The Shepherd Wizard

Bab 5

2355 Kata

Bab 5

Tanah gersang berwarna merah kecokelatan dengan satu atau dua pohon meranggas yang tumbuh menyebar di sana-sini, serta awan debu yang mewarnai cakrawala jauh menjadi kekuningan.

Lantaran padang tandus membentang luas di bawah Hisaril Hill, tidak ada desa atau kota besar yang sanggup berdiri di daerah ini.

Tidak ada cukup makanan untuk menopang populasi yang besar, tidak ada pula barang dagangan khusus yang bisa dijual untuk membeli makanan dari tempat lain.

Berkat hal tersebut, Turan harus terus melangkah menelusuri padang tandus tanpa bertemu dengan satu jiwa pun.

Ini adalah pemandangan segar yang tidak pernah bisa ia lihat dari atas bukit, tetapi kesegaran itu sirna dalam waktu singkat; setelah seharian penuh berjalan, ia mau tak mau mulai merasa jenuh.

Ia berjalan agak lambat, sebagian dengan niat menikmati perjalanan pertamanya, dan sebagian lagi demi menghemat mana untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Namun, kecepatan jalan santainya itu sebenarnya tak ada bedanya dengan lari manusia biasa.

Seorang pengelana biasa kemungkinan besar akan membutuhkan waktu tiga hari penuh hanya untuk sampai sejauh ini dengan berjalan kaki.

Namun menilik tidak ada apa pun yang terlihat di depan mata, sepertinya ia telah melewati beberapa desa tanpa menyadarinya.

Selama ia tidak perlu khawatir soal makan atau minum, ia tahu ia pada akhirnya akan tiba di suatu tempat jika terus melangkah, tapi...

"Kemarilah."

Saat ia merentangkan tangannya ke udara lalu memberikan perintah, seekor burung yang terbang jauh di atas mendekat lalu hinggap di tangannya.

Memberi perintah pada hewan adalah hal yang tanpa henti ia lakukan sejak menguasai sihir, jadi ia sanggup melakukannya semudah bernapas.

Turan mematahkan leher burung yang hinggap itu dengan tangannya yang lain, lalu menarik pisau dari dalam tasnya untuk mencabuti bulu dan mengulitinya.

Terakhir, ia menyayat bagian lehernya lalu memfokuskan pikirannya, dan darah pun memancar keluar.

'Mari kita lihat...'

Dari darah yang mengalir, gumpalan pekat berwarna merah tua memisah dan jatuh, sementara air jernih terpisah lalu membubung ke permukaan.

Sihir mengekstraksi air layak minum dari darah.

Ini adalah salah satu keterampilan yang ia pelajari dari Keorn, dan ratusan kali lebih efisien daripada menciptakan air dari udara kosong.

Setelah mengisi kantong air kulitnya hingga penuh, ia menyantap daging burung panggang bersama keju susu kambing sisa yang dibawanya, dan santap siangnya pun selesai.

Entah berapa lama ia berjalan seusai mengenyangkan perutnya.

Sekitar waktu saat matahari perlahan membubung ke puncak tertinggi, ia melihat sekelompok orang berjalan turun dari bukit rendah di seberangnya.

Ada enam orang secara keseluruhan.

Mereka semua adalah pria, mengenakan jubah berdebu khas pengelana, dan menyandang pedang pendek yang tampaknya digunakan untuk pertahanan diri.

Mereka menarik sebuah kereta dorong besar yang ditutupi kain, jadi mereka tampaknya adalah pedagang keliling yang berpindah dari desa ke desa.

Ia belum pernah bertemu mereka secara langsung, tetapi ia pernah mendengar cerita bahwa orang-orang terkadang mengunjungi desa di bawah bukit.

Saat Turan menghadang jalan mereka, seorang pria paruh baya yang tampak sebagai pemimpin kelompok bertanya dengan raut waspada.

"Siapa kau sampai berani menghalangi jalan kami?"

"Saya seorang pengelana yang berjalan sendirian. Jika boleh tahu, apakah Paman tahu di mana kota terdekat dari sini?"

