Eternally Regressing Knight

Bab 749: Bukankah Kau Belum Menyapa? Ayo, Sapalah Dia

3592 Kata

Bab 749: Bukankah Kau Belum Menyapa? Ayo, Sapalah Dia

Kebijaksanaan konvensional menyatakan bahwa dibutuhkan waktu setidaknya setengah tahun penuh demi menempa sebilah pedang pusaka yang teramat halus dan luar biasa, namun Aetri berhasil memangkas durasi waktu tersebut menjadi jauh lebih singkat.

Itu bukanlah sebuah keajaiban yang turun tiba-tiba dari langit.

Hal itu murni tercapai karena pria gila penempa itu telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan teramat sangat matang.

Tentu saja ada faktor-faktor pendukung lainnya. Namun jika kau wajib memilih variabel yang paling krusial di luar persiapan matangnya, faktor itu tak lain adalah sosok pengrajin Dwarf yang belakangan ini kerap singgah mampir ke bengkelnya.

Sosok Dwarf yang sangat familiar itu memiliki motif kedatangan yang teramat gamblang.

"Nanti tolong sampaikan pujian yang baik tentang diriku di depan para petinggi, ya? Hehe, kau tahu kan kalau aku ini sebenarnya bukan Dwarf yang jahat? Hanya saja klan Iron kami memang memiliki watak alami yang agak ceroboh dan suka nekat menerjang bahaya lebih dulu, itu saja."

Ia memang utamanya berkunjung demi meminta keringanan hukuman dan bantuan koneksi, namun sembari nongkrong di sana, sang Dwarf kerap membagikan rahasia teknik peleburan logam kuno milik bangsanya.

Ia pun turut menyuntikkan sedikit filosofi metalurgi khas peradaban Dwarf ke dalam diskusi mereka.

"Apakah metodologi yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi kuno selalu merupakan metode yang terbaik? Jelas tidak! Tindakan yang paling benar adalah menyerap seluruh keunggulan dari tradisi masa lalu lalu merekayasanya menjadi sebuah inovasi baru yang revolusioner!"

Bangsa Dwarf adalah ras yang selalu memimpikan kemajuan peradaban. Mereka tidak pernah ragu untuk menerima, mempelajari, dan mempraktikkan teknologi-teknologi baru. Dalam perspektif tersebut, mereka memiliki kerinduan yang sangat murni akan sebuah evolusi.

Dan mungkin karena kepolosan idealis itulah bangsa Dwarf menjadi ras yang paling rentan tertipu di antara seluruh bangsa berpikir di benua fana.

*"Iya, teknologi baru memang sangat luar biasa, bukan? Bagus sekali, biar kuajari kau cara memakainya."*

Aetri sanggup membayangkan dengan sangat mudah bagaimana seorang manusia licik merayu sosok Dwarf menggunakan kalimat tersebut.

Jika kau wajib menyebutkan ras apa yang paling kerap menjadi korban penipuan oleh umat manusia, bangsa Dwarf tanpa ragu dipastikan menduduki peringkat teratas. Dan jika seekor Dwarf menghabiskan terlalu banyak waktu bergaul di tengah peradaban manusia, sangatlah wajar jika ia perlahan belajar mempraktikkan tipu muslihat yang serupa.

Bagaimanapun faktanya, Aetri berhasil menyerap teknik-teknik penempaan baru sekaligus memetik manfaat dari pola pikir inovatif tersebut.

*'Inovasi hakiki berakar pada peleburan hal-hal baru dengan seluruh fondasi ilmu yang telah kau kuasai sebelumnya.'*

Terlebih lagi ia memperoleh pengalaman berharga menangani berbagai jenis logam mineral langka—sebuah anugerah keberuntungan yang mustahil pernah diimpikan oleh seorang Blacksmith mana pun di seluruh penjuru benua fana.

Mengeksplorasi dan memperlakukan berbagai jenis logam langka sesuka hatinya adalah sebuah pengalaman tempa yang luar biasa langka.

