hari pertama!"

"..."

Sebuah jawaban filosofi yang tersaji sangat ganjil nan bertolak belakang sekali bagi logika politik.

Namun getaran suara yang dilepaskan oleh Yoon Jong siang ini bersumpah diselimuti secara rapat oleh keteguhan iman yang teramat sangat kokoh nan bersih dari keraguan seujung kuku pun.

"Nama besar Gunung Hua tidak menyandang kasta keagungan karena adanya sebaris alasan sejarah kuno; melainkan kasta keagungan tersebut merupakan sejenis tanggung jawab moral yang wajib diciptakan secara nyata oleh sepasang telapak tangan generasi penerusnya siang ini! Seandainya kejayaan sejarah Sekte Gunung Hua secara nyata sanggup menyodorkan kemakmuran finansial yang mempermudah kelangsungan hidup harian seluruh rakyat fana di bawah langit, maka seluruh jajaran murid sekte Gunung Hua secara hukum diperbolehkan murni murni hanya untuk memelihara kebanggaan batin atas kejayaan tersebut secara sah. Namun sebaliknya, seandainya kejayaan tersebut murni hanya berakhir sebatas disimpan murni murni hanya ditujukan murni murni untuk memuaskan kebanggaan internal sekte Gunung Hua kami semata, maka Sekte Gunung Hua secara otomatis dideklarasikan murni hanya memeluk kasta selaku faksi militer persilatan biasa yang keberadaannya sangat wajar sekali untuk digantikan oleh faksi sejenis lainnya di sepanjang sejarah persilatan Murim!"

Sebuah keteguhan tekad spiritual yang teramat sangat tebal nan kokoh sekali seketika terlihat mengalir menyatu menyelimuti setiap getaran suara yang dilepaskan oleh Yoon Jong siang ini.

Jawaban atas misteri sejarah persilatan yang telah ia cari di sepanjang nafas hidupnya sejak hari pertama ia menapakkan kaki di gerbang Gunung Hua.

Jawaban suci tersebut siang ini secara luar biasa akhirnya telah resmi dideklarasikan di hadapan dunia persilatan fana melalui perantaraan celah bibir mudanya secara gagah berani.

"Jasad tuaku secara pribadi bersumpah demi kehormatan pedangku akan bertindak memaksa nama besar Sekte Gunung Hua di masa depan bertransformasi menjadi sesosok faksi bela diri suci yang keutuhannya bersumpah menolak untuk digantikan oleh faksi lain mana pun di bawah langit! Jasad tuaku berjanji akan memaksa seluruh rakyat fana di bawah langit siang ini murni untuk ikut merayakan kegembiraan yang nyata atas kebangkitan kejayaan faksi Gunung Hua secara bersama-sama! Dan alur pengabdian luhur itulah yang kuklasifikasikan sebagai panggilan takdir suci tertinggi bagi kelangsungan hidup jasad tuaku selaku seorang murid sah dari Sekte Gunung Hua!"

Jasad raksasa Tuan Istana Binatang Barbar Selatan tampak gemetar halus menahan haru spiritual yang teramat sangat dahsyat membara di dadanya.

'Bagaimana caranya jasad seorang pemuda fana sanggup memamerkan keteguhan iman sebersih ini...'

Ia menyandang keteguhan tekad yang teramat sangat kokoh sekali.

Variabel perdebatan siang ini secara hukum sudah sama sekali menolak memedulikan urusan mengenai apakah sirkulasi arah keimanan bela dirinya menyandang nilai kebenaran ataukah kesalahan logika hukum di mata persilatan luar.

Sebab pemuda di depannya siang ini secara nyata telah membuktikan fakta berupa sirkulasi otaknya telah berhasil mencerna secara komprehensif nan bersih mengenai apa sebenarnya esensi sejati dari tugas luhur yang wajib diselesaikan oleh telapak tangannya, peranan moralitas apa yang wajib disandang oleh jasad jiwanya selaku praktisi bela diri Murim, serta rute jalan spiritual seperti apa yang wajib ia lalui di sepanjang nafas hidupnya selaku pendekar yang menempuh jalan pedang sekaligus jalan suci Dao.