Mendengar pertanyaan santun itu, para pria yang tampak seperti pedagang saling bertukar pandang sembari memiringkan kepala.

Pada saat itulah, Turan merasakan beberapa dari mereka menatapnya dengan tatapan tajam.

Tatapan yang sarat akan hasrat alih-alih kewaspadaan, seperti tatapan seorang pemburu yang mengincar mangsanya...

Sang pemimpin berbicara dengan nada yang jauh lebih kasar daripada sebelumnya.

"Jika kau mengikuti jalan yang kami lalui tadi, kau akan sampai di kota bernama Murei. Selama kau bukan orang bodoh, kau harusnya bisa menemukannya dengan mudah cukup mengkuti bekas roda."

Mendengar nada suara yang kurang menyenangkan itu, Turan sedikit mengerutkan kening lalu mengangguk.

Ia tidak ingin mempertanyakan mengapa pria itu berbicara dengan nada seperti itu.

Bagaimanapun juga, ia-lah yang mendadak menghadang jalan mereka dan mengajukan pertanyaan, dan mereka pada akhirnya tetap memberi informasi yang ia inginkan.

"Terima kasih."

Setelah menundukkan kepala menyampaikan terima kasih, ia baru saja hendak mengikuti bekas roda seperti yang dikatakan pria itu, tetapi salah satu pedagang menghadang jalannya.

Senyum licik terpatri di wajah pria yang menatapnya.

"Tunggu dulu. Dalam hidup harus ada memberi dan menerima. Kau berniat kabur begitu saja setelah mengambil informasi kami?"

"Pertama, buka tas itu. Kelihatannya cukup padat."

Para pedagang itu rupanya telah mengepung Turan.

Beberapa bahkan telah mencabut pedang mereka, bersiap menebas lehernya saat ia mencoba melawan.

"Perampok?"

"Anggap saja ini bisnis sampingan. Tinggalkan tasmu pelan-pelan lalu enyahlah. Kami akan membiarkanmu menyimpan pakaianmu. Kami juga tidak suka merenggut nyawa orang."

Indera penciuman Turan yang tajam terkadang sanggup menangkap emosi yang dirasakan oleh makhluk hidup dalam bentuk aroma.

Ia tidak selalu bisa menciumnya, hanya dari subjek di dekatnya, dan hanya untuk beberapa emosi yang sangat kuat.

Dan saat ini, dari tubuh para perampok yang mengepungnya, ia bisa mencium bau yang dipancarkan oleh predator sesaat sebelum merobek mangsanya.

Kata-kata mereka soal membiarkannya pergi hanyalah kebohongan; mereka tampaknya ingin Turan melepaskan tasnya sendiri agar isinya tidak bersimbah darah.

"Baguslah, aku akan memanfaatkan kalian untuk latihan."

"Apa?"

Turan merentangkan telapak tangannya lebar-lebar lalu mengayunkannya secara horizontal, membayangkan hembusan angin kecil yang diciptakannya membesar ratusan kali lipat.

Puting beliung dahsyat, yang kian menghebat dengan memangsa mana, seketika menyapu bersih keenam perampok itu hingga terpental.

"Uwaaaargh-!"

Memang benar, alih-alih sekadar menciptakan angin dari ketiadaan, menghasilkan hembusan angin dari telapak tangan lalu mengamplifikasinya mengonsumsi jauh lebih sedikit mana.

Ini juga merupakan salah satu metode yang ia pelajari dari Keorn, persis seperti mengekstraksi air dari darah.

Menatap para perampok yang terpental jatuh, salah seorang tampaknya patah leher saat mendarat dan tak sanggup bangkit lagi, sementara yang lain terpincang-pincang seolah kakinya patah sebelum ambruk di tempat.

Turan menggunakan sihir kedua pada empat perampok yang berdiri terhuyung-huyung sambil berbalur debu.

Itu dimulai dengan melepas ikatan kantong air di pinggangnya.

