Chapter 237: Jadi Ini Adalah Neraka. (2)
"Begitulah seluruh urutan kejadian hukumnya."
"...Astaga."
Gwak Gyeong—Pimpinan Divisi dari Kafilah Dagang Peaceful Harmony—secara luar biasa seketika membiarkan rahang bawah garis wajah tuanya terayun jatuh terbuka lebar menahan terkejut.
"Apakah jasad Anda barusan benar-benar sedang menegaskan fakta berupa rombongan faksi kalian telah secara sah berhasil mengamankan komitmen kerja sama dari pihak Istana Binatang perbatasan?"
"Benar sekali."
Mendengar bait kalimat jawaban tenang yang disuarakan oleh Baek Cheon tersebut, Gwak Gyeong sempat dibuat terdiam membisu kehilangan sediaan kata di kepalanya selama beberapa saat.
'Raut garis wajah pemuda di depanku ini bersumpah sama sekali menolak memamerkan sisa kebohongan sekecil apa pun.'
Namun kebenaran fakta yang tersaji di hadapannya saat ini dirasa benar-benar terlampau sangat tidak masuk akal sekali untuk dicerna.
Sebab catatan sejarah mencatatkan fakta berupa sudah hampir seratus tahun lamanya pihak Istana Binatang secara konsisten menegakkan aturan adat kaku yang melarang keras diluncurkannya transaksi perdagangan komoditas teh perbatasan Yunnan dengan pihak Dataran Tengah mana pun.
Mengingat betapa teramat sangat melimpah ruahnya sediaan keuntungan finansial yang terkandung di sepanjang komoditas teh Yunnan tersebut, puluhan kafilah dagang raksasa yang menghuni Provinsi Sichuan sepanjang tahun kemarin sebenarnya tiada hentinya meluncurkan aksi negosiasi diplomasi murni murni hanya ditujukan untuk merayu kelunakan hati Tuan Istana Binatang.
Namun terlepas dari besarnya kuantitas logistik dan lamanya kurun waktu usaha diplomasi yang telah mereka tumpahkan selama puluhan tahun tersebut, sasis keteguhan tekad Istana Binatang terbukti tetap berdiri kokoh menolak digoyahkan oleh siapa pun.
Lalu atas dasar keajaiban takdir jenis apa yang membolehkan segerombolan pendekar Taois yang teramat sangat muda sekali sekelas rombongan murid Gunung Hua ini murni murni hanya untuk meruntuhkan kekakuan tekad mereka siang ini?
"L-Lalu... hak monopoli eksklusif yang sempat Anda suarakan barusan?"
"Mulai detik ini, seluruh transaksi sirkulasi perdagangan daun teh di perbatasan Yunnan secara hukum murni hanya diperkenankan untuk dieksekusi di bawah bendera resmi Sekte Gunung Hua kami."
"M-Mohon tunggu langkah penjelasan Anda sejenak, Pendekar Agung! Jika ketetapan hukumnya berjalan kaku sebersih itu, lalu bagaimana nasib kelangsungan hidup kafilah dagang faksi kami...!"
Baek Cheon memalingkan sedikit poros pandangan matanya melirik halus ke arah posisi berdiri Jo Geol.
Mencerna secara kilat isyarat mata Sasuk-nya tersebut, Jo Geol tersenyum hangat dan secara anggun menyodorkan Penghormatan Kepalan dan Telapak Tangan di dada.
"Jasad rombongan kami bersumpah sama sekali menolak memelihara watak kacang lupa kulitnya murni murni hanya untuk melupakan kebaikan rohani dari Kafilah Dagang Peaceful Harmony yang sepanjang minggu ini telah secara sukarela bersedia membimbing rute perjalanan rombongan kami hingga mendarat selamat di Yunnan ini. Seluruh kafilah dagang luar mana pun yang di sepanjang perjalanannya mengantongi dokumen izin resmi yang membawa nama representasi Gunung Hua di Sichuan secara otomatis tetap diperkenankan secara hukum murni murni untuk meluncurkan transaksi niaga teh melintasi gerbang Yunnan, sehingga sirkulasi bisnis harian kalian dijamin pasti tetap menolak mengalami perubahan struktural sedikit pun."
"Ah..."
Sebungkus rasa kelegaan spiritual yang teramat sangat besar sekali seketika terlihat meluncur menyapu kebersihan garis wajah Gwak Gyeong.
'Perkara bisnis satu ini pada kenyataannya bersumpah sama sekali menolak diklasifikasikan selaku urusan dagang sepele.'
Fakta hukum berupa kafilah dagang mana pun yang menggunakan representasi nama besar Gunung Hua akan secara otomatis diizinkan secara resmi murni murni untuk meluncurkan transaksi dagang teh Yunnan secara bebas, secara tidak langsung menegaskan konfirmasi hukum berupa faksi Gunung Hua saat ini telah secara sah bertindak selaku pihak tunggal tertinggi yang memegang penuh kendali atas sirkulasi perdagangan komoditas teh Yunnan di sepanjang wilayah Sichuan.
Secara sederhana, mulai detik ini, Sekte Gunung Hua secara luar biasa diperkenankan oleh takdir murni murni hanya untuk mendayagunakan hak monopoli teh Yunnan tersebut sebagai sebilah pedang ekonomi raksasa murni murni ditujukan murni ditujukan untuk mengendalikan arah sirkulasi harian seluruh kafilah dagang raksasa di Sichuan sesuka hati mereka.
Mengingat sirkulasi perdagangan teh Yunnan tiada hentinya menyemburkan kuantitas limpahan koin perak yang teramat sangat gila luar biasa sekali bagi kas keuangan sekte, maka seluruh kafilah dagang asing di luar afiliasi mereka yang menolak tunduk patuh di bawah arahan Gunung Hua secara otomatis dijamin pasti akan segera tersingkir hancur dari peta persaingan dagang perbatasan akibat kehabisan sediaan modal finansial dalam sekejap.
'Sekarang sama sekali menolak memegang kasta sebagai momentum yang tepat bagi tangan tuaku murni murni hanya ditujukan untuk mengurusi kelancaran transaksi niaga teh sepele klan kami di pasar.'
Prioritas target pertama yang wajib ia selesaikan secepatnya siang ini murni hanyalah meluncurkan langkah kakinya mengirimkan laporan darurat mengenai kemunculan pedang ekonomi Gunung Hua ini ke hadapan Pemimpin Besar kafilah dagang mereka di markas pusat.
Hanya dengan menggunakan perantaraan tindakan kilat sejenis, sasis kafilah dagang mereka dijamin pasti akan sanggup merumuskan draf langkah antisipasi keselamatan bisnis mereka di masa depan secara aman.