Terlebih lagi Encrid bahkan berhasil mengamankan beberapa bilah senjata berukir sihir Engraved Weapon legendaris di sepanjang perjalanannya.

Seluruh pusaka tersebut menjadi bahan studi ilmiah baginya; Aetri meneliti, membedah, dan menguasai apa pun yang terpampang di depan matanya.

Ini adalah sebuah riset metalurgi agung. Ia membangun keahliannya sedikit demi sedikit setiap hari, menjalani hari-hari rutinnya yang sama.

Dan di tengah seluruh proses panjang tersebut, ia mulai menangkap gambaran utuh yang lebih agung.

*'Kalau aku melebur dan menyatukan tiga variasi baja legendaris...'*

Ini adalah sebuah teknik tempa kuno yang dikenal luas sebagai metode *Pattern Welding*—Penyatuan Pola Logam.

Lantas jenis logam apa saja yang seharusnya ia gunakan?

Tiga variasi baja paling legendaris di seluruh penjuru benua seketika terlintas di dalam benaknya: baja biru dari pegunungan Valerian Mountain, baja perak dari pegunungan Lewis Mountain, dan baja emas dari pegunungan Uber Mountain.

Ketiganya dikenal secara umum sebagai Blue Steel, Silver Steel, dan Gold Steel, dan di urat tambang tempat bijih-bijih tersebut digali, mineral-mineral langka terkadang muncul berdampingan di sampingnya.

Baja Valerian Steel, logam True Silver, serta mineral Black Gold adalah wujud nyata dari mineral langka tersebut.

Aetri berhasil mengamankan ketiga logam berharga tersebut, dipadukan dengan sebutir serpihan besi meteorit purba. Dan pedang legendaris yang ia ciptakan melalui kombinasi tersebut tak lain adalah bilah pusaka yang dikenal sebagai Samcheol.

Tentu saja ada pula batu-batu permata ajaib dan logam-logam khusus lainnya di luar ketiga bahan tersebut.

"Namun logam-logam terkutuk mutlak dilarang keras masuk ke dalam tungku."

Energi terkutuk sama sekali tidak memiliki tempat di dalam sebuah senjata pusaka Engraved Weapon.

Logam terkutuk yang dimaksud adalah lelehan baju zirah hitam yang dirampas dari jasad sekte pemuja iblis yang dibantai oleh Encrid tempo hari.

Bahkan saat Encrid sedang bertualang di luar markas, Aetri tidak pernah sekali pun menghentikan ayunan palu tempaannya.

Ia memurnikan dan terus memurnikan baja Valerian Steel, True Silver, dan Black Gold. Hingga pada suatu hari melalui jaringan kompi saudagar Lockfreed Trading Company, ia menerima batangan logam besi yang teramat ganjil.

Logam itu sendiri pada dasarnya tidak terlalu keras ataupun terlalu lentur.

Meski begitu tepat pada detik ia melihatnya, insting pandai besinya seketika berteriak bahwa batangan logam ini sanggup berevolusi menjadi sesuatu yang luar biasa agung. Insting alaminya berdengung kencang.

Setelahnya seolah-olah ia sedang dirasuki oleh roh penempa purba—ia bekerja dalam kondisi trans kesadaran penuh.

Ia menyuntikkan inovasi-inovasi mutakhir ke dalam teknik tradisional melipat dan menyatukan lapisan baja.

*'Ini adalah sebuah misteri takdir yang ajaib.'*

Ia sendiri tidak memahami secara teoritis bagaimana prinsip ilmiahnya beroperasi. Ia bahkan ragu apakah ia sanggup mengulangi mahakarya ini andai ada orang yang memintanya menempa ulang.

Meskipun ia merasa tidak memiliki bakat jenius alami, proses ini terasa persis laksana sedang menyeberangi jurang maut di atas seutas tali tipis.