Air yang merayap keluar dari lubang kantong memancarkan hawa hangat lalu bertransformasi menjadi pasak es berujung tajam, yang kemudian melesat cepat seiring gerakan tangan Turan dan menancap di perut salah satu perampok.

Bukankah ini sihir yang katanya sangat berguna saat ada banyak air di dekatnya?

"Kkeuaaaak!"

"Kami salah! Ampuni kami!"

Selagi pria dengan kaki patah melempar pedangnya sembari berlutut dan berteriak memohon ampun, Turan merasa kurang puas dengan sihir yang baru saja digunakannya.

Kecepatan melesatnya, daya rusaknya, dan bahkan akurasinya terasa amat sangat kurang jika dibandingkan dengan lemparan batunya.

Tapi tentu saja, lemparan batu adalah keterampilan yang ia asah sepanjang hidupnya, jadi sudah pasti rasanya akan berbeda daripada sekadar menembakkan sesuatu secara normal.

Sebagai eksperimen, ia mengendalikan pasak es kedua, memutarnya beberapa kali di udara, lalu menembakkannya.

Pasak itu melesat beberapa kali lebih cepat daripada sebelumnya dan menembus leher perampok yang sedang berlari melarikan diri di kejauhan.

"Mati kau-!"

Tepat saat itu, dua perampok yang diam-diam mendekat berteriak lalu menerjang Turan.

Turan baru saja hendak menendang mereka tetapi mengubah pikirannya dan menghentakkan kakinya keras-keras ke tanah.

Seketika itu pula, beberapa pasak tanah besar membubung naik dari padang tandus merah kecokelatan, menembus tubuh para pria yang menerjang di sana-sini.

Ini adalah teknik yang hanya bisa digunakan di atas tanah, mengangkat tanah lalu mengubahkan bentuknya menjadi senjata.

"Keoheok…"

Mereka adalah manusia lemah yang bakal tewas jika ia menyuruh mereka mati begitu saja, tetapi memiliki pengalaman pertarungan nyata yang kasar ini memberinya gambaran tentang bagaimana ia harus bertarung di masa depan.

Ia juga merasa mendapat gambaran yang lebih baik tentang keterampilan mana saja yang dipelajarinya selama tiga hari terakhir yang berguna dalam pertarungan nyata, dan mana yang cocok dengan bakatnya.

Pria yang tertusuk di perut sepertinya bakal segera tewas dalam waktu dekat, jadi Turan berjalan perlahan menuju satu-satunya penyintas yang tersisa, pria dengan kaki patah.

Keorn telah mengajarinya untuk tidak pernah menunjukkan belas kasihan kepada perampok semacam ini yang ditemui di jalan.

Ia berkata bahwa jika kau mengampuni satu orang saja karena kasihan, orang itu suatu hari nanti akan membalasmu dengan mencelakai sepuluh orang baik.

Turan berniat mengikuti ajaran itu dengan sungguh-sungguh.

"Ah…"

Ia merentangkan tangan ke arah pria yang gemetar hingga mengompol itu, tetapi kemudian, alih-alih menghabisi nyawanya, Turan mengutarakan pertanyaan yang mendadak terlintas di pikirannya.

"Aku ingin bertanya satu hal."

"Mo-Mohon bicara, Tuan Penyihir! Saya akan menjawab apa saja!"

Berpikir bahwa peluang keselamatan telah terbuka, si perampok menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengabaikan rasa sakit dari kakinya yang patah.

"Mengapa kalian menyerangku tanpa berpikir panjang? Seorang pengelana tunggal bisa saja seorang penyihir seperti diriku, bukan?"

Jika Turan adalah seorang perampok, ia tidak akan pernah menyerang orang seperti dirinya.

Bahkan di luar norma moral paling dasar untuk tidak menyerang terlebih dahulu orang yang tidak bermaksud jahat padamu, bukankah wajar untuk berpikir bahwa seseorang yang berkelana sendirian di padang gersang seperti ini pasti memiliki kartu as di balik lengan bajunya?