Dan di atas seluruh rentetan kalkulasi bisnis tersebut...
Gwak Gyeong memalingkan sepasang kelopak matanya menatap lurus tepat ke arah wajah Jo Geol.
Sosok putra kedua yang menyandang status selaku pewaris sah dari faksi 'Kafilah Dagang Empat Samudra'.
Mengingat secara wibawa politik akan terkesan sangat kurang elok sekali bagi sasis sekte Taois suci sekelas Gunung Hua murni murni hanya ditujukan untuk meluncurkan operasi gurita bisnis mereka secara langsung di lapangan komersil Sichuan, maka silsilah keputusan sekte secara otomatis diwajibkan murni murni hanya untuk menyodorkan sesosok faksi agen perantara dagang yang sah di lapangan.
Dan menimbang kaitan hubungan darah yang dimiliki oleh Jo Geol selaku murid Gunung Hua sekaligus putra pimpinan Kafilah Dagang Empat Samudra, peluang bagi terpilihnya nama besar Kafilah Dagang Empat Samudra selaku agen tunggal representasi dagang Gunung Hua bersumpah menyajikan tingkat kebenaran logika pertahanan yang teramat sangat mutlak sekali.
Setelah merapikan rentetan kalkulasi ekonominya secara bersih di kepala, Gwak Gyeong secara luar biasa langsung menyodorkan Penghormatan Kepalan dan Telapak Tangan di dada dengan raut wajah memancarkan kehangatan senyuman yang teramat cerah.
"Jasad tuaku menyampaikan bait ucapan selamat yang terdalam atas keberhasilan negosiasi faksi kalian. Jasad rombongan Anda siang ini secara nyata telah berhasil mengamankan kepingan kemakmuran raksasa yang teramat luar biasa sekali bagi masa depan sekte."
"Pujian Anda terlampau berlebihan bagi kapasitas kerdil faksi kami."
"Jika demikian detail urusannya, maka jasad rombongan Anda dipastikan akan segera memutar langkah jubah kalian kembali menuju Sichuan siang ini bukan? Divisi kafilah dagang kami secara sukarela bersedia menawarkan jasa pengawalan perjalanan luar bagi rombongan kalian, bagaimana arah pertimbangan batin Anda?"
"Sirkulasi pendengaran tuaku mendeteksi informasi berupa sediaan jadwal operasional dagang divisi kalian di Yunnan saat ini bersumpah belum sepenuhnya selesai dikerjakan bukan?"
"Urusan dagang perbatasan sepele sekelas itu bersumpah sama sekali menolak memilik nilai urgensi yang penting siang ini. Jasad rombongan kami kebetulan juga baru saja merumuskan keputusan adat murni murni hanya ditujukan murni murni untuk memutar arah gerobak kami pulang kembali ke Sichuan siang ini."
Sirkulasi otak Gwak Gyeong tiada hentinya meluncur cepat menyusun taktik diplomasi.
Detik ini, membangun batu fondasi persahabatan spiritual yang kokoh bersama murid Gunung Hua menyandang kasta urgensi yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih penting nan mulia seandainya disandingkan secara langsung dengan urusan transaksi niaga teh sepele di pasar perbatasan.
Bahkan seandainya dewi keberuntungan bersedia meluangkan bantuannya siang ini, jalan keluar terbaik yang wajib ia perjuangkan murni hanyalah mengawal kepulangan jasad rombongan murid Gunung Hua secara sangat terhormat nan hati-hati sekali langsung mendarat kokoh di gerbang markas pusat Kafilah Dagang Peaceful Harmony.
Detik ketika ia secara luar biasa sanggup merancang panggung diplomasi megah di mana Pemimpin Besar kafilah dagang mereka secara sukarela meluncurkan langkah kakinya berlari kencang keluar pintu gerbang menyambut hangat kedatangan murid Gunung Hua dengan tangan terbuka lebar di depan umum, maka keutuhan masa depan bisnis klan mereka di Sichuan dijamin pasti akan langsung terkunci aman selamanya.
Namun sangat disayangkan bagi kelangsungan batinnya, getaran kalimat penolakan yang meluncur keluar dari bilik mulut Baek Cheon secara instan langsung menghancurkan keutuhan harapan manis di kepala Gwak Gyeong berkeping-keping.
"Jasad tuaku menghargai kebaikan niat Anda, namun rombongan kami terpaksa memilih opsi murni murni untuk berjalan pulang secara terpisah. Kami saat ini sedang dikejar oleh batasan waktu darurat."
"Rute jalan perbatasan yang terbentang memisahkan koordinat tempat ini menuju ke Sichuan menyajikan tingkat bahaya dan keterjalan geografi yang teramat sangat ekstrem nan memprihatinkan sekali bagi keselamatan jubah rombongan kalian, Pendekar Agung. Menggunakan bantuan divisi pengawal bersenjata kami bersumpah merupakan satu-satunya jalan keluar tercepat nan paling aman murni murni hanya ditujukan murni murni untuk menembus Sichuan. Terlebih lagi, sangat mustahil bagi tangan kalian murni murni hanya untuk mendapatkan sediaan sewa kuda pertempuran cadangan di perbatasan Yunnan siang ini."
"Ah, perkara hukum sepele sekelas itu..."
Baek Cheon menggaruk halus bagian belakang leher kepalanya canggung.
Tepat di saat sirkulasi otaknya sedang dilanda oleh kebingungan darurat mengenai formula kalimat penjelasan logis jenis apa lagi yang wajib ia suarakan murni murni hanya ditujukan untuk menerangkan situasi mereka, sebutir gulungan awan kepulan debu tebal secara mendadak terlihat meluncur naik membelah kejauhan ujung jalan luar.
"...Tampaknya kawanan kuda pertempuran milik rombongan kami secara ajaib telah resmi tiba siang ini?"
"Maaf?"
Mengikuti arah sapuan pandangan mata Baek Cheon ke depan, Gwak Gyeong memutar poros kepalanya miring dan seketika itu juga sepasang kelopak matanya terbelalak sangat lebar menahan ngeri ketakutan.
"Uwaaaaaaaah!"
"Cepat lari! Lari sekuat tenagamu!"
"Heeheeheeeheeheeng!"
Belasan bandit gunung Bandit Harimau Penghalang—yang seluruh permukaan jasad kotor mereka saat ini sedang dipaksa menempel erat di sepanjang sasis badan kereta kargo kayu raksasa—tampak sedang meluncurkan lari cepat tempur mereka menuju ke arah gerbang dengan tempo kecepatan yang teramat gila luar biasa sekali, bilik lidah mereka tampak terjulur keluar menahan napas yang terengah-engah megap-megap.