Di antara jajaran pendekar muda Istana Binatang yang usianya menyandang kesetaraan dengan usia biologisnya siang ini, apakah kebetulan ada satu orang saja praktisi perbatasan yang kapasitas otaknya sanggup memamerkan tingkat kematangan filsafat hidup sedahsyat dan semendalam ini? Sama sekali menolak ada satu pun jasad sejenis.

'Sekte Gunung Hua.'

Faksi bela diri suci yang di masa lalu secara sukses melahirkan keagungan nama Santo Pedang Bunga Plum yang melegenda.

Sediaan ingatan di kepalanya sepanjang tahun ini murni hanya terbiasa menyerap desas-desus sejarah yang tiada hentinya memuja-muja kedahsyatan teknik jurus ilmu pedang mereka semata...

'Benar sekali. Sekte Gunung Hua pada hasil akhir sejarahnya bagaimanapun juga tetap memegang status resmi selaku faksi Taois suci yang mengultivasi jalan suci Dao.'

Gunung Hua merupakan sebuah sekte yang dibangun secara resmi oleh jajaran praktisi Taois suci yang mengabdikan sisa nafas hidup mereka murni murni hanya ditujukan untuk menyempurnakan keagungan jalan suci Dao.

Dan pendaran cahaya suci jalan Dao tersebut siang ini secara mukjizat telah resmi terbukti diwariskan secara sempurna menyelimuti sepanjang jasad pemuda di depannya secara nyata.

Tingkat kedahsyatan pendaran hawa sucinya bahkan dirasa sangat sanggup murni murni hanya untuk memaksa keangkuhan batin Tuan Istana perbatasan sekalipun untuk berlutut menundukkan kepalanya secara patuh menyembah keagungannya.

Tuan Istana Binatang Barbar Selatan memejamkan sepasang kelopak matanya erat.

Jasad tuanya di sepanjang tahun ini pada hasil akhirnya bersumpah telah secara memalukan memilih opsi kotor berupa membiarkan jasadnya melarikan diri dari bahaya kelaparan rakyatnya murni murni hanya di bawah dalih mematuhi aturan realitas adat klan semata.

'Sebuah perbuatan tidak sopan yang teramat memalukan sekali bagi martabat kepemimpinanku.'

Sepasang kelopak mata Tuan Istana Binatang seketika terbuka lebar kembali memancarkan kilatan wibawa hewani yang teramat sangat tajam berkilat tebal.

"Prajurit pengawal Istana Binatang! Pasang pendengaran kalian secara rapat!"

"Siap, Tuan Istana!"

"Detik ketika maklumat ini disuarakan siang ini, seluruh kafilah dagang kotor dari Dataran Tengah secara resmi dideklarasikan dilarang keras meluncurkan langkah kaki mereka memasuki Provinsi Yunnan kita selamanya!"

"Siap!"

"Mulai esok hari, satu-satunya faksi dagang asing yang secara hukum diperbolehkan meluncurkan transaksi perdagangan komoditas teh Yunnan murni hanya diberikan kepada kafilah dagang resmi yang membawa bendera representasi dari Sekte Gunung Hua!"

"T-Tuan Istana yang agung!"

"Kami memohon dengan sangat, harap secepatnya batalkan maklumat dagang..."

"Bungkam mulut kotor kalian!"

Tuan Istana meledakkan satu kali raungan kemarahan terbesarnya yang teramat sangat dahsyat membahana mengguncang seisi Aula Agung.

"Sampai batas menit ke berapa sebenarnya jasad kalian siang ini bersumpah tetap bersikeras menimbun porsi rasa malu yang memprihatinkan ini menghantam martabat kepemimpinanku?! Sesosok pemuda asing yang silsilah darahnya bersumpah sama sekali menolak memilik kaitan sejarah sedikit pun dengan tanah perbatasan Yunnan secara nyata rela menjual pedang baja pusakanya murni murni hanya ditujukan untuk menyalurkan pangan menyelamatkan kelangsungan hidup warga perbatasan kami yang miskin, namun sebagai balasannya, kalian menyuruh jasadku selaku Tuan Istana murni murni hanya untuk memalingkan wajahku membiarkan kematian melanda rakyat kami murni murni hanya demi melindungi sebaris wasiat kata leluhur yang kaku?! Apakah itu wujud keagungan harga diri ksatria yang tiada hentinya diinginkan oleh kepicikan otak kalian siang ini?!"