Bukan pula seolah-olah mereka memiliki sesuatu yang bisa diandalkan.

Si perampok ragu-ragu sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.

"I-Itu karena Anda menundukkan kepala, Tuan Penyihir..."

"Apa?"

"Ketua berbicara kasar pada Anda, tetapi Anda tetap menundukkan kepala menyapa, jadi kami tentu saja berpikir Anda adalah orang biasa."

Jadi, ucapan kasar mereka sebelumnya adalah semacam tes.

Karena Turan malas berdebat dan hanya menyapa lalu berlalu, mereka menilai dirinya lemah dan mencoba memuaskan keserakahan mereka.

"Terima kasih. Berkat kau, aku belajar hal yang bagus."

Bahwa menunjukkan kelemahan di tempat sepi akan memancing pihak lawan.

Sebagai bayaran atas pelajaran berharga itu, Turan meletakkan jarinya di dahi penyintas terakhir lalu memperintahkannya untuk mati.

Setidaknya ia sanggup tewas tanpa merasakan sakit.

---

Kereta dorong yang ditarik para perampok dipenuhi dengan berbagai kebutuhan sehari-hari yang sulit dibuat di pedesaan, dan menilik tidak ada tanda-tanda bekas pakai, sepertinya barang-barang itu bukan hasil curian atau rampasan.

Dugaannya bahwa mereka semula adalah pedagang tidak sepenuhnya salah.

Terlalu merepotkan untuk membawa semuanya, jadi Turan hanya mengambil uang dari tubuh mereka, meninggalkan kereta dorong, lalu melanjutkan perjalanan mengikuti bekas roda.

Mungkin karena ini adalah arah menuju kota, ia bisa merasakan saat melangkah bahwa rumput liar mulai tumbuh di atas tanah yang tadinya merah kecokelatan dan jumlah pohon semakin bertambah.

Dengan tujuan yang kini sudah jelas, ia berlari ringan dengan kecepatan beberapa kali lebih cepat daripada sebelumnya, hingga ia sanggup tiba di kota bernama Murei, yang disebutkan oleh ketua perampok, saat matahari terbenam.

"Wah…"

Turan melontarkan seruan kagum saat melihat pemandangan kota yang membentang di bawah bukit rendah.

Di bawah naungan matahari terbenam, ia bisa melihat jauh lebih dari seratus orang berjalan di jalanan atau bekerja.

Jumlah penduduk di desa di bawah Hisaril Hill bahkan tidak akan mencapai angka itu, meskipun kau menjumlahkan mereka semua.

Ini adalah pertama kalinya sejak terlahir ke dunia ia melihat begitu banyak orang berkumpul bersama.

Memasuki kota, Turan berjalan perlahan menembus kerumunan, memandang sekeliling kota yang baru pertama kali dilihatnya seumur hidup.

Bangunan-bangunan yang terbuat dari batu bata cokelat tua semuanya memiliki bentuk serupa dan setinggi dua hingga tiga lantai, dan terkadang ada lapak-lapak yang didirikan di depannya seolah untuk menjual barang.

Orang-orang yang melintas sepertinya kurang tertarik satu sama lain, tidak berbicara atau menyapa satu sama lain bahkan saat saling berpapasan.

Turan mengamati mereka dalam diam sejenak sebelum memilih pedagang buah yang tampak paling tidak sibuk lalu menyapanya.

"Permisi."

"Hm? Pembeli?"

"Bukan, saya ingin bertanya apakah Bapak tahu di mana lokasi 'penginapan'-"

Ia telah belajar dari Keorn tentang tempat-tempat di mana orang asing bisa menginap.

Ia berkata bahwa sebagian besar kota memilikinya.

Namun pedagang buah itu bahkan tidak mendengarkan kalimat Turan sampai selesai dan hanya mendengus lalu menggelengkan kepalanya.

"Jika kau tidak membeli buah, enyahlah!"

Melihat sikap tidak ramah itu, wajah Turan sempat mengeras sejenak.