Bukan, kenyataannya ia saat ini masih berdiri menjaga keseimbangannya di atas seutas tali tipis tersebut.

Secara aneh bahkan sembari Aetri menyadari seluruh proses tempa tersebut, rasanya seolah-olah ada separuh dari kesadarannya yang melangkah mundur, mengamati tubuh fisiknya dari kejauhan dengan tatapan dingin yang terpisah.

Bagian tubuhnya yang sedang terfokus murni terus menghantamkan palu bajanya—menghantam, menambahkan lelehan Blue Steel, menghantam kembali, melapisi True Silver, menghantam lagi, lalu memasukkan serpihan Black Gold!

*'Kalau begini caranya, dia pasti akan merusak seluruh bahan logam berharga ini!'*

Secara logika begitulah bagaimana proses ini seharusnya berakhir hancur. Kesadarannya yang mengamati dari luar merasakan lonjakan krisis yang luar biasa.

Satu-satunya metode demi membuat ketiga logam langka tersebut sanggup berdampingan secara harmonis adalah dengan menjaga setiap elemen berada di posisi posisinya masing-masing.

Bilah Samcheol adalah buah karya dari riset tersebut, namun kini ia mengabaikan seluruh hukum batas itu bulat-bulat. Ia murni mencampuradukkan seluruh mineral tersebut lalu membiarkan hawa panas tungku mengikat molekulnya secara liar.

*'Ini pasti akan berakhir gagal total...'*

Namun rasa cemas itu tidak bertahan lama. Bahkan pemikiran ragu itu seketika menguap lenyap dari kepalanya.

Ia kehilangan seluruh konsep kesadaran waktu. Bahkan momen-momen saat ia bertatap muka dengan Encrid menjadi sangat buram di ingatannya.

Saat ia menerima aliran tekad Will dari Encrid lalu menyuntikkannya ke dalam batangan baja sembari mereka berdiskusi, ia merasa kesadarannya kembali fokus—namun tepat setelah Encrid melangkah keluar dari bengkel, rasanya seolah-olah seluruh percakapan tadi telah terjadi berbulan-bulan yang lalu.

Murid magang Aetri mengamati tingkah laku gurunya dengan sepasang mata yang diliputi rasa cemas yang mendalam, sangat khawatir sang master akan mendadak ambruk jatuh pingsan kapan saja.

Bagaimanapun juga sangat jelas terlihat bahwa tubuh pria penempa itu semakin menyusut kurus kering dari hari ke hari.

*'Semoga Guru baik-baik saja...'*

Hari-hari berlalu dalam pengawasan yang penuh kekhawatiran.

WUSHHH!

Hembusan angin malam mendadak berhembus teramat kencang, mengguncang daun jendela kayu bengkel hingga berderak keras.

Tak lama berselang engsel pintu depan mulai berderit ngilu, lalu terdengar suara dentuman berat saat daun pintu kayu mendadak terdorong terbuka lebar.

*'Apa kunci gerbangnya tadi belum terpasang rapat?'*

Belakangan ini tingkat keamanan pangkalan Border Guard telah ditingkatkan ke level siaga tertinggi.

Terlebih lagi bengkel tempa milik gurunya dijaga ketat secara bergilir oleh empat prajurit bersenjata lengkap—praktis mustahil ada perampok yang nekat menyusup di malam hari.

Sang murid magang menyambar sebutir lentera minyak seraya mengucek kedua matanya yang mengantuk lalu melangkah keluar.

Meskipun saat ini adalah awal musim panas, ia merasakan hembusan hawa dingin yang ganjil dan bulu kuduknya seketika meremang berdiri.

Ia melangkah maju hendak menutup kembali pintu luar, namun mendadak menghentikan langkah kakinya mematung di tempat.

Di balik daun pintu yang terbuka lebar, kegelapan malam di luar terbentang hitam pekat tanpa dasar—terlalu pekat untuk ukuran malam biasa.