Seluruh jasad fisik Tuan Istana seketika memerah padam.

Bahasa tubuhnya yang tegang menegang kaku memaparkan secara sangat jelas sekali seberapa teramat dahsyatnya porsi emosi kemarahan moral yang sedang berkecamuk menghantam batinnya saat ini.

"Apakah ada satu saja komponen dari kalimat argumen yang disuarakan oleh pemuda tadi yang menyajikan kesalahan logika hukum?! Apakah jajaran leluhur pendahulu klan kita di masa lalu dulu merancang wasiat tersebut murni murni karena memendam hasrat spiritual ingin menyaksikan jasad anak cucunya berakhir mati kelaparan di perbatasan?! Seandainya jajaran pendahulu klan kita pada hasil akhirnya terbukti memelihara watak picik sekejam itu di alam sana, maka jasad tuaku secara resmi bersumpah menolak menunjukkan penghormatan rohani seujung kuku pun bagi wasiat mereka siang ini! Detik ketika arwah tuaku secara resmi melintasi gerbang kematian menemui jasad mereka di alam akhirat nanti, tuaku berjanji akan berdiri paling depan menegakkan bahu raksasaku secara gagah berani bersuara lantang menyuarakan kebenaran di depan wajah mereka! Tuaku akan secara lantang menegaskan bahwa bagi batin tuaku, kelangsungan hidup pangan rakyat Yunnan kita menyandang derajat nilai yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih berharga nan suci seandainya disandingkan dengan sebaris aturan wasiat kaku leluhur!"

Jajaran Pelindung Istana secara serentak langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam menghadap tanah.

Apakah itu menandakan bahwa sirkulasi batin mereka sepanjang abad ini pada kenyataannya memang sama sekali menolak memedulikan nasib pangan rakyat Yunnan mereka?

Tepat pada detik keheningan tersebut melanda, Pelindung Pertama klan perbatasan meluncurkan langkah kakinya berjalan maju ke depan dan membungkukkan jasad mudanya dalam-dalam menghadap lurus ke arah podium Tuan Istana.

"Segera eksekusi seluruh keputusan bisnis tersebut sesuai dengan wewenang kehendak Anda, Tuan Istana."

"..."

"Karena jasad tuaku merupakan sosok pendekar yang dijamin pasti akan terlebih dahulu melintasi gerbang kematian meluncur menemui jajaran leluhur di alam akhirat nanti seandainya disandingkan dengan sediaan usia kalian, maka tuaku berjanji akan bertindak selaku orang pertama yang akan menegakkan leher tuaku memohon maaf atas dosa pembangkangan adat klan kita siang ini. Seandainya satu buah coretan noda kehinaan sosial yang menimpa jasad tuaku siang ini secara nyata sanggup melahirkan mukjizat pangan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat Yunnan kami, maka detail kehinaan sepele sekelas itu bersumpah sama sekali menolak memilik nilai guna penting untuk dicemaskan bagi batin tuaku."

"...Pelindung Pertama."

"Durasi waktu penderitaan rakyat perbatasan kita bersumpah telah bergulir terlampau sangat lama sekali. Sangat lama sekali. Batin tuaku meyakini dengan sangat bersih bahwa jasad klan kita sepanjang abad ini secara nyata telah menanggung beban penderitaan yang tersaji jauh dari kata cukup bagi bumi perbatasan. Jasad tua kami yang keras kepala nan picik berpikir ini bersumpah demi langit sepanjang tahun kemarin murni hanya memelihara kebodohan hingga menolak mendeteksi arah kebenaran logikanya. Detik ini, berkat perantaraan lisan Pendekar Taois dari sekte Gunung Hua di bawah podium tadi, sirkulasi saraf di kepala tua kami akhirnya secara ajaib telah berhasil dipaksa terbangun sadar meniti kembali akal sehat kemanusiaan kami yang sesungguhnya. Menyadari fakta memprihatinkan berupa jasad klan kami sepanjang abad ini tiada hentinya dipaksa berlari mengejar bayangan kosong dari sebuah harga diri semu tiada guna. Merupakan sebutir takdir keberuntungan yang luar biasa bagi klan kita karena telah berhasil menyadarinya siang ini."