"Keuk!"
"Jasad kita... jasad kita secara resmi telah berhasil mendarat selamat!"
Belasan bandit gunung tersebut—detik pertama ketika laju gerak kereta kargo kayu raksasa mereka berhasil dihentikan secara kasar tepat satu jengkal di hadapan kaki rombongan Gunung Hua—secara luar biasa tanpa meluncurkan satu pun gerakan canggung langsung menjatuhkan jasad mereka roboh pingsan menghantam kepadatan tanah daratan, bilik dada mereka naik turun secara ekstrem megap-megap berjuang menyerap oksigen udara.
Sebungkus rasa iba dan kemanusiaan yang teramat sangat mendalam sekali secara refleks seketika merayap memenuhi batin siapa saja pendekar yang meluangkan matanya meneliti keburukan kondisi fisik jasad mereka siang ini.
"P-Peristiwa kegilaan jenis apa sebenarnya yang..."
Gwak Gyeong memaku sorot pandangan matanya menatap tajam ke arah siluet jasad belasan bandit gunung yang sedang roboh pingsan berserakan di atas tanah menggunakan raut garis wajah yang memancarkan kebingungan terkejut yang nyata.
'Mengapa di sepanjang bilik mulut kotor masing-masing bandit tersebut saat ini secara menjijikkan terlihat sedang mengunyah rumput jerami kering?'
Rentetan misteri keanehan yang tersaji di depan hidungnya sepanjang hari ini bersumpah dideklarasikan telah resmi melampaui batas kewajaran sirkulasi otaknya secara klinis.
Tepat pada detik kebingungan itu melanda, diiringi oleh sebutir suara decakan lidah kecil yang teramat sangat ketus sekali, sesosok siluet pemuda berhidung besar secara perlahan tampak mulai meluncurkan gerakan melongokkan kepalanya keluar dari balik tumpukan kargo kayu kereta raksasa yang ditarik oleh bandit tadi.
"Kapasitas kekuatan fisik kelas apa sebenarnya yang sedang coba dipamerkan oleh jasad kotor kalian siang ini, hah? Murni murni hanya ditujukan murni murni untuk menempuh perjalanan pulang sesingkat ini menuju Sichuan saja jasad lumpuh kalian secara memalukan terbukti sudah langsung roboh pingsan layaknya cacing tanah sekarat."
Mendengar getaran suara dingin tersebut dijatuhkan menghantam wajah mereka, belasan bandit gunung yang sedang terkapar pingsan di tanah seketika itu juga langsung meluncurkan gerakan reflek sentakan fisik yang teramat sangat panik sekali menyerupai serangan kejang-kejang fisik, sepasang kelopak mata mereka melotot tegak ke atas menahan ngeri.
"J-Jasad kami bersumpah masih sangat sanggup murni murni hanya ditujukan untuk meluncurkan lari cepat tempur kembali!"
"Tolong jangan khawatirkan sisa tenaga kami, Pendekar Agung! Jasad kami bersumpah sama sekali menolak memelihara sisa keletihan fisik sedikit pun siang ini! Sungguh!"
"Kami memohon dengan sangat, luangkan belas kasihan Anda murni murni hanya ditujukan murni murni untuk mengampuni keselamatan nyawa kerdil kami!"
Chung Myung menggelengkan kepalanya pelan meneliti kepatuhan mereka dan melepaskan sebutir desah helaan napas panjang lesu di dadanya.
"Sigh. Seandainya jasad jiwaku di sepanjang hidup harian ini secara hukum menolak memikul jubah tanggung jawab selaku praktisi Taois suci..."
Tetesan air mata keputusasaan yang teramat sangat mendalam sekali seketika meluncur deras membanjiri pipi belasan bandit gunung tersebut.
'Apakah keputusan menyiksa kelangsungan hidup jasad manusia secara biadab sekejam ini merupakan bagian dari wewenang harian seorang praktisi Taois suci di bawah langit fana?!'
'Sejak menit sejarah peradaban mana yang menetapkan hukum adat berupa kata praktisi Taois secara resmi bertransformasi menjadi sebaris sebutan alternatif kotor murni murni hanya murni murni ditujukan untuk memanggil sesosok monster iblis kejam sepertimu? Kapan sebenarnya silsilah dunia persilatan fana ini berubah menjadi sekejam dan sebiadab ini bagi kelangsungan hidup bandit kerdil seperti kami?'
'Wahai Ibu kandungku di rumah... jasad anakmu secara jujur merasa teramat sangat rindu sekali murni untuk memeluk kembali kehangatan jasad Anda di Sichuan.'
Terlepas dari ketegangan batin banditnya, Chung Myung secara luar biasa langsung meluncurkan lompatan fisiknya meluncur turun dari atas kereta kargo secara lincah nan ringan, sebelum akhirnya meluncurkan langkah kakinya berjalan santai mendekati posisi berdiri Baek Cheon.
"Jasad tuaku secara resmi telah berhasil membawa kawanan kuda pertempuran klan kita mendarat selamat siang ini, Sasuk."
"...Rincian perkara medis jenis apa sebenarnya yang melatarbelakangi mengapa di sepanjang bilik mulut mereka harus dipaksa menyumbat rumput jerami kering seperti itu?"
Chung Myung mengangkat kedua belah bahu jubah bangaunya santai.
"Sirkulasi otarku murni hanya menyusun kalkulasi logis berupa jasad klan mereka dijamin pasti sedang didera krisis kelaparan darurat siang ini. Mengingat status fisik jasad mereka siang ini secara sah memegang peranan selaku kawanan kuda pertempuran tangguh yang bersiap mengawal rute perjalanan pulang rombongan kita melintasi ribuan mil geografi yang melelahkan, maka sudah menjadi kewajiban hukum yang teramat wajar sekali bagi batin tuaku murni murni hanya murni murni ditujukan untuk menyodorkan pasokan pangan yang memadai murni murni ditujukan murni murni untuk memelihara ketangguhan fisik mereka bukan?"
"..."
Ujung persendian sepasang kelopak mata kanan Baek Cheon seketika berkedut-kedut hebat menahan pening.
"Chung Myung."
"Ya?"
"Pernyataan logikamu memang menyajikan kebenaran fakta berupa jasad kotor mereka di masa lalu telah secara nyata mencatatkan rekor kejahatan militer pembegalan bersenjata yang teramat kejam sekali bagi keamanan perbatasan, namun bukankah aturan moralitas kemanusiaan tetap mewajibkan telapak tangan kita murni murni hanya ditujukan murni murni hanya untuk memperlakukan jasad seburuk apa pun menggunakan standar kelayakan kemanusiaan ras manusia fana secara normal nan beradab?"