Mungkinkah malam hari sanggup berubah menjadi segelap ini di dunia fana?

Sensasi dingin menusuk menjalar di tulang belakangnya, dan ia merasakan firasat buruk yang mencekam. Rasanya seolah-olah ada entitas mengerikan yang sedang mengintai di balik tirai kegelapan tersebut.

Dan itu bukan sekadar ilusi ketakutannya.

Sebuah tangan putih mulus mendadak melesat keluar menembus kegelapan malam!

Sang murid magang begitu terperangah ngeri hingga ia bahkan tak sanggup lagi sekadar menjerit histeris.

Jadi beginilah yang terjadi pada tubuh manusia—saat kau diliputi oleh teror ketakutan yang mutlak, tak ada suara jeritan apa pun yang sanggup keluar dari tenggorokanmu.

Ini adalah pertama kalinya ia menyadari kenyataan biologis tersebut.

Tangan putih mulus itu lalu terangkat naik, mengacungkan satu jari telunjuknya ke atas, membeku tepat di posisi di mana wajah manusia seharusnya berada.

Dua pendar cahaya biru mistis menyala terang di balik kegelapan pekat, disusul oleh suara bisikan merdu:

"Ssshh..."

Baru pada detik itulah sang murid magang tersadar bahwa dirinya sedari tadi telah menahan napasnya, dan ia seketika melepaskan hembusan napasnya dengan tersengal-sengal.

Sesosok siluet anggun melangkah keluar dari balik tirai kegelapan lalu menjejakkan kakinya masuk ke dalam bengkel.

"Tenanglah."

Sosok itu adalah seorang penyihir wanita sejati.

Siapa pun pasti sanggup mengenalinya hanya dalam sekali pandang.

Wanita itu mengenakan topi penyihir berujung runcing, dan apa pun sihir yang telah ia tanamkan pada pakaiannya, jubah hitam pekatnya tampak seolah-olah menyerap habis seluruh pendar cahaya lentera minyak ke dalam seratnya.

Di setiap hentakan langkah kaki yang ia jejakkan, bayang-bayang gelap tampak berhamburan lembut di belakang jejak langkahnya.

Black Witch—sang Penyihir Hitam Esther. Itulah julukan agung dari wanita yang mendampingi sang Komandan.

"Aku sudah menantikan kedatanganmu," bisik suara serak sang guru yang mendadak muncul berdiri di belakang punggungnya tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun.

Terperanjat kaget, sang murid magang memutar badannya dan melihat sepasang mata yang berkilat tajam menyala di wajah tirus gurunya—persis seperti sorot mata yang terpancar selama beberapa hari terakhir.

"Kupikir kau mungkin membutuhkan bantuanku malam ini," sahut sang penyihir wanita seraya melangkah masuk lebih dalam ke arah tungku perapian.

Sang murid magang yang sama sekali tidak sanggup mencerna fenomena mistis yang baru saja terjadi di depan matanya bahkan tidak ingat lagi bagaimana caranya ia bisa tertidur kembali malam itu.

Ia hanya mengingat secara samar-samar di dalam mimpinya bahwa selain sang Black Witch, sosok Golden Flower—sang Bunga Emas Shinar—pun turut singgah mampir ke dalam bengkel tempa tersebut.

Karena memori mistis itu, ia tidak tahu pasti apakah peristiwa tadi benar-benar terjadi di alam nyata ataukah murni sekadar mimpi di dalam tidurnya.

Dan ia tentu saja tidak berani menanyakannya secara langsung kepada sang guru.

Tentu saja ia mustahil bisa mengajak gurunya mengobrol santai—ia terbangun di pagi hari disambut oleh suara dentuman palu tempa sang master yang terus menghantam logam tanpa henti.

Belakangan ini setiap kali gurunya mengangkat palu bajanya, pandangan matanya akan berubah menjadi sayu berkilat, memompa alat hembus dan menghantam batangan logam berulang kali persis laksana seekor roh penempa purba.

