Bab 815: Para Tamu
'Will adalah kehendak tekad murni.'
Sederhananya, memang begitulah prinsip dasarnya.
Ragna pun sangat memahami prinsip tersebut.
Lalu apakah bilah gelombang panas membara yang disemburkan melalui Sunrise adalah kehendak tekad murni milikku?
'Ataukah itu merupakan kehendak tekad milik sang pedang?'
Kemampuan tempur yang sanggup kugerakkan murni karena pedang ini adalah sebilah pedang setingkat Relic di mana sisa-sisa pemikiran dari para pendekar masa lalu telah menumpuk selama beberapa generasi—apakah kekuatan itu memang milikku?
Ataukah kekuatan itu adalah milik sang pedang?
Rangkaian pertanyaan filosofis itulah yang terus melayang-layang di dalam benak Ragna sejak pertempuran sengit melawan Beelrog tempo hari.
Sebuah rasa penyesalan mendalam turut menyapa hatinya.
'Pada akhirnya, aku seharusnya tidak melepaskan gelombang panas itu.'
Di dalam pertempuran puncak melawan Beelrog, Ragna merasakan ketidakpuasan yang teramat besar terhadap sabetan tebasan pedang terakhirnya.
Itu adalah sebuah pertarungan hidup dan mati yang seharusnya sanggup ia tuntaskan seutuhnya murni menggunakan pedangnya sendiri.
Bilah pedang yang seharusnya sanggup membelah hancur ketiga kristal Beelrog sekaligus justru berhasil ditahan oleh sang iblis.
'Kenapa bisa tertahan?'
Ragna selalu mengetahui dengan pasti alur lintasan yang akan dilalui oleh bilah pedangnya.
Kepekaannya berada pada tingkatan di mana dirinya sanggup melihat gambaran masa depan terlebih dahulu.
Itulah alasan kenapa dirinya pun sempat melihat secara pasti bahwa pedangnya akan menghancurkan ketiga kristal milik Beelrog hingga berkeping-keping.
Itu tadinya merupakan sebuah fakta kepastian yang mutlak.
Namun tebasan itu berakhir dengan kegagalan.
Apakah itu karena kekurangan kapasitas kemampuan dirinya?
Bukan, itu adalah jalur pedang yang terlihat nyata karena memang sangat memungkinkan untuk dicapai tepat pada detik tersebut.
Meskipun dirinya kerap kehilangan arah jalan saat mencari rute perjalanan biasa, sosok Ragna yang tengah menggenggam sebilah pedang di tangannya tidak akan pernah tersesat.
Di tengah kegagalannya itu, dia pun sempat menyaksikan bagaimana Encrid memecahkan cangkang batas kemampuannya lalu melangkah maju satu jenjang ke depan.
Dia menyaksikan seni pedang Extinguishing Embers milik Encrid dari jarak yang teramat dekat.
Sang Kapten tengah melangkah maju menuju ke puncak yang lebih tinggi.
'Lalu bagaimana dengan diriku sendiri?'
Apakah kemampuanku justru mengalami kemunduran?
Mendengar bisikan pemikiran itu, anehnya jantungnya seketika berdegup kencang memburu, jiwanya bergolak membara, dan berbagai macam emosi saling berbenturan sebelum akhirnya memusat menyatu menjadi satu titik.
Dan anehnya lagi, itu sama sekali bukan merupakan sebuah luapan emosi negatif.
'Ini sangat menyenangkan.'
Sensasi kenikmatan dan gelora antusiasme membuncah yang telah diucapkan ribuan kali oleh sang Kapten akhirnya resmi menyapa lubuk hatinya.
Momen pertarungan yang selama ini terasa teramat membosankan hanya karena jalur lintasannya telah ditentukan sejak awal, kini terasa sangat berbeda.
Itulah alasan kenapa masa-masa perenungan ini sama sekali tidak terasa menyiksa baginya.
Dia murni tengah menikmati setiap detiknya.