Tuan Istana Binatang menganggukkan kepala raksasanya pelan tanda menyetujui kebenaran filosofi tersebut.

"Semua pengawal dan prajurit perbatasan, pasang pendengaran kalian secara rapat!"

"Siap, Tuan Istana!"

"Tuaku bersumpah menolak memberikan toleransi hukum bagi adanya gerakan pembangkangan moral dalam bentuk apa pun di perbatasan Yunnan siang ini! Seandainya sirkulasi batin kalian secara hukum masih bersedia mengakui jasad tuaku selaku pemimpin tertinggi Istana Binatang dan merawat nilai wibawa kepemimpinanku, maka jasad kalian dilarang keras meluncurkan kalimat perdebatan seujung kata pun mengenai urusan ini selamanya! Jasad tuaku secara resmi menjatuhkan keputusan adat memberikan hak monopoli eksklusif bagi faksi Gunung Hua, dan buka kembali gerbang perdagangan teh menuju ke Dataran Tengah sekarang juga!"

"Kami siap mematuhi maklumat Anda, Tuan Istana!"

Ratusan prajurit pengawal Istana Binatang secara serentak langsung menjatuhkan jasad mereka berlutut menyembah secara patuh nan khidmat di tempat.

Tepat pada detik kepatuhan massal itu mengunci halaman plaza, Tuan Istana Binatang Maeng So meluncurkan seutas pandangan matanya menyapu ke arah sekeliling koridor sebelum akhirnya meluncurkan langkah kaki besarnya berjalan meniti anak tangga turun menuju ke podium bawah secara perlahan.

Mengayunkan langkah kaki besarnya berjalan tegap ke depan, ia memaku posisi berdirinya tepat satu jengkal di depan wajah Chung Myung dan Yoon Jong, seulas senyuman manis nan hangat terukir indah di wajah tuanya.

"Jasad tuaku bersumpah sama sekali menolak mengantongi sediaan kalimat lainnya siang ini selain dari untaian kalimat ucapan terima kasih yang terdalam bagi kalian berdua."

"Paman raksasa tidak perlu bersusah payah menyuarakan kalimat ucapan sepele sejenis. Jasad tuaku secara pribadi murni hanya merasa sangat bersyukur sekali siang ini karena seluruh sirkulasi urusannya secara ajaib dapat berakhir diselesaikan secara sangat elok nan mulus."

Mendengar bait kalimat rileks yang disuarakan oleh Chung Myung tersebut, Tuan Istana melepaskan suara tawa bahagianya yang teramat sangat renyah sekali dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Di masa perjamuan kemarin siang, jasad tuaku secara hukum memang murni hanya bersedia menerima kedatangan jasad kalian berlima selaku Tamu Agung di markas kami murni karena didorong oleh adanya motif politik terselubung semata."

"..."

"Namun detik maklumat ini resmi dideklarasikan siang ini, seluruh variabel politik kotor sejenis secara sah dideklarasikan lenyap menguap tanpa sisa. Jasad tuaku siang ini bersumpah menolak menerima kedatangan kalian murni karena status sosial kalian selaku penerus Santo Pedang Bunga Plum semata, melainkan secara tulus murni menerima jasad kalian selaku sahabat karib sejati bagi kelangsungan hidup klan Istana Binatang kami selamanya. Mulai detik ini, siapa saja murid Gunung Hua yang melangkahkan kaki mereka melintasi gerbang perbatasan Provinsi Yunnan dijamin pasti akan menerima porsi perlakuan dan perlindungan hukum yang setara dengan murid Istana Binatang kami sendiri, dan bersumpah dilarang keras bagi siapa pun murni murni hanya untuk meluncurkan tindakan diskriminasi sosial sedikit pun hanya karena jasad mereka berasal dari Dataran Tengah!"

Baek Cheon meluncurkan langkah kakinya berjalan maju ke depan barisan.

Detik ketika Chung Myung dan Yoon Jong secara tertib meluncurkan gerakan bergeser mundur memberikan ruang gerak di depan, Baek Cheon memaku posisi berdirinya tepat di area koordinat tengah dan secara anggun menyodorkan Penghormatan Kepalan dan Telapak Tangan yang teramat sangat khidmat sekali ke arah wajah Tuan Istana.