Seolah-olah pria itu sedang mabuk terpesona oleh pendar kobaran lidah api bengkel.

Persis seperti biasanya sang murid meletakkan nampan berisi air bersih dan ransum makanan di samping meja lalu melangkah keluar.

Meloloskan diri dari kepungan hawa panas bengkel, hembusan udara dingin fajar seketika menusuk rongga hidungnya, menyayat paru-parunya, dan membuatnya menggigil kedinginan.

*'Apakah peristiwa semalam murni sebuah mimpi?'*

Namun jika itu hanyalah mimpi, suasananya terasa teramat sangat nyata.

Dan pada siang hari itu, sang murid magang melangkahkan kakinya menuju ke Dueling Hall kompi Madmen Knights lalu menyampaikan pesan sakral dari gurunya.

"Pedang pusakanya... telah selesai ditempa, Komandan."

***

Encrid melangkahkan kakinya menuju ke bengkel tempa dengan langkah yang pelan dan teratur—jauh lebih santai daripada langkah kakinya yang biasa.

Jika ada orang yang menanyakan apakah hatinya merasa sangat bersemangat saat ini, ia tentu saja akan menganggukkan kepalanya.

Namun itu bukan berarti jantungnya sedang berdegup kencang hendak melompat keluar dari rongga dadanya.

Segala sesuatunya murni terasa tak terelakkan—sebuah kepastian alami.

Aetri telah mengikrarkan janjinya, dan Aetri pasti akan menepatinya.

Sama sekali tidak pernah ada keraguan sedetik pun di dalam batinnya mengenai integritas pria itu.

Itu adalah sebuah keyakinan batin yang sama berbobotnya dengan sumpah setia seorang ksatria.

"Kau sudah tiba, Komandan."

Aetri yang penampilannya tampak seolah-olah telah kehilangan separuh dari bobot tubuhnya menyambut kedatangannya. Pipi yang cekung tirus serta sepasang tangan dengan tulang-tulang yang mencuat menonjol seketika menarik perhatian Encrid.

Suasana bengkel terasa teramat hening, damai, dan tenteram.

Iya, ruangannya sama sekali tidak terasa panas membakar yang menyesakkan dada, melainkan murni hangat yang sangat nyaman.

Tak ada lagi hawa panas menyengat yang sanggup mengeringkan tetesan keringat menjadi kerak garam.

Tungku perapian hanya melepaskan sisa-sisa kehangatan temaram saat ini. Sangat jelas terlihat bahwa kobaran api tempa telah padam sejak beberapa waktu yang lalu.

"Jadi pedangnya sudah selesai?"

Encrid melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pembawaan dirinya yang tenang dan santai.

Aetri pun menyerahkan bilah pedang baru itu ke tangannya dengan gestur yang serupa santainya.

Sama sekali tak ada sarung pedang yang membungkusnya.

Gagangnya dirancang dengan sangat sederhana, dan meskipun bilahnya sekilas menyerupai bentuk bilah Samcheol, ada perbedaan-perbedaan mendasar di dalamnya.

*'Bilah ini sekilas terlihat serupa di permukaan, tapi...'*

Pusaka ini memiliki karakteristik yang berbeda secara teramat halus.

Jika ada orang yang menanyakan di mana letak perbedaan presisinya, akan sangat sulit untuk diutarakan menggunakan kata-kata—karena itulah perbedaannya terasa begitu halus.

Haruskah ia merasakan getaran sensasi dingin yang menyengat lengannya tepat pada detik ia menggenggam gagang pedang ini?

Tidak, fenomena dramatis semacam itu mustahil terjadi begitu saja sesuai pesanan, bukan?

Sembari menepis pemikiran-pemikiran liar tersebut, Encrid mencengkeram gagang pedang itu erat-erat lalu mengayunkannya beberapa kali membelah udara.

WUSHH, SWISSHH.