"Hah?"
Menerima bait kalimat nasihat suci yang diselimuti oleh belas kasihan tersebut dijatuhkan menghantam wajah mudanya siang ini, Chung Myung secara luar biasa secara perlahan memutar poros leher kepalanya miring menatap tajam ke arah belasan bandit gunung.
"Apakah sepasang lubang telinga kotor kalian barusan secara nyata telah berhasil menyaring detail penjelasan nasihat Sasuk-ku? Apakah silsilah batin kalian siang ini kebetulan memendam hasrat spiritual yang teramat membara sekali murni murni hanya ditujukan untuk menuntut hak kepabeanan kemanusiaan agar diperlakukan layaknya jasad manusia fana yang beradab kembali oleh tangan tuaku?"
Seluruh permukaan kulit wajah belasan bandit gunung seketika bertransformasi menjadi putih bersih menyerupai mayat dalam sekejap, telapak tangan mereka secara gila meluncurkan gerakan kibasan telapak tangan panik menolak secara berapi-api di udara.
"Sama sekali menolak memendam hasrat kotor sekejam itu di dalam dada kami, Pendekar Agung! Jasad kotor kami sepanjang sisa hayat bersumpah 100% secara resmi memeluk status sosial selaku kawanan kuda pertempuran liar perbatasan! Tidak, bagaimana caranya sasis otak cacat kami sanggup menyusun kepicikan pemikiran murni murni hanya untuk menuntut pengakuan hak selaku jasad manusia beradab di depan wajah Anda?! Kami memohon dengan sangat, harap secepatnya daftarkan jasad kami selaku kawanan sapi perah liar ataupun kawanan anjing jalanan kotor saja siang ini!"
"Jasad tuaku secara hukum bersumpah bersumpah 100% menolak memeluk status selaku manusia fana! Jasad tuaku bersedia memilih keputusan fisik mati kelaparan sekarang juga seandainya jasad mudaku dipaksa bertransformasi menjadi manusia di depan mata Anda!"
"Mooooooo! Mooooooooooooo!"
"..."
Menyaksikan keindahan panggung sandiwara komedi yang secara visual menyerupai potret siksaan fisik terkejam di sepanjang dasar Neraka Avici tersebut sedang dipamerkan secara vulgar di depan hidungnya siang ini, Baek Cheon murni hanya bisa menjulurkan telapak tangan kanannya memijat-mijat kasar area pelipis dahinya yang berdenyut-denyut nyeri menahan pening.
"Kenyataan klaim pengakuannya memang tersaji demikian adanya di lapangan, Sasuk."
Meneliti keliaran senyuman menyeringai manis nan lebar yang dipamerkan secara vulgar oleh Chung Myung di depan wajahnya tersebut, sebutir desah helaan napas panjang pasrah secara refleks meluncur keluar dari bibir Baek Cheon secara mandiri.
'Langkah penyiksaan fisik jenis apa lagi sebenarnya yang telah secara kejam ditimpakan oleh kepalan tangan iblis bocah ini sepanjang malam kemarin hingga secara luar biasa sanggup memaksa kewarasan batin pendekar kotor bandit gunung runtuh hancur menuntut pengakuan status hewan seburuk itu siang ini?'
Sirkulasi otaknya bersumpah sama sekali menolak meluangkan sisa logikanya murni murni hanya ditujukan murni murni ditujukan murni murni untuk menyusun bayangan visual kekejamannya secara mandiri di kepala.
Di saat Baek Cheon masih tiada hentinya menggelengkan kepala tampannya menahan pening, Chung Myung membuka bibir mulut mudanya bersuara kembali murni murni hanya ditujukan untuk merapikan kembali ketegangan batin Sasuk-nya.
"Sasuk tidak perlu menumpuk kecemasan finansial di dadamu. Jasad tuaku sebelumnya telah secara resmi mengunci sumpah luhur bersedia melepaskan keutuhan segel naegong mereka dan mengembalikan hak kemandirian fisik mereka secepatnya, detik pertama ketika gerobak kargo rombongan kita secara sukses berhasil dipaksa mendarat selamat di Sichuan dengan tempo kecepatan kilat."
"Oh? Kebenaran janjimu bersumpah memang terbukti menyajikan detail komitmen sebersih itu siang ini?"
"Yep. Satu-satunya klausul operasional tambahan yang wajib diselesaikan oleh jasad kotor mereka murni hanyalah berupa memaksa tempo gerak lari kereta kargo kita siang ini agar melesat maju dua kali lipat jauh lebih kencang seandainya disandingkan dengan rute lari saat mereka meluncur datang kemarin. Detik ketika klausul fisik tersebut dipatuhi secara disiplin, tuaku berjanji akan membiarkan jasad mereka melangkah pergi dalam kondisi hidup-hidup."
"...Dan rincian bencana hukum seperti apa yang bersiap kau timpakan seandainya jasad mereka terlanjur dinyatakan gagal mematuhi standar kecepatan tersebut siang ini?"
"Hmm. Urusan darurat itu..."
Chung Myung memiringkan kepala mudanya sedikit canggung dengan raut garis wajah yang memamerkan ekspresi kebingungan yang samar.
Sentak dikejutkan oleh lahirnya reaksi kecanggungan yang menolak diprediksi tersebut, Baek Cheon bertanya kembali dengan nada suara yang berlipat ganda jauh lebih tegang nan berhati-hati.
"Mengapa garis wajahmu mendadak memamerkan ekspresi canggung sekejam itu?"
"Sebab jasad tuaku saat ini murni sedang menyusun pertimbangan klinis mengenai apakah detail bencana hukum sekejam itu seandainya disuarakan secara lantang oleh bilik mulut tuaku siang ini akan memberikan pengaruh dampak yang baik bagi kelangsungan sistem pendidikan moralitas jajaran Sasuk dan Sahyung-ku tercinta, dibarengi oleh merosotnya kuantitas mental bertarung kawanan bandit di depan. Apakah kelayakan batin Sasuk saat ini memang benar-benar sedang menuntut penguraian detail hukumnya secara verbal?"
"...Tidak ada kebutuhan hukum mendesak sedikit pun di kepalaku murni murni hanya untuk menyaring detail kotor sejenis siang ini. Lupakan pertanyaanku secepatnya."
Di bawah langit fana ini, terkadang ada beberapa jenis variabel kebenaran kejam yang tingkat urgensinya dinilai puluhan kali lipat jauh lebih elok nan aman bagi kewarasan mental manusia murni murni hanya untuk dilewatkan tanpa perlu diketahui isi esensinya secara klinis.