"Mewakili keutuhan nama besar Sekte Gunung Hua, jasad tuaku menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya atas kemurahan hati dan perlindungan hukum yang Anda berikan, Tuan Istana."

"Jasad rombongan kalian secara nyata telah meluncur datang di momentum waktu yang teramat sangat tepat sekali bagi perbatasan kami. Sangat tepat..."

Tuan Istana Binatang mengarahkan pandangan matanya menatap mendongak ke atas langit biru.

Pancaran sinar matahari Provinsi Yunnan tampak bersinar teramat sangat terik nan menyala tebal menyelimuti bumi perbatasan pagi ini.

Tuan Istana menurunkan kembali pandangan matanya ke bawah, merapatkan jari jemari raksasanya mencengkeram erat telapak tangan kanan Baek Cheon secara kokoh nan hangat.

"Jasad kalian bersumpah benar-benar meluncur datang di momentum waktu yang teramat sangat tepat sekali bagi keselamatan rakyat kami."

"Jasad rombongan kami juga menaruh penilaian rohani berupa: merupakan sebuah takdir keberuntungan yang teramat sangat elok sekali bagi pedang kami siang ini karena telah secara sukarela mengambil keputusan melintasi gerbang Yunnan."

Baek Cheon tersenyum manis nan tipis di wajahnya dan menganggukkan kepalanya pelan.

Di saat yang sama, Tuan Istana memalingkan sorot pandangan matanya menatap lurus tepat ke arah wajah Yoon Jong.

"Dan... Pendekar Taois Yoon Jong."

"Ya, Tuan Istana yang agung."

"Berkat perantaraan untaian kalimat filosofi hidup yang kau suarakan di sepanjang pagi ini, jasad tuaku secara pribadi secara nyata telah berhasil menyerap sebutir pelajaran spiritual yang teramat sangat berharga sekali bagi batin tuaku. Meskipun sasis jasad tuaku bagaimanapun juga tetaplah murni memeluk status selaku seorang pria barbar yang menolak dibekali pengetahuan jalan suci Dao ataupun aturan ksatria Dataran Tengah, namun setidaknya siang ini sepasang lubang telinga tuaku telah secara sah membuktikan fakta spiritual berupa keagungan jalan suci Dao yang sesungguhnya secara nyata tersimpan kokoh di dalam Sekte Gunung Hua kalian."

"Kemewahan pujian Anda bersumpah telah memicu lahirnya rasa malu yang nyata merayap menyelimuti batin kerdil tuaku, Tuan Istana."

"Seandainya durasi waktumu di masa depan berkenan, harap luangkan waktu luangmu sesekali murni murni hanya ditujukan untuk meluncurkan perjalanan wisata mengunjungi Yunnan kami kembali murni untuk membimbing batin tuaku menyempurnakan jalan suci Dao."

"Jasad tuaku pada hasil akhirnya murni hanyalah memeluk status selaku sesosok praktisi Taois muda yang sepanjang hari ini tiada hentinya dipaksa merayap terseok-seok meniti latihan fisik dasar sekte kami. Seandainya sediaan filsafat suci di dalam batin kerdil tuaku ini disandingkan secara langsung dengan keagungan jalan suci Dao yang dimiliki oleh Pemimpin Sekte dan jajaran Dewan Tetua sekte kami, maka sediaan filsafat tuaku siang ini bersumpah murni hanya layak diklasifikasikan selaku sebaris bait omong kosong tidak berguna yang disuarakan oleh seorang manusia lancang semata."

"Hahahaha. Seandainya tingkat kedahsyatan jalan Dao Pemimpin Sekte kalian tersaji sebersih itu bagi logikaku, maka arah langkah operasional berikutnya secara otomatis mewajibkan jasad tuaku murni murni hanya ditujukan untuk meluncurkan perjalanan wisata pribadi mengunjungi gerbang sekte Gunung Hua kalian secara langsung di Shaanxi. Sangat tidak adil secara fisik seandainya jasad tuaku memaksa beliau menempuh perjalanan dinas yang terlampau jauh melintasi ribuan mil menuju Yunnan ini bukan?"