Dan hanya karena dirinya merasa sangat menikmatinya, bukan berarti dia berniat untuk berpuas diri mematung di tempat ini.
Ujung akhir dari seluruh gejolak emosi ini sanggup ia rasakan murni karena dirinya tengah melangkah maju.
Ragna adalah seorang pendekar genius sejati.
Dia tidak pernah melewatkan prinsip dasar tersebut.
Hanya dengan terus melangkah maju ke depan, kenikmatan yang membahagiakan ini akan terus berlanjut.
Monster, Beelrog, pertempuran maut, sang Kapten, Extinguishing Embers, Beelrog sekali lagi, dan kemudian Sunrise.
Rantai pemikirannya saling bersambung satu demi satu tanpa henti, dan dia melangkah mantap mencari seberkas binar cahaya yang tampak samar-samar di kejauhan.
Di dalam proses pencarian itu, Ragna sama sekali tidak merasakan secuil pun rasa jenuh atau bosan.
Itulah alasan kenapa dirinya terus mengayunkan pedangnya bahkan saat sedang sendirian, melangkah di dalam dunianya sendiri tanpa mempedulikan apa pun yang tengah terjadi di sekelilingnya.
Pada awalnya dia mengira bahwa dirinya tengah melangkah seorang diri, namun di dalam mata batinnya, sang Kapten beserta rombongan ksatria gila itu melangkah mendekat dan berdiri menemani satu per satu, dan pada satu titik, binar cahaya yang tadinya terasa teramat jauh kini telah melangkah semakin dekat di depan matanya.
"Apa kau sekarang sudah paham maksudnya?"
Di dalam mata batinnya, Sunrise seakan berbisik mengajaknya bicara.
Sunrise memang merupakan sebilah Relic kuno, namun senjata ini bukanlah sebuah Ego Sword yang memiliki kesadaran mandiri, sehingga suara itu pastilah murni merupakan ilusi halus di kepalanya, namun bilah pedang itu memang memancarkan getaran dengungan tipis.
"Kau akhirnya akan sanggup menggunakan sebilah pedang dengan benar."
Lebih tepatnya, apakah itu merupakan kata-kata yang diucapkan bukan oleh sang pedang secara fisik, melainkan oleh sisa-sisa kehendak pemikiran para pendekar masa lalu yang bersemayam di dalamnya?
'Jika aku sampai ditelan oleh kekuatan Sunrise, aku hanya akan mentok pada tingkatan yang sekadar lumayan bagus.'
Tentu saja tolak ukur 'sekadar lumayan bagus' di sini adalah ditinjau murni dari standar tinggi milik Ragna.
Kata-kata itu meluncur keluar dari fakta kenyataan bahwa dirinya tidak akan pernah sudi merasa puas dengan kapasitas kekuatannya saat ini.
Hal itu memang sangat alami, namun ada alasan yang sangat jelas kenapa wangsa agung Yohan bahkan sengaja menelantarkan pedang sehebat ini dan enggan menggunakannya selama beberapa generasi.
Jika kau salah menggunakannya, kau justru akan ditelan bulat-bulat dan dikendalikan oleh sang pedang.
Sebilah pedang yang menuntut bakat bela diri yang luar biasa luar biasa istimewa hanya demi mendapatkan kualifikasi untuk menggenggam gagangnya, dan bahkan kualifikasi pengakuan itu pun harus terus dibuktikan secara konsisten tiada henti.
'Bukan sebilah Treasured Sword suci, melainkan sebilah Demon Sword terkutuk.'
Ya, jika dirinya harus mengkategorikannya secara jujur, pedang ini jauh lebih mendekati wujud sebuah Demon Sword.
"Blade."
Itulah alasan kenapa dia harus mengayunkannya bukan lagi mengandalkan gelombang panas membara, melainkan murni mengandalkan kehendak tekad alami miliknya sendiri.
Dia tidak boleh dikendalikan oleh pedangnya, melainkan dialah yang harus mengendalikan pedang tersebut seutuhnya.
