Eternally Regressing Knight

Bab 820: Jadi, Kau Digendong Lagi

3574 Kata

Bab 820: Jadi, Kau Digendong Lagi

Saat ketiga tamu asing yang berkunjung gagal meraih tujuan mereka masing-masing dan musnah lenyap, pandangan mata Encrid beralih menatap lurus ke arah langit.

Lebih tepatnya, Rem dan Dunbakel pun turut melayangkan pandangan mereka ke atas.

Dunbakel menyadarinya melalui indra penciumannya, dan Rem menyadarinya karena kekuatan suci yang sempat merasuki tubuhnya sesaat tadi telah memberikan sebuah sinyal peringatan.

Lalu apakah ada sesuatu yang terlihat di angkasa?

Sama sekali tidak ada apa-apa.

Hal itu tidak kasatmata bagi penglihatan mata telanjang.

Namun Encrid sempat melihat secara samar-samar ada sesuatu dengan ekor panjang yang melesat terbang menjauh menembus awan.

Seorang ksatria sejati memang merupakan sebuah bencana berjalan dan sanggup membantai seribu musuh seorang diri, namun dia tidak memiliki kemampuan magis untuk menyambar entitas tanpa wujud yang tengah melesat terbang melintasi langit.

'Bukan, mungkin andai aku menyadarinya sedikit lebih awal...'

Encrid merenung di dalam hatinya, dan alur pemikirannya kemudian berlabuh pada titik singularitas dari ilmu pedangnya.

Apakah hal itu merupakan sesuatu yang aneh ataukah memang sudah sewajarnya?

Pedang Dawn menyimpan kekuatan suci untuk menyucikan segala bentuk kenajisan dan kejahatan.

Sebuah kekuatan tanpa wujud yang berakar dari logam True Silver dan mengalir di sepanjang bilah pedang mengikuti kehendak aliran Will kemungkinan besar sanggup menebas entitas gaib semacam itu.

'Yah, tampaknya sekarang kesempatannya sudah lewat.'

Sehebat apa pun seorang ksatria, dia bagaimanapun mustahil sanggup terbang di angkasa.

Rem mengerutkan keningnya sesaat lalu kembali mengendurkan alisnya.

"Kalau benda sialan itu berani datang lagi, aku pasti bakal menembak jatuhnya saat itu juga."

Mendengar sumpah serapah itu, Dunbakel membuka mulutnya.

"Kenapa kita tidak membereskannya sebelum hal itu terjadi saja?"

Rem kemudian menimpali dengan sikap yang teramat santai dan acuh tak acuh.

"Nanti bakal kuhabisi kalau seranganmu meleset, dasar manusia binatang berbulu lebat."

Dunbakel segera mengoreksi kekeliruan kata-kata Rem.

"Bagi kaum manusia binatang, memiliki bulu yang lebat itu bukan sebuah aib memalukan, melainkan sebuah kebanggaan tahu!"

"Kalau begitu bagaimana kalau seluruh bulumu itu kucabuti sampai botak sekarang?"

"Hah, coba saja kalau kau memang berani!"

Pengalaman hidup dan mati di belantara Wilayah Timur telah membuat sang manusia binatang bertumbuh dewasa.

Sosok Dunbakel yang penakut di masa lalu kini telah lenyap tanpa bekas.

Dia sekarang sudah sangat mahir membantah dan mendebat kata-kata Rem.

Di sela-sela perdebatan mereka, Krais membuka suaranya.

"Untuk apa sebenarnya para bawahan iblis itu rela bersusah payah datang kemari?"

Berbekal sebuah pertanyaan ringan yang tepat sasaran, pria bermata belok itu seketika memadamkan atmosfer perkelahian sengit di antara Rem dan Dunbakel.

Bagi kedua pendekar itu, sebuah topik cerita yang menyangkut komplotan bawahan iblis memang sangat layak untuk disimak dengan seksama.

Dengan kata lain, mereka harus memahami kenapa orang-orang asing itu mendadak datang berkunjung kemari.

