Bab 607 — Terobosan sang Knight
Meski malam gelap gulita, tidur tak kunjung datang dengan mudah. Hal itu bukan kejutan.
Sedikit sekali orang yang bisa meluruskan kaki dan tidur nyenyak dalam kondisi seperti ini, dan Noah bukanlah pengecualian.
Tak sanggup tidur, Noah berjalan sendirian melintasi biara, membiarkan angin dingin membelainya.
Mereka telah merusak semua pohon hias yang ditanam di dalam biara untuk membangun pagar kayu.
Taman yang dulunya merupakan ruang yang tenang, telah berubah menjadi reruntuhan dalam proses mengeringkan, memotong, dan mendirikan kayu-kayu hijau.
Kehancuran itu seolah memberi isyarat akan masa depan biara yang kelam.
Mengapa cahaya bulan begitu terang malam ini, dari sekian banyak malam yang ada?
'Apakah Tuhan memanggilku? Apakah Dia mempertanyakan dosa-dosaku?'
Apakah ini harga dari memicingkan mata terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di biara ini? Apakah mereka yang berdiri di tanah ini sekarang dipaksa untuk membayar kembali segalanya?
Ini adalah malam yang dipenuhi kecemasan mendalam.
Sosok yang mengaku sebagai Pope dari Gray God telah muncul dengan banyak kemegahan, hanya untuk menyasar sebuah biara kecil dengan hanya beberapa lusin orang di dalamnya.
Siapa yang bisa memprediksi hasil seperti ini?
Noah menyadari bahwa mereka tak sanggup bertahan.
Biara telah dikepung, dan musuh menolak setiap tawaran negosiasi.
Saat dia meminta mereka untuk mengambil nyawanya demi mengakhiri ini, jawaban yang datang adalah,
"Omong kosong. Segala sesuatu di biara ini, bahkan seekor ayam pun, adalah kesesatan."
Saat dia memohon pada mereka untuk mengampuni anak-anak, tanggapannya adalah,
"Bukankah sudah kukatakan tadi? Entah mereka saint atau bukan, tempat itu sudah menjadi sarang kejahatan."
Tak ada kompromi yang bisa dicapai.
Makin memperburuk keadaan, biksu petarung yang dikirim sebagai utusan kembali dalam keadaan babak belur, satu sisi wajahnya lebam membiru, melangkah pincang.
"Jika kau mengirim orang lain lagi, kami bakal mengirim kembali hanya kepala mereka."
Tambah mereka.
Helaan napas makin mendalam.
Anak yang dulu pernah dipanggil sebagai seorang saint kini bakal dikenal sebagai anak iblis.
Karena merekalah yang membuat keadaannya menjadi begitu.
"Apakah kita bakal mati?"
Bahkan sang anak meraba bahaya yang mengancam biara lalu bertanya. Noah tersenyum tipis.
"Tuhan bakal melindungi kita."
Noah berbohong. Sang anak tersenyum mendengar kata-kata itu.
Bahkan jika dia harus tewas dan dihukum ke dalam penjara Netherworld karena berbohong, dia takkan menyesal melihat senyuman anak itu saat ini.
Bahkan dalam kematian pun, dia tak ingin anak itu menjalani sisa waktunya dilahap oleh rasa takut.
Di atas segalanya, dia ingin percaya bahwa Tuhan secara tulus bakal melindungi anak-anak.
Noah bersiap untuk tewas. Namun dia berdoa agar anak-anak dan mereka yang tak bersalah bisa diselamatkan.
Noah tak punya pilihan selain tidak sekadar bertahan dengan doa-doa.
Dia mencari bantuan dari mana pun yang dia bisa. Tentu saja, bahkan meloloskan diri dari kepungan bukanlah tugas yang mudah.
Jika dia berhasil menyelinap keluar dan menyebarkan berita tentang situasi ini, apa yang bakal terjadi? Apakah ada orang yang datang membantu? Ini hanya sebuah biara tunggal.
Orang-orang di dalam? Mengapa harus menyelamatkan mereka? Mereka tak ada hubungannya dengan orang lain. Keuntungan apa yang bakal dibawanya?
Tak ada. Tak bakal ada keuntungan apa pun.
Noah adalah pria yang cerdik dan memahami situasinya dengan sangat jelas.
Benua bakal melihat ini sebagai perang saudara internal di dalam Holy Nation.
Jadi, takkan ada yang datang.
Bahkan jika seseorang berkumpul untuk bertarung melawan para pengikut Gray God, mereka baru bakal tiba setelah biara hangus rata dengan tanah.