Dia harus melakukannya berlandaskan kehendak Will miliknya.
Jawaban mutlak dari kesimpulan yang ia capai setelah melewati perenungan panjang yang mendalam adalah 'bilah pedang murni'—yakni Blade.
Bukan gelombang panas, melainkan bilah pedang.
Sebilah pedang agung yang ditempa murni dari kehendak Will.
Bakat genius Ragna akhirnya berhasil menemukan binar cahaya tersebut, mencengkeramnya erat, lalu menelannya tandas.
"...Apa sebenarnya yang tengah diracaukan oleh bajingan gila ini?!"
Pria bertopi hitam membuka suaranya dengan nada tertahan.
Itu terjadi tepat setelah dirinya bersusah payah melepaskan diri dari himpitan hawa tekanan yang mencekam tadi.
Sang pendekar Greatsword di belakangnya telah bersiap-siap untuk bertarung menumpahkan darah kapan saja.
"Ada apa sebenarnya? Apakah mereka adalah musuh? Apa aku harus menebas mereka semua sampai mati sekarang?"
Meskipun tidak tampak secara gamblang dari luar, sosok Ragna saat ini tengah terhanyut ke dalam gelora antusiasme yang samar.
Sensasi kemahakuasaan yang dulu sempat ia rasakan saat pertama kali resmi diangkat menjadi seorang ksatria kini kembali meluap memenuhi sekujur raganya.
Namun dia tidak akan membiarkan dirinya mabuk kepayang oleh sensasi itu lalu mengayunkan pedangnya secara sembrono.
Hanya saja...
'Seandainya aku bertarung sekali lagi.'
Seandainya dirinya berkesempatan bertemu kembali dengan sosok Beelrog yang kini telah mati binasa, benaknya hanya dipenuhi oleh tekad bulat bahwa dirinya tidak akan pernah lagi bertarung dengan gaya yang memalukan seperti dulu.
Dengan kata lain, dada Ragna saat ini tengah dipenuhi oleh hasrat membara untuk bertarung.
Haruskah dikatakan bahwa kondisinya saat ini setara dengan seekor katak tepat sebelum berhasil meraih tujuannya, seorang raksasa yang tengah mabuk oleh aroma darah segar, seorang peri yang tengah mempertahankan hutan sucinya, seorang kurcaci yang baru saja menemukan sebongkah batu permata langka, serta seekor manusia binatang yang baru saja bertemu dengan pasangan hidup yang teramat memikat?
Namun demikian, sosok-sosok yang luar biasa adalah spesies yang selalu sanggup mendobrak batasan-batasan kodrati yang ditetapkan oleh kaum mereka.
Seekor katak yang luar biasa akan sanggup menahan diri bahkan saat tengah mabuk oleh hasrat nafsunya, tepat sebelum mencapai tujuannya.
Hal serupa pun berlaku bagi ras-ras lainnya di dunia.
Seorang raksasa berkepala dingin, seorang manusia binatang yang bertapa menahan hawa nafsu, seorang peri yang emosional dan agresif menyerang, serta seorang kurcaci yang telah melampaui ketamakan harta materi.
Ragna telah memperlihatkan tingkat kesabaran setinggi itu murni hanya dengan bertanya terlebih dahulu alih-alih langsung menebas pria di hadapannya sampai putus di tempat.
Esther menyadari betul perkembangan mental tersebut.
Karena itu adalah jalan pencapaian yang dirinya pun telah berhasil raih dan tapaki melalui dunia sihir.
Gadis penyihir itu memandangi sosok Ragna lalu merenung di dalam hatinya.
'Dan seluruh perkembangan luar biasa ini terwujud murni berkat keberadaan pria bernama Encrid.'
Itu adalah pelajaran hidup yang ia serap dari memandangi punggung ksatria tersebut.
Sama pastinya seperti apa yang berlaku bagi dirinya sendiri, hal serupa pun berlaku bagi sosok Ragna.
"Bukan musuh. Tamu. Untuk saat ini."