Apa sebenarnya motif tersembunyi di balik tindakan mendatangi Encrid lalu tiba-tiba menawarkan kehidupan abadi atau sepetak tanah kekuasaan, serta menyatakan sanggup menjadikannya seorang Demigod?

Krais mengedarkan pandangan matanya yang besar menyapu seluruh hadirin yang berkumpul lalu melanjutkan analisisnya.

"Kita sewajarnya memulai analisis ini dari titik tersebut, bukan begitu?"

Jika kau tidak tahu apa-apa, maka kau akan menderita.

Bahkan andai kau mengetahuinya sekalipun, kau tetap akan menderita.

Itulah alasan kenapa seorang pria penakut bernama Krais selalu membiasakan diri membayangkan skenario yang paling buruk.

Rasa cemas bawaan lahirnya memaksa otaknya berimajinasi dan berspekulasi ke berbagai macam arah kemungkinan.

Krais mengepalkan kedua tangannya lalu membenturkan kedua tinjunya di depan dada.

Plak!

Terdengar bunyi benturan tinju yang nyaring.

"Dugaanku adalah bahwa mereka kemungkinan besar saat ini tengah saling bertikai di antara mereka sendiri."

Otot-otot lengan bawah Krais yang mengenakan kemeja lengan pendek menonjol tegang.

Dia saling menekan kedua tinjunya satu sama lain dengan kekuatan penuh, dan kedua tangannya tidak bergeming kalah ke sisi mana pun.

Di dalam posisi tersebut, sang wakil komandan melanjutkan analisanya:

"Bahkan andai ada selisih perbedaan kekuatan yang sangat tipis, bagaimana jadinya jika bobot beban di kedua sisi timbangan takdir sama persis beratnya?"

Krais adalah seorang genius sejati.

Terlebih lagi para iblis agung itu teramat sangat angkuh dan sombong, sehingga mereka bahkan sama sekali tidak menyadari bahwa ada seorang manusia biasa yang berani menembus tuntas skenario niat rahasia mereka.

Lalu kenapa kalau manusia mengetahui rencana mereka?

Memangnya apa yang sanggup diperbuat oleh manusia fana untuk menghentikannya?

Sangat wajar untuk menganggap bahwa para iblis memang memegang pembawaan diri yang secongkak itu.

"Namun bagaimana jadinya jika salah satu sisi dari timbangan itu pada akhirnya harus dipaksa terjatuh miring?"

Sosok Beelrog pastilah merupakan sebuah variabel tak terduga.

Sepanjang masa hidupnya, berbagai macam proposal penawaran pastilah telah saling dipertukarkan demi menarik variabel liar itu berpihak ke kubu mereka.

Namun entitas yang menghabiskan seluruh hidupnya mengembara di daratan ini murni hanya mendambakan pertumpahan darah dan menolak mentah-mentah seluruh tawaran tersebut.

'Dan seorang manusia fana berhasil membantai Beelrog yang perkasa itu.'

Kemunculan sosok pendekar baru yang di mata mereka jauh lebih mudah untuk dibujuk dan dirayu dibanding Beelrog.

'Lalu apakah selama ini sama sekali tidak pernah ada godaan serupa yang dilontarkan kepada para ksatria lainnya?'

Tentu saja godaan terkutuk semacam itu selalu ada.

Dan mereka yang tumbang terjerumus ke dalam bujuk rayu iblis berakhir menjadi para Death Knight, berpihak kepada Demon Realm, lalu bermutasi menjadi monster mutasi khusus atau menjelma menjadi ras iblis sejati.

Sang peri berjiwa terkutuk yang mendekam di tempat bernama Thornbriar Fortress dulunya pastilah mengalami nasib serupa.

Krais sempat mendengar kisah tragedi itu langsung dari penuturan Encrid.

Bahkan tanpa perlu berpikir terlalu rumit, Krais telah berhasil mencengkeram posisi strategis dan nilai tawar Encrid saat ini murni berbekal segelintir petunjuk kecil.

Tentu saja spekulasinya bisa saja keliru seutuhnya, namun mengasumsikan skenario terburuk adalah kebiasaan profesionalnya.

'Sebuah mangsa buruan yang teramat sangat menggiurkan.'