Encrid selalu bersikap jujur pada dirinya sendiri.

Pedang ini tidak membuat batinnya bergetar hebat.

"Sama sekali tak ada keistimewaan yang mencolok dari pedang ini."

"Iya, begitulah bagaimana wujud seharusnya dari senjata ini, Komandan," sahut Aetri tenang.

"Ketajamannya terasa lebih tumpul daripada bilah True Silver dan bobotnya tidak seberat bilah Black Gold. Kurasa ketahanannya pun tidak sepadat bilah Samcheol."

Ia telah menggenggam puluhan bilah pedang legendaris di sepanjang hidupnya. Bahkan jika dibandingkan dengan bilah Samcheol Sword miliknya, ada perbedaan kualitas yang sangat mencolok—sebenarnya kau bahkan tidak perlu membandingkannya sejauh Samcheol. Ketajaman bilah ini bahkan terasa lebih tumpul daripada bilah Penna miliknya.

Namun jika ada satu keunggulan mutlak yang patut dipuji setinggi langit—

"Keseimbangan bobotnya benar-benar teramat sempurna."

Ia mencoba memegang bilah pedang itu secara vertikal tegak lurus ke arah lantai, lalu memiringkannya secara horizontal.

Setidaknya dalam variabel bagaimana bilah ini menyatu secara presisi dan alami di dalam genggaman telapak tangannya, pedang ini adalah sebuah mahakarya sejati.

"Benda ini kurasa tidak akan dipandang sebelah mata untuk dijuluki sebagai sebuah mahakarya tempa."

Namun untuk menyebutnya sebagai sebuah senjata berukir sihir Engraved Weapon... jujur saja ia masih merasa agak ragu.

"Apa kau sudah menyiapkan sebuah nama untuk pedang agung ini, Komandan?"

Bukankah senjata berukir sihir milik Ksatria Oara dulu diberi nama "Smile"—Senyuman?

Senyuman manis wanita ksatria itu di masa lalu memang seanggun dan seindah bilah pedangnya.

"Duskforge."

Nama pedang pusaka ini adalah Duskforge—dijuluki pula sebagai Dawnbringer, karena bilah inilah yang akan menuntun fajar menyingsing di bumi.

Genesis—Awal Mula Penciptaan.

Kenapa dulu aku begitu bertekad ingin menjadi seorang Knight sejati?

Karena aku selalu memimpikan terlahirnya sebuah peradaban dunia baru yang terbebas seutuhnya dari ancaman Monster purba dan binatang buas Beast.

Itulah alasan kenapa aku memilih nama tersebut.

Sepanjang proses penempaan senjata ini kemarin, Shinar sempat bertanya apakah aku bersedia menamai pedang ini dengan nama Kiraheis.

Esther menyarankan untuk memberinya nama Night Sky atau Star.

Rekan-rekan lainnya tidak banyak berkomentar, namun Rem sempat melontarkan sebuah usulan yang bernada sangat serius:

*"Bagaimana kalau kau menamainya Dusky Sky—Langit Kelam?"*

Aku sejujurnya sempat agak tergoda oleh usulan pria barbar itu, namun pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengubah nama aslinya.

"Duskforge adalah nama yang sangat indah. Dibutuhkan waktu dan tempaan pertempuran demi benar-benar menjadikannya milikmu seutuhnya, Komandan," bisik Aetri, lalu tubuh kurusnya mendadak ambruk tersungkur lemas ke lantai.

Murid magangnya yang terperanjat panik seketika melesat maju lalu mendekap tubuh gurunya di dalam dekapannya.

"Guru!"

Apakah sebuah senjata pusaka Engraved Weapon wajib memancarkan keagungan spektakuler tepat pada detik pertama kau mengangkatnya ke udara?

Aku tidak tahu pasti.

Namun aku mengetahui satu kebenaran hakiki.

Encrid melihat seulas senyuman kepuasan batin yang teramat damai terlukis di wajah tirus Aetri.