Esther memilih kata-katanya lalu melontarkannya datar, dan pria bertopi hitam seketika merasakan akal sehatnya yang dingin seakan berubah menjadi air mendidih yang meluap.
Dia rasanya ingin menumpahkan seluruh kekuatan yang ia miliki detik ini juga demi memaksa orang-orang sombong ini berlutut bersujud di bawah kakinya.
Namun dia sama sekali tidak bisa melakukannya.
Selama dirinya memposisikan diri sebagai bawahan setia seseorang, perintah dari sang majikan selalu berdiri di atas kehendak pribadinya.
"Aku akan membunuhmu."
Sang pendekar Greatsword terlepas dari rekannya secara terang-terangan memancarkan kehendak tekad bertarungnya.
Terlepas dari tingkat kemurnian tekad tersebut, bobot kekuatannya sama sekali tidak kecil.
Meninjau dari kuda-kuda bertarung, pembawaan diri, serta hawa keberadaannya secara menyeluruh, pria berpedang besar ini adalah sosok yang sangat memahami bagaimana cara bertempur di medan perang.
Ditinjau dari standar milik Ragna, sosok yang memahami cara bertarung berada pada tingkatan seorang ksatria sejati.
Namun pria ini tidak terlalu cocok dengan selera bertarungnya.
Paling banter pertarungan melawannya akan berakhir tuntas hanya dalam tempo satu atau dua kali sabetan pedang.
Jika situasinya memang seperti itu, maka jauh lebih baik baginya untuk menggelar sesi latihan tanding melawan sang Kapten.
Tentu saja untuk saat ini, merenungkan dan memantapkan apa yang baru saja ia sadari jauh lebih penting dibanding segalanya.
Oleh karena itu, jika orang-orang ini bukan merupakan musuh, dia tinggal mengabaikan keberadaan mereka begitu saja.
Setelah mendengar penjelasan singkat Esther, Ragna membalikkan badannya lalu melangkah pergi dengan derap langkah kaki yang lebar.
Sang pendekar Greatsword tidak sanggup mengejar langkahnya.
Bahkan andai dirinya telah memancarkan kehendak membunuh untuk bertarung, dia pun pada hakikatnya tetaplah seorang bawahan yang terikat oleh aturan.
"...Apa-apaan sebenarnya orang tadi itu?!"
Pria bertopi hitam bertanya seolah tengah bergumam linglung pada dirinya sendiri.
Dia telah hidup bernapas di dunia ini dalam jangka waktu yang sangat lama.
Dan dia telah menjumpai begitu banyak orang-orang aneh nan eksentrik sepanjang hidupnya.
Namun pria pirang barusan tergolong sangat luar biasa bahkan di antara orang-orang aneh tersebut.
Pria itu adalah sosok pendekar di mana kegilaan murni sanggup diintip dengan sangat jelas dari sorot matanya.
Esther memberikan jawabannya sembari membayangkan sosok Ragna.
"Seorang pendekar pedang yang tersesat arah."
"Apa?"
Tak ada lagi hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut.
Bagaimanapun, tujuan utama kedatangan mereka kemari adalah untuk menemui sosok pria bernama Encrid.
Sang saudagar tambun buru-buru mengeluarkan sehelai saputangan, menyeka keringat di dahinya, merogoh sebutir pil bulat dari balik pakaiannya, menelannya bulat-bulat, lalu berkomat-kamit menenangkan diri.
"Pil ini melindungi jiwa dan menenangkan pikiran..."
Khasiat obatnya rupanya bukan bualan belaka, terbukti dari kedua kakinya yang tadinya gemetar hebat kini perlahan-lahan mulai sanggup berdiri normal kembali.
"Fiuh, tidak akan ada lagi insiden mengerikan seperti tadi kan?"
Sang saudagar bertanya sembari menyunggingkan senyuman canggung lalu mulai melangkahkan kakinya kembali.
Dan begitulah mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Entah baru berapa tindak langkah kaki yang mereka ayunkan, saat mereka kembali berpapasan dengan sosok orang lain.