Bukankah sosok Encrid akan terlihat persis seperti itu di mata para penguasa iblis yang tengah mendekam di dalam Demon Realm?

Krais membuka telapak tangan kirinya lalu membungkus tinju kanannya erat-erat.

"Atau mereka mungkin mendambakan hasil akhir seperti ini."

Satu pihak mengunyah dan menelan habis pihak lainnya.

Bukankah mereka berniat memiringkan dan mematahkan timbangan takdir demi mengunyah dan menelan kubu lawan mereka seutuhnya?

Apakah ketiga bawahan iblis tadi datang melangkah kemari karena para majikan mereka menjalin persekutuan yang akrab?

Ataukah mereka murni bergerak bersama atas inisiatif mereka sendiri?

Ada terlalu banyak tanda tanya besar yang mustahil sanggup dijawab murni hanya mengandalkan spekulasi logika belaka.

"Lalu kenapa orang-orang iblis itu harus saling bertikai?"

Rem pun memiliki otak yang teramat tajam.

Pria barbar itu langsung menusuk titik buta di dalam untaian analisis Krais.

Dunbakel mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali dengan ekspresi bingung.

Gadis itu tengah bertanya-tanya apa sebenarnya topik rumit yang sedari tadi tengah diobrolkan oleh orang-orang pintar ini.

"Kalau soal itu mana kutahu."

Krais mengangkat bahunya santai.

Hal yang tidak ia ketahui memang tidak ia ketahui.

Sama seperti bangsa-bangsa di daratan Benua yang saling bertempur memperebutkan hegemoni kekuasaan, para iblis agung pun saling membantai di antara mereka sendiri.

Analisisnya murni berlandaskan pada premis dasar tersebut.

Alasannya apa?

Tidak diketahui.

Tujuan akhirnya apa?

Sama sekali tidak diketahui.

Namun dia merasa meyakini satu hal pasti:

Nafsu keserakahan yang membakar dada para iblis bukanlah sesuatu yang berada pada tingkatan yang sanggup dipahami murni hanya dengan mendengarnya sekilas.

Teramat mustahil bagi akal manusia untuk berani menebak apa kehendak sejati dari seekor iblis.

Kenyataan itu berlaku mutlak bagi semua orang.

Hal serupa pun berlaku bagi sosok Esther yang saat ini tengah didekap erat di dalam pelukan Encrid.

Dunbakel yang sedari tadi tengah sibuk merenungkan menu apa yang ingin ia santap untuk makan malam akhirnya membuka suaranya.

"Mungkin mereka bertengkar gara-gara sedang lapar?"

Jika kau melangkah masuk jauh ke pedalaman Wilayah Timur, perkelahian berdarah murni demi memperebutkan sepotong makanan adalah peristiwa harian yang sangat lumrah.

"Isi kepalamu itu benar-benar tidak ada yang berbobot ya."

Rem melontarkan cibiran pedasnya.

Kedua orang itu pada akhirnya berakhir saling bertukar hantaman tinju kembali.

Sang Heat-Bearing Companion bermula dari seekor Parasite Demon, melompat melampaui batasan spesies monster, lalu resmi bermutasi menjadi seekor iblis agung.

Mungkin berkat karakteristik biologis bawaan lahirnya, entitas itu sanggup membelah kehendak pikirannya menjadi puluhan atau bahkan ratusan serpihan terpisah.

Seni membagi-bagi jiwa milik Beelrog tempo hari adalah sebuah teknik yang ia serap dari mencuri pandang keahlian khusus milik Heat-Bearing Companion.

Inilah asal-muasal muaranya.

Bagaimanapun, serpihan kehendak pikiran itu kini telah melesat terbang melintasi puncak pegunungan.

Kehendak tekad yang terukir di dalam serpihan gaib itu teramat sangat jelas:

'Jika aku tidak sanggup memangsanya, maka tak boleh ada siapa pun di dunia ini yang boleh memilikinya!'

Maka sudah sangat tepat untuk menghancurkannya di tempat ini.

Serpihan kehendak pikiran itu bermutasi menjadi seekor ular berbisa berbalut pendaran cahaya merah lalu menghujam jatuh menyentuh permukaan tanah.