Ironisnya, semua orang, termasuk dirinya sendiri, bakal tewas, dan tak ada sebatang jerami pun dari biara yang tersisa. Kedua faksi yang memperebutkan tempat ini menginginkan hasil akhir semacam itu.
Alasannya sangat sederhana.
Para pengikut Gray God membenarkan tindakan mereka dengan mengklaim telah membasmi biara yang dikuasai demon.
Karena itu, mereka tak bisa membiarkan biara tetap utuh.
Mereka perlu membuktikan kekuatan Tuhan mereka dan mengukuhkan kebenaran mereka.
Betapa pasnya jika kemunculan Gray God ditandai dengan menaklukkan para demon!
Kambing hitam sangat diperlukan, dan secara kebetulan, ada sebuah tempat yang dipenuhi oleh orang-orang pembangkang.
Bahkan jika pasukan Holy Nation bergerak maju, hal itu takkan ada bedanya. Mereka tak punya alasan untuk menyelamatkan dirinya atau biara ini.
"Siapa lagi kalau bukan mereka yang membakar biara yang bisa disebut heretik?"
Sebuah biara terbakar demi perang suci.
Orang-orang terbunuh demi perang suci.
Mereka yang membunuh mereka bakal dicap sebagai heretik. Ini adalah kambing hitam politik yang sangat sempurna.
Makin banyaknya pengikut Gray God membuat sebuah dalih menjadi makin diperlukan.
Dengan demikian, pembantaian skala besar adalah masa depan biara ini. Sementara itu, para petualang kesempatan pun bermunculan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Noah melihat orang-orang melepas rantai gerbang biara, mencoba memastikan agar pergerakan hanya bisa dilakukan dari dalam.
Mereka telah membungkus kain di sekeliling rantai untuk meredam suara lalu bekerja di bawah cahaya bulan tanpa obor.
Ada lebih dari lima orang dari mereka, berkeringat deras meski di tengah malam fajar awal musim dingin.
"Kami sedang membuka gerbang biara."
Salah satu dari mereka menjawab.
Noah tidak terkejut. Itu terasa seperti halusinasi yang disebabkan oleh malam-malam tanpa tidur.
Namun dia tahu lebih baik. Penalaran dingin dan jelas di benaknya menjelaskan situasinya secara gamblang bagaikan cahaya bulan di atas.
Orang yang menjawab mendudukkan punggungnya yang bungkuk. Mereka kepala lebih tinggi dibanding Noah dan memegang pedang pendek yang terlihat jelas di tangannya.
"Kenapa?"
Membuka gerbang takkan mengubah apa pun, jadi mengapa mereka melakukannya? Karena mereka tidak tahu.
Mereka tidak paham bahwa musuh takkan pernah menerima apa pun yang mereka lakukan.
Mereka tidak paham bahwa biara ini sudah dianggap sebagai sarang demon oleh mereka yang menyaksikan peristiwa ini.
'Apakah mereka melakukan ini karena kebodohan?'
Apakah mereka dilumpuhkan oleh rasa takut akan kematian? Mungkin keduanya.
"Kau pikir mereka bakal menerima penyerahan diri kalian jika kalian membuka gerbang itu?"
"...Kita harus bertobat."
Itulah sebabnya Luagarne sempat menyarankan untuk menghancurkan kepala orang-orang bodoh yang tak patuh sebelum pergi.
Namun Noah ingin percaya bahwa hal-hal bakal berbeda jika biara berjalan lancar dan mereka telah membangun ikatan bersama seiring waktu.
Tak ada yang tahu masa depan, bagaimanapun juga. Bahkan jika bertahun-tahun berlalu di bawah kondisi yang lebih baik, orang-orang ini mungkin masih bakal melakukan hal yang sama.
'Apakah manusia pada dasarnya jahat?'
Atau baik?
Itu adalah teka-teki abadi. Noah ingin percaya pada kebaikan manusia.
"Kenapa kalian melakukan ini di tengah malam gela?"
Pria lain yang mencoba membuka gerbang menarik keluar sebuah belati, kemungkinan terselip di lengan bajunya tanpa sarung.
"Membunuhku takkan mengubah apa pun."
Noah berbicara.
"Itu opinimu."
Tampaknya mereka telah berhenti berpikir sepenuhnya. Untungnya, hanya ada lima orang dari mereka.
'Aku tak mengira bakal tewas seperti ini.'
Noah menyembunyikan pemikiran dalamnya lalu mengamati kelimanya. Tak satu pun dari mereka yang berani menatap matanya.
Mendadak, sebuah sosok hitam melompati pagar kayu. Sosok itu mendarat di tanah, berguling beberapa kali, lalu berdiri tegap.
"Direktur Noah?"
Sosok itu bertanya setelah berdiri tegak.
"...Siapa kau?"