Baek Cheon baru bersiap menyodorkan beberapa untaian kalimat tambahan, namun pada hasil akhirnya ia murni memilih opsi menggelengkan kepala tampannya kembali menutup rapat mulutnya.
Bagaimanapun juga, realitas hukum rimba persilatan menegaskan fakta berupa belasan bandit gunung di depannya secara sah memegang status resmi selaku kelompok penjahat kotor pembegal bersenjata yang derajat kesalahannya dinilai sudah terlampau sangat pantas sekali murni untuk diselesaikan melewati satu-satunya jalur hukum berupa hukuman penggal kepala di tempat, bahkan seandainya mereka menolak meluncurkan kalimat keberatan seujung kata pun siang ini.
Baek Cheon memutar poros badannya menghadap lurus ke arah posisi berdiri Gwak Gyeong.
"Oleh karena itu, mengingat seluruh persiapan teknis rombongan kami telah selesai dirapikan siang ini, jasad rombongan kami secara resmi memohon diri untuk segera meluncur pergi terlebih dahulu. Perumusan deklarasi mengenai kedudukan hukum resmi Gunung Hua atas sirkulasi kemitraan dagang teh Yunnan kita di masa depan berjanji akan kami sampaikan melalui perantara surat resmi sekte dalam hitungan minggu ke depan, oleh karena itu harap luangkan kesabaran batin Anda murni murni hanya ditujukan untuk menanti kedatangannya di Sichuan."
"Ah... Seandainya jasad rombongan Anda memilih opsi murni untuk meluncur pergi secepat ini..."
Gwak Gyeong baru bersiap menyodorkan bait kalimat negosiasi penahanan diplomatiknya kembali di udara, sebelum akhirnya memilih opsi menutup kembali bilik mulut tuanya secara rapat.
Sebab seandainya sirkulasi logika di kepalanya dirapikan secara matang, jasad klan mereka bagaimanapun juga bersumpah sama sekali menolak mengantongi selembar landasan hukum yang sah nan kuat murni murni hanya ditujukan murni murni hanya ditujukan untuk menahan laju kepergian murid Gunung Hua siang ini.
Detik ketika kelima orang murid Gunung Hua secara sangat tertib sekali telah resmi memantapkan koordinat duduk mereka menghuni permukaan gerobak kargo kayu raksasa, Chung Myung meledakkan getaran teriakan teriakannya sekuat tenaga membelah udara.
"Baiklah, secepatnya luncurkan gerak lari...!"
"Permisi..."
"Hm?"
Sebelas getaran nada suara cilik yang teramat sangat samar nan halus sekali secara tiba-tiba meluncur memotong untaian kalimat Chung Myung dari arah seberang jalan.
Ia secara refleks langsung memalingkan poros kepalanya miring dan seketika itu juga sepasang kelopak matanya diperhadapkan dengan visual sesosok anak kecil berpakaian kumal yang sedang menggenggam erat telapak tangan adiknya yang berukuran jauh lebih kecil secara berhati-hati.
"Eh?"
"Ah. Jasad mudamu tidak lain adalah..."
Yoon Jong—yang jasad mudanya sejak awal telah menduduki bangku gerobak kargo—detik pertama ketika matanya secara sukses mengenali seraut wajah anak kecil kumal tersebut, secara luar biasa langsung meluncurkan lompatan fisiknya meluncur turun menghantam tanah daratan.
Dan secara sangat tergesa-gesa sekali langsung meluncurkan langkah kakinya berjalan lebar menghampiri koordinat berdiri anak kecil tersebut tanpa memendam keraguan sedikit pun.
Meneliti laju kedatangan Yoon Jong yang semakin merapat mendekati posisi berdirinya secara fisik, anak kecil kumal yang awalnya tampak memamerkan keraguan batin tersebut secara mendadak langsung membungkukkan punggung jasad kerdilnya dalam-dalam di depan kakinya.
"T-Terima kasih yang sebesar-sebesarnya atas kebaikan rohani Anda, Kakak Pendekar Agung."
"..."
"Berkat adanya kepingan koin perak bantuan yang Anda curahkan kemarin siang, jasad adik kecilku di sepanjang hari kemarin secara ajaib akhirnya secara nyata diperbolehkan oleh takdir murni murni hanya untuk menyantap makanan pangan yang memadai hingga menolak sekarat kelaparan siang ini. Terima kasih banyak. Kami menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya bagi jiwa Anda."
Yoon Jong secara membisu murni hanya memaku sorot pandangan matanya yang teramat sangat hangat nan lembut sekali menatap lurus ke arah garis wajah anak kecil kumal tersebut, sebelum akhirnya secara perlahan menganggukkan kepalanya pelan merespons.
"Jasad tuaku ikut merasa sangat bersyukur sekali mendengarnya."
"J-Jasad kami sepanjang sisa nafas hidup kami bersumpah demi langit menolak meluncurkan kelalaian lupa seujung kuku pun murni murni hanya untuk merawat kenangan atas kebaikan rohani Anda siang ini. Terima kasih banyak, Kakak Pendekar Agung."
Menyaksikan keindahan panggung kemanusiaan yang teramat sangat khidmat nan suci sekali tersebut terpampang nyata di depan hidungnya siang ini, Chung Myung secara perlahan mulai memalingkan kepalanya menatap mendongak ke arah bentangan langit biru tinggi di atas kepalanya.
"Wah, wah. Menatap jalannya pertunjukan siang ini..."
Wahai Kakak Seperguruan (Sahyung) Pemimpin Sekte-ku yang agung di surga sana.
Yah...
Jasad mudaku di sepanjang kehidupan baru di era sekarang bagaimanapun juga bersumpah sudah resmi dideklarasikan menolak mengantongi sediaan kelayakan moral murni murni hanya ditujukan murni murni hanya ditujukan untuk bertransformasi menjelma menjadi sesosok praktisi suci sebersih dan semulia yang senantiasa Anda impikan di masa lalu dulu... Namun realitas sejarah siang ini secara luar biasa telah sukses membuktikan fakta sejarah berupa terdapat satu jasad murid generasi penerus Gunung Hua kita yang secara ajaib sangat sanggup murni murni hanya untuk memikul keutuhan jubah suci kemanusiaan tersebut secara teramat sempurna nan elok sekali di dadanya.
Apakah sirkulasi batin rohani Anda saat ini sedang diliputi oleh luapan kebahagiaan terbesar menelitinya dari atas surga sana?
Sebab atas dasar motif spiritual jenis apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya siang ini, silsilah batin Chung Myung secara samar seolah-olah sedang mendeteksi adanya kehangatan visual berupa siluet arwah Kakak Seperguruan Pemimpin Sekte-nya sedang tersenyum manis nan teramat sangat lembut sekali menatap jasadnya dari balik sapuan awan langit biru tinggi.