Sembari meledakkan suara tawa bahagianya yang teramat sangat renyah membahana memenuhi halaman plaza, Tuan Istana Binatang Maeng So secara luar biasa langsung mendaratkan satu pukulan telapak tangan raksasanya berkali-kali menghantam pundak jubah Chung Myung secara berapi-api.

"Mengingat Sekte Gunung Hua kalian sepanjang sejarah abad ini secara nyata telah dibekali secara rapat oleh keindahan jalan Dao sekaligus ketajaman ilmu bela diri pedang tingkat tinggi di saat yang sama, jasad tuaku berani bertaruh koin perak tidak akan membutuhkan durasi waktu yang lama bagi kas sekte kalian murni murni hanya untuk merebut kembali keagungan kejayaan sejarah masa lalu kalian di bawah langit Murim. Apakah kebetulan diperbolehkan bagi tangan klan Istana Binatang kami siang ini murni murni hanya ditujukan untuk meluangkan sedikit peran menopang laju kebangkitan faksi kalian?"

"Ayy, paman raksasa. Seandainya sirkulasi keputusan adat klan kalian sejak awal memang memendam hasrat membara murni murni hanya ditujukan murni murni untuk menyodorkan aliran koin perak raksasa memadati kas keuangan sekte kami, atas dasar alasan hukum apa yang membolehkan telapak tangan faksi kami murni murni hanya ditujukan untuk meluncurkan gerakan penolakan?"

"Apa?! Kuhahahaha!"

Tuan Istana Maeng So—yang batinnya sepanjang pagi ini secara nyata telah dipenuhi oleh kegembiraan emosional yang teramat sangat melimpah ruah sekali—tiada hentinya mendaratkan tepukan tangan raksasanya menghantam pundak jubah Chung Myung secara berapi-api.

"...Jasad mudaku dipastikan akan benar-benar berakhir menemui ajal kematian siang ini seandainya porsi tepukan keras ini terus kau biarkan mendarat di pundakku, paman raksasa."

"Oalah, benar sekali!"

Chung Myung—yang jasad mudanya secara luar biasa telah kembali terbenam masuk terkubur di bawah tanah plaza hingga menyentuh batas lutut mudanya akibat tepukan tadi—menarik keluar sepasang kaki mudanya secara perlahan dari bawah tanah sambil tiada hentinya menyuarakan gumaman kesal dari sela bibirnya.

Ia bersuara ketus.

"Terlepas dari seluruh harmonisasi persaudaraan klan kita siang ini, perjanjian tertulis di sepanjang dokumen kontrak dagang teh tetaplah merupakan selembar hukum tertulis yang sah bagi bisnis kita. Harap pastikan jasad klan Anda bersedia mematuhi setiap detail klausul dagang di dalamnya secara disiplin."

"Perkara bisnis sepele sekelas itu bersumpah sama sekali menolak membutuhkan sediaan jaminan tambahan dari mulut tuaku! Komitmen lisan yang disuarakan oleh sepasang bibir ksatria sejati pada kenyataannya menyandang nilai guna yang puluhan kali lipat jauh lebih berharga seandainya disandingkan dengan ribuan kepingan logam emas murni!"

"Baiklah, jasad tuaku akan menaruh kepercayaan penuh bagi komitmen Anda siang ini. Sebab jasad rombongan kita berdua bagaimanapun juga telah resmi menyandang status sebagai Sahabat Karib sejati bukan?"

"Hahaha! Benar sekali, sepasang Sahabat Karib yang abadi!"

Kedua belah pihak pendekar tersebut secara bersamaan mengulas seulas senyuman manis nan hangat di wajah masing-masing, dan secara mantap saling menggenggam erat telapak tangan satu sama lain.

"Jika seluruh sirkulasi bisnisnya telah selesai dirapikan, apakah diperbolehkan bagi jasad rombongan kalian murni murni hanya ditujukan untuk memperpanjang durasi waktu kunjungan wisata kalian menetap di markas kami selama beberapa hari ke depan? Sirkulasi penyimpanan komoditas arak Arak Bunga Persik hasil pemurnian baru klan kami dijamin pasti akan segera resmi dideklarasikan siap dikonsumsi dalam kurun waktu beberapa hari ke depan."