*'Aku telah mempercayakan penempaan ini seutuhnya ke tangan Aetri, dan pria ini merasa sangat puas dengan karyanya.'*

Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Apakah pria ini telah menuangkan seluruh jiwa raganya ke dalam setiap dentuman palu bajanya?

Mungkin ia memang melakukannya.

Maka dari itu setelah ia menuntaskan seluruh tanggung jawab sakralnya, sosok Aetri—

"Apa dia mati?" tanya Encrid datar.

Apakah pedang pusaka ini baru saja bertransformasi menjadi sebuah mahakarya anumerta dari sang pandai besi?

Mungkin saja begitu.

Pria itu jelas telah mengerahkan kerja keras yang begitu dahsyat; senyuman damai semacam itu hanya sanggup lahir dari kelelahan mutlak yang menguras seluruh sari pati kehidupan.

"Ti-tidak, kenapa Anda berpikir Guru saya mati, Tuan?!" bantah sang murid magang dalam keterkejutan.

Memeriksanya dengan lebih cermat, Aetri ternyata masih bernapas segar, meski hembusan napasnya terdengar sangat halus.

Pria itu murni jatuh pingsan akibat kelelahan fisik yang ekstrem, namun ia sama sekali tidak mati.

Sejujurnya aku sudah mengetahui fakta medis itu tepat saat aku melontarkan pertanyaan tadi.

Mungkin sebagian dari diriku murni mendambakan sedikit sentuhan dramatis di momen sakral ini.

Namun dalam realitas nyata, segala sesuatunya bergulir dengan sangat lumrah.

Pedang berukir sihir ini tidak mendadak berbicara kepadaku tepat saat aku mengangkatnya, tidak pula memancarkan kilatan pendar cahaya yang menyilaukan mata, dan sang pandai besi Aetri sama sekali tidak membakar habis jiwanya demi meninggalkan mahakarya pamungkas yang legendaris.

"Sarung pedangnya ada di sudut meja sana, Tuan."

Bahkan sarung pedangnya pun terlihat sangat biasa tanpa ornamen mewah, dan baik pelindung gagang maupun pasak ujungnya tidak memiliki keistimewaan fisik apa pun.

Hanya bilah pedangnya yang memancarkan kilau pendar biru temaram yang sangat halus.

Meski begitu warnanya tidak sama dengan rona biru baja Valerian Mountain Steel—warnanya jauh lebih menyerupai rona biru langit yang bersih.

*'Haruskah aku menamainya Skyblade saja tadi?'*

Nama itu rasanya memang terdengar sangat cocok untuk bilah ini.

Bilah pedang ini melepaskan aroma wangi yang teramat lembut—secara aneh hal itu mengingatkanku pada aroma udara segar dari bentangan langit biru cerah tanpa ada segumpal awan pun yang menghalangi.

Begitulah betapa segar dan bersihnya aroma tersebut.

*'Bukan, jika dijabarkan secara lebih presisi lagi.'*

Itu adalah sebuah aroma wangi yang terlahir dari perpaduan mistis antara langit malam yang sunyi, keharuman bunga hutan, serta getah pepohonan purba.

Saat seluruh esensi alam tersebut melebur harmonis menjadi satu, hal itu melahirkan aroma khas dari bentangan langit yang bersih.

"Bagaimanapun faktanya, aku akan merawat dan menggunakan pedang ini dengan sebaik-baiknya. Terima kasih banyak atas kerja kerasmu, Aetri."

Aetri yang sempat pingsan sejenak perlahan membuka matanya lalu menjawab lirih,

"Sama-sama, Komandan..."

Setelah melangkah keluar dari bengkel tempa, Encrid berjalan berkeliling memamerkan pedang barunya kepada setiap orang yang berpapasan dengannya.