"Kakak Seperguruan! Tiba saatnya bagi jasad kita murni untuk segera meluncurkan perjalanan pulang!"
"Mm, baiklah."
"Rombongan faksi kita diperintahkan oleh takdir murni untuk bergerak secepat mungkin murni murni hanya ditujukan untuk memborong jutaan karung beras pangan di Sichuan dan menghantarkannya kembali menuju perbatasan Yunnan ini secepatnya bukan? Mengingat kondisi geografi kota ini secara nyata bersumpah menolak menyodorkan sediaan komoditas beras pangan sedikit pun siang ini bahkan seandainya jasadmu bersikeras memborongnya menggunakan limpahan koin perak sekalipun."
"Analisis targetmu itu 100% benar adanya, Chung Myung."
Garis wajah Yoon Jong seketika bertransformasi menjadi teramat sangat kokoh nan dipenuhi oleh keteguhan tekad spiritual yang membara.
Ia menjulurkan telapak tangan kanannya menepuk-nepuk secara lembut satu per satu bagian kepala dari belasan anak kecil kumal perbatasan yang saat itu sedang merapatkan barisan mengitari siluet jubahnya, ia membuka bibir mulut mudanya bersuara tenang menggunakan volume suara bass-nya yang teramat lembut.
"Harap pastikan jasad kerdil kalian bersedia meluangkan sisa ketabahan batin kalian murni murni hanya ditujukan untuk menahan sedikit lagi rasa lapar di dada kalian selama beberapa minggu ke depan. Detik ketika kereta kargo rombongan kami secara sukses mendarat kembali di gerbang Yunnan ini nanti, jasad kalian bersumpah demi langit menolak diperbolehkan oleh alam murni murni hanya ditujukan untuk merasakan porsi penderitaan akibat krisis kelaparan kembali selamanya."
"...Ya, Kakak Pendekar Agung."
Raut garis wajah kerdil anak-anak perbatasan tersebut pada hasil akhirnya bagaimanapun juga bersumpah tetap menolak memamerkan sisa-sisa harapan manis sedikit pun di bibir mereka.
Sebab sirkulasi ingatan kerdil mereka sepanjang tahun ini dipastikan telah terlampau sering sekali dipaksa menyaring jutaan bait kalimat komitmen manis palsu sejenis yang dijanjikan oleh bilik mulut birokrat asing perbatasan di masa lalu, hingga sangat wajar seandainya kelayakan batin mereka saat ini secara klinis menolak meluangkan sisa kepercayaan moral bagi komitmen baru Yoon Jong.
Namun untuk saat ini, penunjukan keteguhan iman lisan sebersih itu bersumpah sudah dideklarasikan lebih dari kata cukup murni murni hanya untuk merapikan duka mereka siang ini.
Keagungan ajaran suci jalan Dao milik Yoon Jong pada hasil akhirnya selamanya menolak dibiarkan berstatus sebagai selembar tulisan mati yang kaku di kertas, melainkan wajib diwujudkan secara aktif lewat sirkulasi perbuatan nyata dari sepasang telapak tangan dan kakimu di dunia nyata.
Setelah selesai mengacak-acak secara lembut sisa rambut kotor milik anak kecil kumal terakhir di depan barisannya, Yoon Jong meluncurkan langkah kakinya berjalan membelah kerumunan anak-anak perbatasan tersebut dan secara tertib langsung memanjat naik menduduki bangku gerobak kargo kayu raksasa.
Dan seketika itu juga, ia meledakkan getaran teriakan teriakannya menggunakan volume suara yang teramat sangat berapi-api sekali dipenuhi oleh ketegangan batin yang nyata.
"Segera jalankan tempo gerak larinya sekarang juga, secepat mungkin! Setiap sepeser sediaan detik waktu yang kita sia-siakan siang ini bersumpah menyandang kasta kehancuran yang teramat mengerikan sekali bagi kelangsungan nyawa anak-anak tersebut!"
"..."
"Atas dasar alasan medis jenis apa yang membuat jasad tangan kalian tetap memaku pergerakannya diam membisu seperti itu?!"
"Ah. Siap, Kakak Seperguruan!"
Chung Myung menyeringai manis memamerkan kepuasan batinnya meneliti kemarahan moral Yoon Jong dan meledakkan teriakan lantangnya ke arah belasan bandit gunung.
"Segera luncurkan lari cepat tempur kalian sekarang juga, kawanan hewan bajingan!"
"Siap, Pendekar Agung!"
Detik pertama ketika getaran teriakan lantang Chung Myung selesai disuarakan membelah udara, belasan bandit gunung yang tadinya sedang terkapar pingsan kelelahan di atas tanah secara luar biasa seketika langsung memosisikan jasad mereka melompat berdiri tegak kembali seolah-olah seberkas pasokan naegong raksasa tak terlihat baru saja disuntikkan secara ajaib memadati sistem otot mereka dalam sekejap.
Mereka secara tergesa-gesa langsung merapatkan posisi berdiri mereka mencengkeram erat di sepanjang sasis badan kereta kargo kayu raksasa secara berapi-api.
Empat orang bandit memposisikan jasad mereka berdiri tegak di depan bertugas menarik tali tambang kargo, empat orang memposisikan jasad mereka berdiri di belakang bertugas menyodorkan hantaman dorongan fisik raksasa, dibarengi oleh penempelan masing-masing jasad bandit lainnya di sepanjang sisi kiri dan kanan sasis kereta secara disiplin.
"Luncurkan gerakan dorongan tempur sekuat tenaga seolah-olah persendian tulang di kedua belah kaki kalian siap dihancurkan berkeping-keping oleh takdir siang ini! Apakah sirkulasi lubang telinga kotor kalian secara hukum mengerti detail instruksinya?!"
"Sangat dipahami sekali secara klinis, Pendekar Agung!"
Sasis kereta kargo kayu raksasa tersebut secara luar biasa seketika terlihat mulai meluncurkan pergerakan fisiknya membelah jalan daratan perbatasan.
Chung Myung meluangkan satu kali sapuan matanya secara kilat memandangi kehangatan lambaian tangan anak-anak kecil perbatasan sebelum akhirnya secara perlahan memalingkan kembali poros pandangan matanya menatap lurus ke depan.
"Luncurkan laju kecepatannya secepatnya!"
"Uryaaaaaaah!"
"Heeheeheeheeheeheeng!"
Belasan bandit gunung tersebut meledakkan getaran suara lenguhan teriakan hewani mereka secara serentak di udara sembari mencurahkan segenap tenaga fisik murni mereka menarik dan mendorong laju kereta kargo kayu raksasa ke depan secara berapi-api.