"Dasar perempuan jalang keparat..."

Sang penyihir yang dijuluki sebagai Guide of the Black Wave kehilangan tubuh klonnya, dan kerutan-kerutan di wajahnya seketika mencuat semakin dalam.

Semua itu karena raga klon yang ia ciptakan dengan menumbalkan sisa-sisa usia dan kemudaannya kini telah musnah lenyap menjadi abu.

"Kalian semua, berkumpul sekarang juga!"

Dia segera memanggil barisan murid-murid dan budak-budak kepercayaannya.

Seorang budak melangkah mendekat demi mendengarkan titahnya lalu membungkukkan kepalanya dengan takzim.

Para penyihir dan peramal wanita memang merupakan kaum petapa yang gemar mengasingkan diri, namun tentu saja jika situasi menuntutnya, mereka tidak akan ragu saling membantu atau saling menyabotase pekerjaan satu sama lain.

"Beritahukan kepada seluruh kawanan binatang buas yang tengah mendambakan mangsa buruan bahwa sang Child of the Stars telah menampakkan dirinya kembali!"

Jika instruksinya tidak disampaikan secara gamblang, sang budak mustahil sanggup menjalankan tugas rahasia ini dengan benar.

Itulah alasan kenapa sang penyihir menegaskan secara terperinci apa pesan yang harus diucapkan dan kepada siapa pesan itu harus disampaikan.

Setelah meneruskan instruksinya, sang penyihir menempelkan ibu jari kanannya ke jari telunjuknya lalu menyentuh setiap jari jemarinya secara berurutan, selagi otaknya berputar merancang skenario berikutnya.

Para penyihir memang hidup menyesuaikan diri dengan dunia fana, namun mereka bukanlah kaum yang sudi tunduk pada tatanan hukum alam semesta.

Lebih tepatnya, mereka adalah kaum pemberontak yang mendambakan terciptanya sebuah semesta yang bertolak belakang seutuhnya dari kehendak langit dan garis takdir angkasa.

"Hanya kebenaran mutlak yang layak disembah sebagai dewa sejati."

Mereka adalah orang-orang yang secara terbuka mendeklarasikan doktrin tersebut.

Oleh karena itu, posisi berdirinya sangatlah berbeda dibanding sang saudagar dan sang pendekar Greatsword tadi.

Hanya karena mereka telah berstatus sebagai bawahan dari seekor iblis bukan berarti mereka telah menyerahkan segenap jiwa raga mereka seutuhnya.

Dan dunia ini sama sekali tidak sederhana.

Sama rumitnya seperti jalinan hubungan sosial antar-manusia.

'Meskipun aku tadi sama sekali tidak menduga bahwa sang Child of the Stars ternyata bersembunyi di tempat itu...'

Fakta penemuan itu pada kenyataannya justru bisa menjadi sebuah keuntungan besar baginya.

Sang penyihir kemudian mencoba melancarkan kontak telepati jarak jauh menuju ke hadapan entitas yang bertindak sebagai majikannya lalu melapor.

"Hamba telah gagal membujuknya, namun masih ada ruang gerak lain yang sanggup kita manfaatkan."

Setelah menyampaikan laporannya, sang penyihir terhanyut ke dalam perenungan sesaat.

'Mereka benar-benar orang-orang gila...'

Kehidupan yang abadi, seantero tanah kekuasaan Benua, hingga hakikat kebenaran sejati.

Jika pria itu sama sekali tidak mendambakan satu pun dari seluruh kemewahan tersebut, lalu apa sebenarnya yang diinginkan oleh ksatria gila itu?

Bagi sang penyihir, itu adalah sebuah teka-teki misteri yang tidak akan pernah bisa terjawab hingga akhir zaman.

Para penguasa iblis di Demon Realm menerima kabar penolakan tersebut, dan karena mereka sendiri belum sanggup bergerak menyeberang secara langsung, mereka mulai menggerakkan berbagai macam pion bawahan mereka di daratan Benua.

Di antara mereka, sang 'Pure White'—entitas yang menggenggam pion bawahan paling perkasa di daratan Benua—turut melancarkan manuver langkahnya.