"Aetri tampaknya bukan tipe orang yang suka menimbun barang berharga untuk dirinya sendiri, kan? Tapi anehnya itulah kesan yang kutangkap saat melihat pedang polos itu," celetuk Krais berkomentar, yang tidak benar-benar memahami seluk-beluk seni penempaan, sementara para perwira lainnya murni menerima pedang itu apa adanya.

"Apakah bilah itu pedang pusaka barumu, Komandan?" tanya Rem singkat.

"Iya."

Percakapan singkat itulah satu-satunya dialog yang bertukar di antara diriku dan Rem.

Meskipun bilah pedang ini tidak terlihat istimewa di mata orang awam, Encrid terus-menerus merasakan betapa luar biasa nyaman dan alaminya bilah ini saat menyatu di dalam telapak tangannya.

Setelah menghabiskan sisa hari itu menata perlengkapan, Encrid segera mengomandoi pasukannya untuk berangkat saat itu juga.

Ia telah menuntaskan seluruh persiapan ekspedisi sejak lama, murni menanti rampungnya sang senjata pusaka Engraved Weapon.

"Semoga perjalanan kalian selamat sampai tujuan!" seru Krais yang melangkah keluar gerbang demi melepas keberangkatan mereka, sementara Shinar melangkah anggun tepat di samping tubuh Encrid.

Setelah melangkahkan kaki beberapa langkah menembus jalan setapak, Encrid mulai bergumam berbicara seorang diri dengan nada santai:

"Iya, kita sekarang resmi berangkat menempuh perjalanan jauh. Kau berharap ada insiden menarik yang meletus di depan sana? Aku pun mengharapkan hal yang sama."

Kurang lebih kalimat itulah yang meluncur dari bibirnya.

Menyaksikan Shinar yang sedari tadi berjalan membisu dalam keheningan tepat di sampingnya, Rem membuka suara heran,

"Sebenarnya dengan siapa Komandan sedang berbicara sedari tadi, hah?"

Encrid menjawabnya sendiri, terdengar teramat tenang tanpa beban sedikit pun di wajahnya:

"Dengan anak kesayanganku."

Rem mengerjapkan matanya beberapa kali dalam kebingungan total.

Pria barbar itu menggaruk daun telinganya lalu melirik ke arah ekspresi wajah Shinar—sama sekali tak ada tanda-tanda kebahagiaan atau rona merah di paras sang ratu peri.

Tentu saja panggilan sayang semacam itu mustahil ditujukan untuk sosok sang ratu peri.

Usia gadis peri itu jauh lebih tua daripada Encrid, berkali-kali lipat lebih purba, sehingga sama sekali tidak masuk akal memanggilnya dengan sebutan anak manis.

Lantas dengan siapa sebenarnya ia sedang berbicara?

Ragna yang turut diliputi rasa penasaran mendengarkan dengan saksama dalam keheningan, dan Jaxen yang melangkah membuntuti tanpa suara pun menaruh perhatian penuh pada misteri tersebut.

HIIINGGG—!

Sosok kuda liar berbulu lebat Odd-eye yang sedari tadi membuntuti mereka seolah-olah sedang mengantar keberangkatan ekspedisi menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

Kuda liar yang luar biasa cerdas ini memahami bahasa manusia dengan sangat sempurna.

"Tunggu, jangan bilang kalau...?" gumam Rem melotot kaget.

Dan Encrid memperkenalkan pedang di pinggangnya dengan ekspresi yang teramat datar dan serius:

"Kalian berdua tampaknya belum pernah berkenalan secara resmi, kan? Ayo, sapalah dia dengan sopan. Ini adalah Duskforge."

Rem kali ini menahan diri untuk tidak mengutuk kasar.

Tingkah laku aneh semacam ini sejujurnya masih berada tepat di dalam batas ekspektasi kegilaan Komandannya.

"Semoga kedamaian suci senantiasa menaungi kepala Saudaraku tercinta..."

Hanya doa itulah yang sanggup dilantunkan oleh Audin seraya menatap tingkah laku sang ksatria.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.