"Mm. Tawaran arak gratis sebersih itu bersumpah menyajikan tingkat daya pikat rohani yang teramat sangat menyiksa sekali bagi indra pendengaran tuaku, Tuan Istana... Namun sangat disayangkan sekali bagi kelangsungan lidah tuaku, jasad rombongan kami siang ini secara resmi diwajibkan oleh takdir murni murni hanya ditujukan untuk segera memutar jubah kami berjalan pulang kembali ke sekte."

"Apakah kelayakan kaki kalian memang harus terburu-buru melarikan diri secepat ini?"

"Benar sekali. Terdapat puluhan jasad orang suci di gerbang sekte kami di Shaanxi yang saat ini sedang berdiri menanti kepulangan jasad rombongan kami menggunakan sediaan nafas yang terengah-engah menahan cemas."

Chung Myung memalingkan kelopak matanya menatap lurus membelah area kaki langit perbatasan Provinsi Yunnan yang terasing dari kejauhan.

'Jasad tuaku sepanjang tahun ini pada kenyataannya memang telah secara sukarela membiarkan jasad mudaku melangkah pergi mengembara terlalu jauh nan lama sekali dari rumah.'

Atmosfer batinnya secara tidak sadar seketika mulai memendam sebutir rasa kerinduan spiritual yang teramat sangat mendalam sekali terhadap kenyamanan rumah lamanya.

Rimbunnya lanskap puncak tebing gunung tinggi yang tersaji sangat curam nan terjal.

Keharuman aroma dupa suci yang tiada hentinya melayang lembut menyelimuti udara ruang kuil utama.

Serta gema suara ledakan tawa bahagia dari Pemimpin Sekte Hyeon Jong beserta jajaran Dewan Tetua sekte Gunung Hua saat jasad mereka secara sukses meluncurkan tawa menyambut kepulangan jubah muridnya.

"Sesosok murid sah dari Sekte Gunung Hua pada hasil akhir takdirnya bagaimanapun juga bersumpah menolak diperbolehkan oleh alam murni murni hanya ditujukan untuk menghabiskan sisa nafas hidupnya tinggal menetap terasing dari area Gunung Hua. Tiba saatnya bagi kaki tuaku untuk berjalan pulang."

"Sebuah peristiwa perpisahan yang teramat sangat menyedihkan nan disayangkan sekali bagi batin tuaku."

"Paman raksasa sama sekali menolak diperizinkan murni murni hanya untuk menimbun kesedihan batin sepele sekelas itu di dadamu. Jasad rombongan kita dijamin pasti akan kembali dipertemukan secara fisik dalam hitungan bulan di masa depan. Detik ketika ada satu saja bencana tempur yang nekat melanda kelangsungan hidup klan perbatasan Yunnan kalian di masa depan nanti, jasad murid Gunung Hua kami bersumpah demi para leluhur akan langsung melesatkan lari cepat kami meluncur menyalurkan pertolongan pedang bagi klan kalian."

"Hahaha! Komitmen lisanmu itu bersumpah menyajikan tingkat ketenangan batin yang teramat sangat luar biasa besar sekali bagi kas keamanan klan kami!"

Setelah merampungkan sesi penyampaian kalimat ucapan salam perpisahan adat yang resmi nan khidmat dengan Tuan Istana Binatang yang terus memamerkan raut wajah kesedihan rohaninya sepanjang menit tadi, jajaran murid Gunung Hua secara bersamaan memantapkan buntelan kain bawaan mereka di pundak masing-masing, dan secara sangat teratur sekali mulai meluncurkan langkah kaki mereka berjalan keluar membelah pintu gerbang utama kompleks Istana Binatang Barbar Selatan.

Dan tepat di sepanjang detik perpisahan tersebut bergulir!

"Tamu Agung klan kita secara resmi telah meluncurkan langkah kakinya berjalan pergi meninggalkan gerbang perbatasan!"

*DUM!* *DUM!* *DUM!* *DUM!* *DUM!* *DUM!*

Ratusan prajurit pengawal Istana Binatang—yang sejak tadi siang tiada hentinya memaku posisi berdiri mereka merapatkan barisan secara rapi—secara luar biasa secara serentak langsung meluncurkan gerakan menghempaskan sepasang telapak kaki raksasa mereka menghantam permukaan tanah daratan secara serentak berulang kali.