Bukan sekadar berpapasan biasa.
Itu adalah sebuah situasi yang serupa dengan kejadian sebelumnya, meskipun dalam wujud yang agak berbeda.
"Siapa sebenarnya kalian ini?"
Sang saudagar mendadak merasakan sesuatu yang teramat dingin dan mencekam menyentuh tipis kulit lehernya.
Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi, namun sinyal peringatan bahaya yang ditiupkan oleh insting biologisnya terdengar teramat sangat jelas:
Hentikan langkah kakimu sekarang juga dan tutup mulutmu rapat-rapat!
Sang saudagar dengan patuh melakukan tepat hal tersebut.
Pria bertopi hitam hanya sanggup memutar bola matanya ke arah samping.
Bola matanya bergerak meliuk di luar batas jangkauan kemampuan manusia normal, dan dia memastikan sosok pria yang tengah berdiri mematung di sampingnya.
Itu adalah seorang pria dengan helaian rambut berwarna cokelat kemerahan serta paras penampilan yang sangat tidak lazim.
Pria itu telah melangkah mendekat entah sejak kapan, berdiri tepat di antara pria bertopi hitam dan sang saudagar, sembari mengarahkan sepasang bilah belati—yang panjangnya kurang dari satu jengkal dan digenggam sedemikian rupa hingga gagangnya tidak terlihat—lurus membidik ke arah leher mereka berdua.
Satu gerakan ceroboh saja dan leher mereka pasti akan tertebas putus dengan rapi.
Pria bertopi hitam pun menyadari kenyataan mengerikan itu secara instingtif.
Sang pendekar Greatsword terlambat satu langkah dalam melompat mundur lalu mencengkeram gagang pedang besarnya.
Sorot mata Jaxon sama sekali tidak bergeming sedikit pun.
Dia memang melontarkan pertanyaan perihal siapa mereka, namun pandangan matanya hanya menatap lurus ke arah sosok Esther.
Dia bukannya tengah mencari gara-gara tanpa alasan yang jelas.
Tepat di detik dirinya melihat ketiga orang asing ini, seluruh sensor kepekaan di tubuhnya langsung meledak bereaksi.
Terlepas dari seberapa hebat kemampuan bela diri mereka, orang-orang ini adalah sosok-sosok yang memancarkan aura subversif yang teramat sangat pekat.
Mereka sama sekali tidak datang kemari membawa niat baik.
Oleh karena itu, jika situasi memang menuntutnya, sudah sangat tepat baginya untuk melumpuhkan dan menundukkan mereka di tempat ini detik ini juga.
Mereka adalah sosok-sosok yang begitu menjengkelkan hingga seandainya bukan karena keberadaan Esther yang memandu jalan, Jaxon pasti sudah melancarkan serangan mematikan terlebih dahulu.
Jaxon selama ini selalu bertugas menangani para pembunuh bayaran yang membidik nyawa Encrid atau para penyusup gelap yang mencoba mengendap-endap masuk.
Bagi dirinya, insiden semacam ini tak lebih dari sekadar rutinitas harian biasa.
Meskipun hal serupa jelas tidak berlaku bagi orang-orang yang berada di pihak penerima ancaman.
"Masih tergolong tamu."
Esther memberikan jawabannya dengan nada datar tanpa emosi.
Gadis itu tidak menganggap bahwa ketiga orang ini merupakan sebuah ancaman berbahaya yang nyata.
Oleh karena itulah dia berniat membimbing mereka melangkah menuju ke hadapan Encrid.
"Hm."
Jaxon seketika melangkah mundur dan menarik diri begitu saja.
Karena tak ada lagi alasan untuk saling bertukar kata, dia langsung melangkah pergi demi mengurus urusan pribadinya sendiri.
Hari ini adalah hari di mana dirinya telah berjanji untuk berjumpa dengan sang kekasih hati tercinta.