Hanya dalam hitungan detik saja, tempo laju sirkulasi gerak kereta kargo kayu raksasa tersebut secara luar biasa secara menakjubkan terbukti telah berhasil dipaksa melesat kencang maju ke depan membelah jalan daratan perbatasan dengan tempo kecepatan yang teramat sangat gila nan fantastis sekali, sebuah tempo gerak lari yang secara hukum bersumpah sama sekali menolak disandang oleh nama komoditas 'kereta kargo kayu biasa' di masa normal.
Belasan anak kecil perbatasan murni hanya bisa membiarkan bibir kerdil mereka terayun terbuka lebar menahan takjub menyaksikan visual gerobak kargo kayu raksasa tersebut melesat pergi meninggalkan gerbang perbatasan dalam sekejap mata, meninggalkan kepulan debu awan tanah yang tebal di belakangnya.
Dan di sisi seberang jalan, Gwak Gyeong yang sejak menit pertama menolak meluangkan celah bagi lolosnya satu komponen pun dari jalannya pertunjukan sandiwara kemanusiaan tersebut secara perlahan mulai menganggukkan kepala tuanya pelan memamerkan rasa takjub batinnya.
"Pergerakan jasad kelompok mereka siang ini secara harfiah bersumpah benar-benar menyajikan keindahan visual yang menyerupai badai perbatasan yang sesungguhnya."
"Pimpinan Divisi, langkah operasional darurat jenis apa lagi yang bersiap kita selesaikan siang ini?"
"Mengenai urusan yang mana?"
"Bukankah sasis jasad kita berkewajiban penuh murni murni hanya ditujukan untuk segera mengirimkan laporan kilat mengenai pedang ekonomi baru faksi Gunung Hua ini ke hadapan Pemimpin Besar di Sichuan?"
"Tentu saja. Perkara hukum sepele sekelas itu bersumpah wajib diselesaikan secepatnya siang ini."
"Jika demikian detail keputusannya, maka tuaku berjanji akan secepatnya meluncurkan instruksi operasional murni murni hanya ditujukan untuk memutar balik arah gerobak kafilah dagang kita siang ini juga..."
Gwak Gyeong menggelengkan kepala tuanya mantap menolak.
"Sama sekali menolak memendam urgensi medis murni murni hanya ditujukan untuk mengeksekusi tindakan selemah itu siang ini. Cukup luangkan satu ekor kuda pertempuran cadangan klan kita dan utus satu orang kurir pengantar pesan tepercaya saja murni murni hanya murni murni hanya ditujukan untuk melesatkan lari cepatnya mengirimkan pesan rahasia ke四川."
"Apakah arah keputusan diplomasi sepihak Anda memang benar-benar akan aman bagi keselamatan bisnis kita siang ini, Pimpinan?"
"Benar sekali."
Sirkulasi batin Gwak Gyeong sepanjang menit ini secara ajaib terasa meluncur menyajikan tingkat kedamaian rohani yang teramat sangat bersih nan tenang sekali seandainya disandingkan dengan kondisi batinnya kemarin sore.
'Mungkin arah penyimpangan roda sejarah ini pada kenyataannya memang bertindak selaku jalan keluar terbaik yang disediakan oleh takdir bagi masa depan kita.'
Tidak peduli seberapa teramat raksasanya kuantitas nama besar dari kafilah dagang asing Sichuan mana pun yang kelak akan secara resmi meluncurkan langkah kaki mereka murni murni hanya ditujukan untuk memimpin jalannya monopoli perdagangan teh Yunnan di masa depan nanti, sebuah pergeseran sirkulasi peta kepentingan finansial di perbatasan bagaimanapun juga secara hukum tetaplah merupakan sebuah perkara yang menolak dihindari oleh siapa pun.
Jika peta realitas bisnisnya memang tersaji kaku seburuk itu di lapangan, maka keputusan unilateral berupa murni menyerahkan seluruh kendali monopoli eksklusif tersebut kepada telapak tangan Sekte Gunung Hua secara teoritis dijamin pasti akan bertransformasi menjadi sebuah jalan keluar ekonomi yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih aman nan menguntungkan bagi kelangsungan hidup rakyat fana perbatasan.
"Selamat jalan, pendekar suci."
"Terima kasih banyak."
Memandangi keindahan visual berupa belasan anak kecil kumal perbatasan yang tiada hentinya meluncurkan lambaian tangan hangat mereka dari kejauhan melepas kepergian gerobak kargo, keteguhan keyakinan baru di sepanjang dadanya secara luar biasa dirasa terbukti bertumbuh semakin kokoh nan tebal sekali siang ini.
'Pendekar Taois.'
Gwak Gyeong membiarkan kedua belah sudut bibir tuanya terayun miring ke atas secara mandiri tanpa ia sadari, mengulas seulas senyuman tipis yang hangat.
'Benar-benar sebuah lelucon dunia persilatan yang teramat sangat lucu sekali.'
Seberapa banyak kuantitas rekor kemunafikan sosial dari segerombolan pendekar kotor di Sichuan yang sepanjang hidup harian mereka tiada hentinya melontarkan bait klaim kesucian diri selaku praktisi ajaran Taois ataupun biksu ajaran Buddha suci yang pernah disaring oleh sepasang lubang telinga tuanya selama ini?
Bukankah sasis batin rohaninya sepanjang tahun kemarin secara memalukan tiada hentinya dipaksa menelan rasa mual dan kejengkan sosial yang teramat sangat ekstrem sekali setiap kali diperhadapkan dengan keliaran keliaran mulut munafik gerombolan pendekar kotor sejenis, yang di sepanjang bibir suci mereka tiada hentinya menyemburkan komitmen suci kemanusiaan murni demi menyalurkan bantuan bagi rakyat miskin namun di saat yang sama sepasang telapak tangan kotor mereka di bawah meja tiada hentinya merancang konspirasi kotor murni murni hanya demi meraup keuntungan sekeping koin perak tambahan bagi kantung pribadi mereka?
Dan memikirkan fakta sejarah siang ini di mana sirkulasi otaknya secara tidak masuk akal justru sedang merapatkan logikanya murni untuk menaruh sebutir keyakinan baru bagi kesucian jubah murid Gunung Hua...
Gwak Gyeong menggelengkan kepala tuanya pelan menahan geli.
Sangat tidak masuk akal nan melanggar batas kaidah klinis murni murni hanya ditujukan murni murni untuk menjatuhkan klaim penilaian moral final sepihak atas kelayakan iman seseorang, murni murni hanya karena jasad matamu baru saja secara nyata selesai mengawasi jalannya perilaku luar mereka dalam kurun waktu durasi singkat yang menolak menyentuh batas satu bulan lamanya.