"Seorang crusader dari Anti-Cult Extermination Order, tanpa nama."
Beberapa orang masih bergerak berdasarkan kehendak dan keyakinan mereka, tak peduli penilaian dunia. Salah satu crusader Anti-Cult Extermination Order telah datang pada Noah.
Dia bergabung dengan Noah setelah melumpuhkan orang-orang yang mencoba membuka gerbang di tengah jalan.
Beberapa hal terjadi setelahnya.
Mereka mengadang gerbang dengan semak berduri dan mencoba sekali lagi untuk mengirim seseorang keluar tetapi akhirnya menyerah.
Saat itu, biara dijaga dengan begitu ketat hingga seekor semut pun tak bisa keluar.
"Kau sebaiknya pergi."
Noah mencoba menyuruh sang crusader pergi, berpikir bahwa tekadnya terlalu berharga untuk dibuang di sini.
"Tidak. Aku tak apa-apa."
Crusader itu menolak.
Enam hari pengepungan berlalu sebelum kelompok Encrid tiba. Selama waktu itu, yang bisa dilakukan Noah hanyalah berdoa.
'Tuhan, bantulah kami. Lindungilah domba-dombamu. Kumpulkan buah-buah yang gugur ke dalam keranjang.'
Seseorang bakal datang membantu mereka, membantu anak-anak yang menyedihkan ini.
Pada siang hari di hari kedua tanpa makanan, mereka mulai bertanya-tanya apakah musuh berniat membuat mereka mati kelaparan.
Matahari menerangi sekeliling.
Menembus ribuan prajurit yang membendung biara, sosok-sosok terlihat sedang memotong jalur melintasi jajaran musuh.
* * *
Perintah di medan perang harus sederhana dan jelas. Encrid sangat paham hal ini.
"Dobrak barisan."
Tujuannya adalah menembus kamp musuh di depan biara, mengamankan Noah, dan memastikan keselamatan biara.
Jika tidak, tak ada alasan untuk datang jauh-jaju kemari.
Hanya karena bagian luar tampak utuh bukan berarti bagian dalam bakal demikian.
Rem maju lebih dulu, melangkah ringan ke depan sembari mengayunkan kapaknya. Dalam satu ayunan ringan, dia menewaskan empat prajurit dari apa yang disebut 'Gray Holy Army'.
Kapaknya mengukir garis-garis bergerigi di udara, setiap tebasan mendarat presisi di leher musuh.
"Aku yang ambil jalur depan."
Ragna pun ikut maju. Meski berucap demikian, dia berbelok sedikit ke kanan, pedang panjang emas-hitam miliknya menusuk, memotong, dan menghantam menembus jajaran musuh.
Klang, brak, krak!
Musuh tumbang bagaikan gandum di bawah ayunan sabit.
Seluruh kelompok bertarung dengan sangat luar biasa, bahkan saat menunggangi kuda.
Rem, secara khusus, berhenti menggunakan kapaknya, merebut sebuah tombak dari musuh yang mencoba menusuknya, lalu mulai memutar dan menusukkannya dengan presisi yang mematikan.
"Pelatihan yang buruk."
Lawford menyenggol kudanya, memutarnya sembari memotong, lalu menambahkan komentar. Dibandingkan dengan Border Guard, apa yang disebut Gray Holy Army ini nyaris tak memenuhi syarat sebagai sebuah pasukan.
Tebasan Lawford membelah helm musuh, menyebabkan darah dan isi kepala tumpah ke tanah. Prajurit itu ambruk berlutut sebelum akhirnya jatuh menelungkup.
Pengamatan Lawford sangat akurat. Gray Holy Army belum punya waktu untuk pelatihan yang benar.
Mereka baru saja dikumpulkan dan baru mulai ditata. Kapan mereka bisa menemukan waktu untuk berlatih? Hal ini tidak bisa dihindari.
Mereka nyaris tak setara dengan sekawanan gagak, jadi bagaimana mereka bisa menghentikan keperkasaan sebuah ordere Knight?
Encrid, yang menunggangi kudanya Odd-Eye, mengayunkan pedangnya. Kakinya mengapit perut kuda untuk menjaga keseimbangan, tangan kanannya memegang pedang Jin-Silver yang baru diberikan, dan tangan kirinya menggenggam Ember.
Persiapan telah selesai, dan dia mengayunkan pedangnya.
Encrid secara naluriah menilai sekelilingnya, mengukur tingkat prajurit musuh, lalu berpikir dalam hati.
'Apakah aku harus membunuh mereka semua?'
Tidak, hal itu tidak bakal diperlukan. Pasukan digerakkan oleh momentum.