Alasan kenapa dirinya sempat melangkah turun tangan barusan murni berakar dari pemikiran seperti tengah memungut sampah liar yang kebetulan ia lihat di tengah jalan, bukan murni dengan niat penuh untuk bertarung hidup dan mati.
Peristiwa itu terjadi tepat setelah sosok Jaxon menghilang ditelan lorong.
Sang saudagar tambun bergumam lirih dengan suara gemetar.
"Tempat ini... tempat ini rasanya jauh lebih mengerikan dibanding neraka Demon Realm..."
Esther melirik sekilas ke arahnya.
Sang saudagar tambun memberikan kesan rapuh di mana seandainya pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam Demon Realm, akan sangat sulit baginya untuk sanggup bertahan hidup bahkan hingga hitungan kesepuluh.
Namun demikian, jika pria ini ternyata pernah mencicipi bukan sekadar perbatasan luar Demon Realm melainkan hingga ke bagian dalamnya, pastilah ada alasan khusus di balik fakta tersebut.
Rembesan informasi yang tersirat di dalam nada bicaranya mengindikasikan hal demikian.
"Akan sangat merepotkan kalau kalian sudah merasa sekaget ini hanya gara-gara hal sepele barusan."
Ujar Esther dengan teramat jujur.
Di dalam The Order of the Madmen Knights, masih ada anggota-anggota monster lainnya yang tersisa yang sanggup membuat mereka jauh lebih terperangah syok dibanding dua ksatria tadi.
Perjalanan menyusuri lorong menuju ke area lapangan latihan terbukti berjalan jauh lebih terjal dan penuh rintangan di luar perkiraan mereka.
Mereka bertiga tadinya berangkat melangkah masuk murni demi menyampaikan sebuah pesan diplomatis sederhana atau melontarkan secuil ancaman gertakan, namun alih-alih melancarkan ancaman, mereka justru terus-menerus diancam dan ditekan sepanjang jalan.
"Dasar bajingan-bajingan keparat..."
Pria bertopi hitam mulai merasakan emosi di dalam dadanya terpelintir kusut.
Selagi mereka terus melangkah maju, kali ini dua orang pendekar berilmu setingkat ksatria—yang perawakan wajahnya begitu mirip hingga sanggup disangka sebagai saudara kandung—melangkah maju ke depan dan tengah berada di tengah-tengah perdebatan sengit dengan urat-urat darah menonjol tegang di dahi mereka.
Itu bukanlah benturan senjata tajam, melainkan murni perdebatan adu mulut.
"Hei, kebetulan sekali ada orang baru yang lewat di sana. Sudah sangat adil kalau kita meminta pendapat dari mereka!"
Seru pria bernama Fel tersebut.
Profesi masa lalunya adalah seorang gembala dari kelompok Shepherds of the Wilderness, dan kini telah resmi menjadi anggota The Order of the Madmen Knights, seorang pekerja keras sejati yang mempertaruhkan segalanya pada momentum kilat, gemar mendiskusikan bakat alami, namun berlatih keras bagaikan orang kesurupan setiap hari.
Pria yang berdiri berhadapan dengannya, Ropord, mengangkat bahunya santai.
"Silakan saja kalau kau berani."
Fel yang melihat sosok Esther segera melontarkan pertanyaannya kepada ketiga orang yang mengekor di belakang punggung sang gadis penyihir.
"Hei kalian orang asing di sana! Di antara kami berdua ini, menurut kalian siapa yang wajahnya terlihat jauh lebih tampan?!"
Sialan, pertanyaan macam apa yang tiba-tiba meluncur keluar ini?!
Pria bertopi hitam bahkan sudah tidak sanggup merasa gelagapan panik lagi.
Dia hanya merasakan kepalanya pening luar biasa, seolah dirinya baru saja begadang selama beberapa malam berturut-turut tanpa tidur.
Sama sekali tidak ada orang yang berakal sehat waras di tempat terkutuk ini!
"Apa aku kelihatan seperti orang gampangan di mata kalian?!"