Haruskah ia marah di sini agar tidak dipandang remeh?

Namun mungkin sudah menjadi aturan tak tertulis di kota bahwa kau harus membeli buah untuk mengajukan pertanyaan.

Setelah berpikir sejenak, Turan mengangguk lalu mengeluarkan kantong uangnya.

"Baiklah. Berapa harga buah ini?"

"Apel 2 deopit satu biji. Kau kelihatan seperti orang luar, jadi kau bisa bayar dengan koin lain yang ukurannya mirip."

Saat ia bertanya apa itu deopit, sepertinya itu adalah koin tembaga yang digunakan di kota ini.

Ia memiliki beberapa koin serupa di antara uang yang diambilnya dari para perampok, jadi ia menggunakannya untuk membeli buah.

Ia belum pernah melihat buah bernama apel seumur hidupnya, tetapi bentuknya tampak layu dan baunya agak buruk, jadi sepertinya tidak terlalu segar.

"Jalan lurus menyusuri jalan itu lalu belok kiri sekali, dan rumah dengan atap biru yang menggambar cangkir bir adalah penginapan."

Setelah akhirnya mengetahui lokasi penginapan, Turan menggigit apel itu sembari berjalan di sepanjang jalan, lalu melemparnya begitu saja di tepi jalan.

Rasanya teramat sangat asam dan kelat hingga ia curiga buah itu mungkin beracun.

Beruntung pedagang itu tidak berbohong soal lokasi penginapan—jika ia berbohong, Turan berniat kembali lalu memberinya cicipan sihir yang tajam—dan ketika ia pergi ke tempat yang disebutkan pedagang buah, ia melihat penginapan tersebut.

Saat ia melangkah masuk, seorang pelayan wanita muda mendekati Turan.

"Astaga, tampan sekali pemuda ini! Apakah Anda seorang tamu?"

"Mm."

Turan mengangguk diam untuk menunjukkan persetujuannya.

Ia di dalam hati merasa canggung melihat pakaian wanita itu, yang begitu longgar hingga nyaris menerawang.

Ia pernah mendengar bahwa ada orang-orang di tempat seperti ini yang melayani pelanggan dan terkadang juga bertindak sebagai pelacur—tetapi mendengar ceritanya dan melihatnya secara langsung jelas merupakan hal yang berbeda.

"Berapa harga untuk satu hari?"

"16 deopit. Bayar pakai 1 rum juga tidak masalah. Jika Anda punya jenis uang lain, Anda harus bertanya pada pemilik."

Adapun apa itu 'rum', sepertinya itu adalah koin perak.

Saat ia menyodorkan uang, pelayan wanita yang mengambinya tersenyum menggoda lalu dengan halus menggesekkan tubuhnya ke bahu Turan.

"Kamar akan terlalu dingin jika Anda tidur sendiri. Haruskah saya menghangatkannya untuk Anda?"

"Itu tidak perlu."

Keorn telah berulang kali mewanti-wantinya untuk tidak terlibat secara sembarangan dengan pelacur, termasuk pelayan wanita di penginapan.

Sebagian besar wanita yang melakukan pekerjaan semacam itu adalah pembawa penyakit kelamin, dan meskipun ksatria atau bangsawan yang kuat memiliki resistensi penyakit yang sangat baik dan tidak akan terdampak, mereka bisa menularkannya saat nantinya berhubungan dengan wanita lain.

"Lebih dari itu, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."

Hal yang ingin ditanyakan Turan adalah apakah ada binatang sihir yang memiliki imbalan buronan di dekat kota ini.

Dengan begitu ia bisa berkembang dengan membunuh binatang sihir dan menyerap mana-nya, sekaligus menghasilkan uang tambahan.

Namun saat mendengar kata-kata Turan, pelayan wanita itu, alih-alih menjawab, malah menunjuk ke sebuah tong kayu besar yang diletakkan di samping mereka.

Pelajaran kedua yang ia petik setelah turun dari bukit adalah bahwa di kota, tidak ada pertanyaan yang gratis.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.