Sebab siapa yang sanggup merumuskan jaminan hukum medis berupa murid Gunung Hua tersebut di kemudian hari nanti menolak memamerkan keliaran watak keserakahan kotor mereka yang sesungguhnya murni murni hanya ditujukan untuk mengisap habis sisa tetesan darah kemakmuran rakyat perbatasan Yunnan?
Namun demikian...
Gwak Gyeong memalingkan kepalanya miring menatap ke arah samping.
Memandangi visual belasan anak kecil kumal yang tiada hentinya melesatkan langkah kaki kerdil mereka mengejar arah gerak debu awan kereta kargo yang telah lama meluncur jauh dari kejauhan, seberkas pendaran kehangatan rohani yang teramat sangat jernih nan bersih secara ajaib seketika terasa ikut membuncah tebal menyelimuti rongga dada Gwak Gyeong siang ini.
'Jasad pemuda murid Gunung Hua tersebut... sasis jiwanya kemungkinan besar memang memeluk watak yang teramat sangat berbeda sekali seandainya disandingkan dengan praktisi munafik di Sichuan.'
Pertunjukan tindakan nyata Yoon Jong yang secara nyata rela menjual kepemilikan pedang baja pusaka sektenya sendiri murni murni hanya demi mendatangkan pasokan pangan bagi perut lapar anak-anak kecil kumal Yunnan.
Serta sorot pancaran sepasang kelopak matanya saat ia secara sukarela meluncurkan gerakan menepuk-nepuk secara lembut satu per satu bagian kepala anak kecil tersebut tadi siang.
Dua buah komponen visual sebersih itulah yang siang ini secara luar biasa telah sukses memicu lahirnya sebungkus harapan kemanusiaan baru yang tersaji sangat indah nan halus sekali di dalam jiwanya.
Bukan sebagai sesosok pimpinan kafilah dagang kotor yang haus akan keuntungan koin perak, melainkan murni memandang sebagai sesosok manusia fana sejati yang merawat kelayakan akal sehat kemanusiaannya.
Menatap lurus ke arah siluet bagian belakang gerobak kargo kayu raksasa yang saat ini koordinat fisiknya telah resmi dinyatakan menghilang jauh di balik tebing gunung perbatasan Yunnan, Gwak Gyeong secara tidak sadar tersenyum tipis nan sangat lembut sekali.
"Semoga keagungan langit di atas sana senantiasa melindungi keselamatan rute perjalanan pulang jasad kalian."
Para Pendekar Taois dari Sekte Gunung Hua.
"Luncurkan tempo gerak lari kalian secepat mungkin, kawanan bajingan kotor! Siapa pendekar cacat di antara kalian yang memegang wewenang hukum murni murni hanya ditujukan untuk melonggarkan tempo larinya siang ini, hah?! Jasad tuaku berjanji demi para leluhur akan memeras habis seluruh sediaan tinta bola mata dari sepasang rongga matamu keluar secara fisik seandainya kau berani melambatkan tarikanmu!"
"..."
"Detik ketika sasis gerobak kargo kita gagal menembus batas gerbang perbatasan Sichuan tepat pada batas durasi waktu yang kutetapkan siang ini, maka status jiwamu secara hukum dijamin pasti akan langsung dideklarasikan ikut berakhir tewas menemui ajal bersama dengan kematian jasad tuaku!"
"...Kkeueueueu."
Belasan bandit gunung tersebut terus melesatkan lari cepat tempur mereka menyeret tarikan kereta kargo kayu raksasa menggunakan keteguhan tekad keputusasaan yang teramat sangat mengerikan sekali, bilik lidah mereka tampak tergigit rapat menahan perih seolah-olah keselamatan kelangsungan hidup jasad mereka siang ini murni murni hanya bergantung penuh pada tempo gerak lari kaki mereka semata.
Dan tepat di belakang pundak jasad mereka yang sedang terengah-engah menahan letih tersebut, sesosok pemuda tampak sedang memaku posisi duduknya di atas kursi kargo sambil tiada hentinya menyemburkan cairan busa air liur dari sela bibirnya secara gila, tiada hentinya meledakkan getaran raungan ancaman hukuman fisik mati murni ditujukan murni murni hanya untuk memaksa laju lari bandit agar meluncur naik puluhan kali lipat jauh lebih gila lagi setiap detiknya.
Keempat murid Gunung Hua secara bersamaan murni hanya bisa saling melempar sorot pandangan mata kosong nan linglung satu sama lain menahan cemas.
"Rincian gangguan saraf jenis apa lagi sebenarnya yang sedang diderita oleh sirkulasi otaknya siang ini?"
"...Sirkulasi batin kepalanya meyakini dengan sangat bersih berupa bait untaian kalimat komitmen manisnya murni murni hanya ditujukan murni murni untuk memborong pangan menyelamatkan kelangsungan hidup anak-anak kecil Yunnan tadi telah bertindak selaku butiran hantaman akhir yang secara resmi telah meremukkan keutuhan sasis kewarasan saraf otaknya secara mutlak."
"...Namun apakah meluncurkan intensitas penyiksaan fisik sekejam itu dideklarasikan normal bagi batin seorang praktisi Taois?"
"Entahlah, Geol. Pertanyaanmu bersumpah sama sekali menolak mengantongi sediaan jawaban logisnya di kepalaku."
Sosok praktisi gila yang saat ini tiada hentinya meledakkan teriakan raungan penyiksaan fisik menghantam batin belasan bandit gunung di depan gerobak tersebut secara luar biasa pada kenyataannya bersumpah sama sekali menolak bersumber dari keliaran Chung Myung sepihak siang ini, melainkan sosok penyiksa kejam tersebut tidak lain merupakan jasad dari Kakak Seperguruan mereka sendiri: Yoon Jong seorang.
Menyaksikan kedahsyatan porsi penyiksaan mental verbal yang dilepaskan secara berapi-api oleh Yoon Jong—sebuah porsi kekejaman yang secara luar biasa dirasa terbukti menyajikan tingkat kebengisan yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih mengerikan sekali seandainya disandingkan secara langsung dengan watak kemurahan hati Chung Myung sekalipun—jajaran murid Gunung Hua murni hanya bisa menggelengkan kepala mereka pasrah.
Apa tadi detailnya?
Sesosok Wadah Taois sejati yang keindahan imannya melegenda di dunia?
Heh heh.
Hehehehehehe. Hal itu bersumpah murni merupakan sebaris lelucon konyol tiada guna siang ini.