Pria bertopi hitam bergumam tertahan dengan gigi gemeretak.
Padahal dirinya dulunya sempat menjabat sebagai seorang komandan korps dari sebuah unit pasukan binatang buas pemusnah?
Padahal dulu ada begitu banyak barisan prajurit yang bakal terkencing-kencing di celana bahkan hanya dengan melihat siluet sosoknya dari kejauhan?
Situasi ini benar-benar berada pada tingkatan di mana julukan agungnya, 'Guide of the Black Wave', seakan terinjak-injak tanpa harga diri.
Tak peduli seberapa tumpulnya mata orang-orang di tempat ini dalam membaca kehebatan seseorang, bagaimana mungkin perlakuan semacam ini bisa terjadi?
Pria bertopi hitam menekan seluruh gejolak emosi rumit di dalam dadanya sembari memasang raut wajah yang teramat datar dan hampa.
Dia adalah seorang bawahan.
Apa yang sanggup ia perbuat di tempat asing ini sangatlah terbatas.
"Yang sebelah sini."
Oleh karena itulah dia memberikan jawabannya dengan sangat patuh sembari menunjuk ke arah Ropord.
Pffft!
Suara tawa geli yang tertahan seakan terdengar meletup dari suatu tempat.
Sepasang mata pria bertopi hitam sekali lagi berputar secara abnormal dan menyapu sosok Esther.
Hanya sebelah bola matanya saja yang bergeser memusat ke sudut terluar matanya.
Itu adalah sebuah trik fisik yang teramat mengerikan untuk dilihat.
Wajah Esther tampak sangat dingin tanpa ekspresi.
Namun suara tawa geli barusan jelas-jelas meletup dari bibir gadis tersebut.
"Dengan bentuk sepasang mata aneh macam begitu, pantas saja kau tidak bisa menilai ketampanan seseorang dengan benar!"
Fel menolak keras menerima hasil penilaian tersebut.
Dia menunjuk ke arah mata pria bertopi hitam menggunakan jari telunjuknya, melontarkan protes kerasnya, lalu membalikkan badannya pergi.
"Tentu saja, wajar kalau kali ini pun kau tetap menolak mengaku kalah."
Ropord bersikap sangat santai tanpa beban.
Itu adalah pertarungan adu tampan yang telah ia menangkan sejak awal, sehingga dia bertingkah layaknya seorang pemenang sejati.
"Ini sejak awal adalah duel yang tidak adil tahu! Kau setiap hari selalu bergaul dan nongkrong bersama para prajurit garnisun sedangkan aku tidak, jadi kalau kau menuntut penilaian ketampanan di bawah kondisi seperti itu, mereka terpaksa memilihmu murni karena takut kena bogem mentah dari tinjumu itu!"
Ropord rupanya telah menanyakan pertanyaan serupa kepada barisan prajurit garnisun dan mendapatkan jawaban yang memuaskan sebelum datang kemari.
Terkadang untaian kata-kata yang terlalu panjang adalah bukti nyata dari posisi yang tengah terdesak kalah.
Sosok Fel saat ini persis seperti itu.
"Ayo kita lanjutkan jalan."
Esther mengabaikan celotehan konyol mereka berdua lalu melangkah melintas pergi.
Sang pendekar Greatsword sempat bimbang apakah dirinya harus menghunus pedang besarnya sekarang atau tidak.
Apakah situasinya memang belum mencapai tingkatan genting tersebut?
Terasa sangat ambigu apakah dirinya harus mencabut senjatanya demi melontarkan ancaman nyata ataukah tetap menahan diri.
Selagi mereka terus melangkah, kali ini mereka berpapasan dengan sepasang pria dan wanita berpostur raksasa yang perawakan fisiknya begitu mirip hingga sangat pantas disebut sebagai sepasang saudara kandung.
"Kalian memancarkan aura subversif yang teramat pekat."
"Jika lubuk hati kalian tengah mendambakan untuk segera menerima kedatangan God of War, kalian boleh menyatakannya kapan saja kepada kami."