Hancurkan momentum mereka, maka mereka secara alami bakal berhamburan.
Bagaimana caranya? Haruskah dia mendirikan dinding besi lagi? Dia telah berlatih secara intensif sejak percobaan terakhirnya, jadi membangun dinding adalah hal yang memungkinkan.
Namun hal itu takkan memberikan efek menekan yang sama.
"Segala hal bergantung pada situasi dan lingkungan."
Ajaran Luagarne. Bahkan jika dia mereplikasi dinding besi yang sama seperti sebelumnya, rasanya takkan sama.
Lagipula, tujuan mereka adalah menembus barisan, bukan mendirikan penghalang.
Encrid menajamkan tepi inderanya, menyebarkan 'bilah' kesadarannya menjadi benang-benang untuk merangkul sekeliling.
Di dalam alam intuisi, Encrid membayangkan pasukan musuh sebagai satu entitas tunggal lalu mulai membaginya di dalam benaknya.
Sebagai sebuah himpunan, itu adalah sebuah pasukan.
Sebagai individu, mereka adalah para prajurit.
Esensi dari sebuah pasukan adalah momentumnya.
Saat jaring kesadarannya terurai, jaring itu menyelubungi sekelilingnya.
Mata, postur tubuh, distribusi bobot, orientasi senjata—semuanya menjadi kriteria penilaian.
Dia mengidentifikasi mereka yang bakal menerjang, mereka yang bakal melarikan diri, dan mereka yang bakal bertahan, menggunakan jaring inderanya untuk memutuskan.
Dia menebas mereka yang paling membangkang.
Krak!
Leher seorang prajurit terputus, darah menyembur saat tubuh mereka menggelinding ke tanah. Pedang Jin-Silver milik Encrid menyambar tipis tengkuk mereka.
Berikutnya, dia melewati mereka yang gemetar di bawah tekanan. Dia mengibaskan mereka yang mencoba pertahanan lemah.
Brak.
Seorang prajurit yang dihantam oleh bagian pipih bilah pedangnya roboh ke samping.
Encrid membedakan kapan harus menerapkan kekuatan dan kapan harus menariknya, mengalokasikan Will miliknya dengan sangat presisi.
Menggunakan inderanya yang makin tajam, dia menebas, melewati, dan menangkis secara berulang-ulang. Hasilnya adalah sebuah area yang bersih dari musuh yang bertahan.
Pertarungan yang paling tenang menghasilkan jumlah musuh yang tumbang paling banyak.
Tatapan Rem beralih ke arahnya.
"Hah?"
Dia sanggup memotong apa pun yang tersangkut di jalur kapaknya, membunuh di setiap tebasan. Meski dia sedang tidak bertarung dengan kekuatan penuh saat ini.
Jadi sekadar memotong dan menusuk bukanlah hal yang mengejutkan.
Namun apa yang ditampilkan Encrid adalah sesuatu yang berbeda. Memotong dan menusuk adalah tindakan yang bisa dilakukan siapa pun yang memiliki kekuatan, tetapi ini bukan sekadar soal kekuatan murni.
"Kau bisa melakukan itu juga?"
Dia terkejut, bahkan sedikit senang. Teknik Encrid mengusung jejak-jejak ajarannya.
Kemajuan yang berani mengurangi keraguan, memberi lebih banyak waktu untuk penilaian dan tindakan.
Itu adalah sebuah keterampilan untuk meregangkan waktu dan menggunakannya secara efektif.
Seseorang yang lain bahkan lebih terkejut dibanding Rem saat menyaksikan Encrid.
"Apa yang sedang dia lakukan?"
Saat Encrid menjatuhkan lebih banyak musuh, pasukan itu mulai terurai sebagai sebuah kekuatan yang padu.
Jaxon merasakannya secara intuitif. Yang lain kemungkinan merasakannya sampai batas tertentu.
Dia secara samar menangkap prinsipnya tetapi heran—bagaimana Encrid membedakan prajurit yang memancarkan momentum dari mereka yang tidak?
'Hanya dengan melihat?'
Jaxon bisa menirunya tetapi tak bisa mereplikasinya dengan presisi setajam itu.
Kecermatan dan detail dari teknik Encrid sangat luar biasa.
Apa yang ditampilkan Encrid sekarang adalah milik dirinya sendiri secara unik.
Itu adalah buah dari pengalaman yang didapat dari memulai dari tempat paling bawah.
Terkadang, kurangnya bakat membimbing pada pemahaman yang lebih dalam.
Ini adalah imbalan dari bertahun-tahun yang dihabiskan sebagai prajurit biasa.
Encrid sedang menunjukkan pada para prajurit musuh arti sejati dari tak tertandingi.