Kedahsyatan daya hantaman stomping kaki massal dari ratusan pendekar bela diri tingkat tinggi tersebut bersumpah menyajikan getaran resonansi fisik yang teramat sangat dahsyat sekali, hingga sanggup memicu lahirnya guncangan fisik yang menyerupai bencana gempa bumi berskala masif di sepanjang halaman gerbang utama.

"Faksi Istana Binatang bersumpah menolak melupakan kebaikan rohani dari Sahabat Karibnya!"

"Faksi Istana Binatang bersumpah menolak melupakan kebaikan rohani dari Sahabat Karibnya!"

Mengikuti komando getaran suara teriakan yang disuarakan oleh Tuan Istana Maeng So dari atas podium, ratusan prajurit pengawal Istana Binatang secara serentak kembali meledakkan getaran suara teriakan sumpah persaudaraan mereka menggunakan kekuatan volume suara yang teramat sangat lantang nan membahana memenuhi angkasa perbatasan.

Kelima murid Gunung Hua secara bersamaan memutar arah jubah mereka berbalik menghadap ke arah podium kembali.

Keindahan visual dari aksi penyembahan stomping kaki massal yang diperagakan secara gagah berani oleh ratusan pendekar perbatasan sambil memaku pandangan mata mereka menatap lurus ke arah posisi berdiri mereka siang ini secara luar biasa telah sukses terpatri secara abadi nan mendalam sekali di sepanjang sirkulasi ingatan jajaran murid.

Segumpal rasa haru spiritual dan luapan emosi kebahagiaan yang teramat sangat tebal sekali seketika merayap naik membelah rongga dada masing-masing murid, memaksa tenggorokan mereka tersumbat sesak menahan rembesan air mata keharuan.

Jasad mereka pada hari pertama dulu melintasi gerbang Yunnan perbatasan secara memalukan memang dideklarasikan terpaksa melangkah masuk menyerupai sesosok sandera tahanan politik klan perbatasan yang kotor, namun siang ini saat jasad kaki mereka bersiap melangkah keluar meninggalkan gerbang Yunnan, nama besar faksi mereka secara sah dideklarasikan berjalan pulang menyandang gelar selaku Sahabat Karib sejati perbatasan yang abadi.

"Rombongan jasad faksi kita dijamin pasti akan kembali dipertemukan secara fisik di masa depan!"

Baek Cheon meledakkan teriakan lantangnya sekuat tenaga membelah kebisingan gerbang utama dan secara anggun menyodorkan Penghormatan Kepalan dan Telapak Tangan terakhirnya ke arah podium.

Kemudian, setelah secara tegas memaksa batinnya membuang jauh-sisa kemelekatan batin dan kesedihan perpisahan sepele dari sepanjang jiwanya, ia memutar poros jasad mudanya berbalik arah melangkah pergi.

Sebab prosesi perpisahan yang tersaji secara bersih nan elok pada kenyataannya selamanya menyandang keindahan estetika yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih mulia seandainya disandingkan dengan prosesi perpisahan yang diselimuti oleh drama duka yang berlarut-larut.

Sama sekali menolak memendam sebutir alasan medis murni murni hanya ditujukan untuk merawat kesedihan batin siang ini, mengingat di masa depan nanti jasad mereka dijamin pasti akan kembali dipertemukan secara fisik di tempat ini.

Oleh karena itu...

Mari kita segera langkahkan kaki berjalan pulang kembali menuju ke kuil sekte Gunung Hua sekarang juga.

Menuju ke tempat di mana kehangatan cinta kasih dari seluruh warga sekte senantiasa menanti kepulangan jubah muridnya.

Chung Myung

Chung Myung

Karakter Utama
Baek Cheon

Baek Cheon

Pendukung
Yu Iseol

Yu Iseol

Heroine
Yoon Jong

Yoon Jong

Pendukung
Jo Gul

Jo Gul

Pendukung
Tang Gunak

Tang Gunak

Pendukung
Hyeyeon

Hyeyeon

Pendukung
Lim Sobyeong

Lim Sobyeong

Pendukung
Jang Ilso

Jang Ilso

Antagonis
Hyun Jong

Hyun Jong

Pendukung
Hyun Young

Hyun Young

Pendukung
Tang Soso

Tang Soso

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.