Sepasang raksasa itu hanya melontarkan kalimat tersebut lalu menghentikan langkah kaki mereka.
Esther kembali menegaskan dengan suara tenang bahwa ketiga orang ini adalah tamu.
Kedua raksasa itu akhirnya melangkah melintas melewati mereka.
"Mumpung hari ini ada jadwal ceramah keagamaan di kuil suci."
Ujar sang pria raksasa—yang diduga kuat merupakan seorang manusia binatang dari ras beruang—selagi melangkah pergi.
Pria bertopi hitam merenungkan makna mendalam di balik untaian kata yang baru saja dilemparkan oleh kedua raksasa tersebut.
'Menerima kedatangan God of War?'
Itu adalah doktrin khotbah yang sangat sering dilontarkan oleh para rasul fanatik dari sekte sang dewa perang.
Itu adalah sebuah racauan gila yang menyatakan bahwa karena hakikat pengampunan dosa adalah hak prerogatif mutlak milik Sang Penguasa, maka tugas suci mereka di dunia fana hanyalah sebatas mengirimkan nyawa orang-orang berdosa tersebut langsung menuju ke sisi Sang Penguasa secepat mungkin.
Dengan kata lain, kalimat ramah barusan bermakna: 'Katakan saja kalau kalian memang sudah bosan hidup dan ingin mati sekarang!'
"Dasar bajingan-bajingan gila..."
Kini pria bertopi hitam telah berada pada tingkatan di mana dirinya bahkan sudah tidak sanggup meluapkan amarahnya lagi.
Esther, sang penyihir agung yang dijuluki oleh pria bertopi hitam sebagai Child of the Stars, akhirnya berhasil memandu mereka tiba di lokasi tujuan akhir mereka.
Di tempat itu berdiri seorang pria berambut hitam pekat dengan sepasang mata berwarna biru terang yang memikat.
"Rem, badanmu bau sekali tahu!"
Di sana ada seekor manusia binatang dengan sepasang mata emas dan gaya bicara yang teramat tidak sopan.
"Hah, racauan omong kosong macam apa lagi yang kau semburkan itu? Apa kau rupanya sedang mendambakan sedikit sesi latihan tanding fisik lagi?!"
Dan bersama mereka ada seorang pria barbar yang melontarkan racauan omong kosong yang jauh lebih gila lagi.
Sang manusia binatang memencet hidungnya sembari meringis jijik, dan sang pria barbar menyeringai buas sembari menarik keluar kapak perangnya.
"Bagaimana kalau kubelah saja salah satu dari kepala mereka terlebih dahulu?"
Tindakan itu kemungkinan besar memang tidak akan menjadi masalah besar.
Namun keputusan eksekusi tersebut bukanlah wewenang Esther untuk menentukannya.
"Ada tamu yang datang."
Ujar Esther singkat lalu melayangkan pandangan matanya menatap lurus ke arah Encrid.
Dua pasang mata berwarna biru jernih saling beradu pandang di udara.
Pastilah ada alasan yang sangat kuat kenapa Esther sudi bersusah payah membimbing orang-orang ini melangkah sejauh ini.
"DASAR KALIAN SEMUA BAJINGAN-BAJINGAN GILA!"
Dan di sanalah berdiri sang pria bertopi hitam yang, merasa teramat sangat emosional atas seluruh 'sambutan hangat dan ramah' yang ia terima di sepanjang jalan kemari, akhirnya meledakkan sebuah jeritan histeris yang terdengar menyerupai sorak-sorai keputusasaan.
Encrid memandangi sosok pria bertopi itu dengan tenang tanpa secuil pun riak emosi di wajahnya.
Keduanya benar-benar merupakan dua sosok figur yang teramat sangat kontras bertolak belakang.
Yang satu tampak begitu emosional dan meledak-ledak setengah gila, sedangkan yang satunya lagi tampak teramat sangat tenang, sedingin permukaan telaga yang membeku.