Sebuah artefak Relic telepati bergetar halus dan melontarkan pertanyaan:

"Bolehkah hamba bertindak sesuka hati hamba?"

Sang Pure White telah menjadikan pria itu sebagai bidak caturnya dan telah menjanjikan sepetak tanah kekuasaan yang luas kepadanya.

Sang iblis telah bersumpah untuk mengangkat pria itu menjadi penguasa tertinggi di daratan ini tepat di saat dirinya berhasil 'terangkat' menuju status kedewaan kelak.

Itulah alasan kenapa sang penguasa iblis menganggukkan kepalanya mengizinkan:

Lakukanlah sesuka hatimu.

Mendengar mandat resmi dari sang Pure White, sang bawahan menganggukkan kepalanya mantap.

"Mari kita mulai genderang perangnya."

Wilayah selatan tersohor sebagai sebuah imperium adidaya yang teramat perkasa.

Sang Great King of Lihin-Stetten baru saja menerima kabar resmi bahwa parasit yang selama lebih dari sepuluh tahun terakhir menggerogoti ketahanan nasional kerajaannya di perbatasan kini telah musnah binasa seutuhnya.

Oleh karena itulah sama sekali tak ada lagi alasan baginya untuk ragu-ragu melangkah.

Di atas kedua pundak tegapnya tersampir sehelai mantel kulit tebal dari seekor binatang buas purba yang dulunya menyandang gelar kehormatan sebagai 'Sang Penguasa Tanah Ini'.

Mantel kulit perkasa itu, dipadukan dengan mahkota keagungannya, adalah busana harian resmi dari sang Raja Agung.

Ada sebatang pohon suci legendaris yang pada hakikatnya merupakan sebuah Relic agung tersendiri.

Nama pohon suci itu adalah Yggdrasil.

Konon pohon itu adalah sebuah tanaman suci yang menganugerahkan kebijaksanaan mutlak, memungkinkan seseorang menghindari jerat maut, serta merintis takdir masa depannya sendiri.

Pohon itu pun merupakan sebuah Relic legendaris yang hanya tersisa di dalam era mitologi kuno dan dongeng masa lampau.

Pada kenyataannya nilai guna dari pohon berkelas Relic itu murni bermakna satu hal mutlak:

Penetralan total terhadap seluruh formula sihir yang menyerang kesadaran pikiran, serta pembatalan mutlak terhadap segala jenis kutukan maut.

Sebuah mahkota kerajaan yang kerangkanya ditempa langsung dari jalinan ranting-ranting pohon Yggdrasil serta dihiasi oleh duri-duri emas murni adalah simbol otoritas kekuasaannya.

Mahkota itu adalah pusaka suci yang selalu ia kenakan bahkan saat dirinya tengah terlelap tidur.

"Aku akan menusuk pantat para bajingan pelit di daratan Benua itu lalu mengibarkannya layaknya sehelai bendera perang!"

Mereka sebelumnya memang telah terlibat dalam serangkaian pertempuran lokal skala kecil melawan Naurillia.

Sama sekali tak ada lagi kebutuhan untuk melayangkan surat deklarasi perang resmi.

Ini memang belum akan langsung meletus menjadi perang total skala penuh seketika, namun detik untuk menghunjamkan pedang perang yang selama ini telah mereka asah telah resmi tiba.

Sang Raja Agung meyakini kepastian tersebut dengan segenap jiwanya.

Sang Child of the Stars.

Dulu pernah ada suatu masa di mana dirinya dipanggil menggunakan nama tersebut.

Gelar agung 'Witch of Conflict' baru disematkan kepadanya beberapa tahun kemudian.

"Kau memiliki bakat yang luar biasa."

Itu adalah masa-masa di mana dirinya pertama kali bersentuhan dengan dunia sihir, bersamaan dengan untaian kata-kata pujian tersebut.

Sang guru yang membimbingnya adalah seorang wanita yang tidak memancarkan secuil pun aroma keduniawian.

Lebih tepatnya, beliau adalah seorang wanita yang tidak pernah mendambakan hal-hal materi apa pun secara khusus.

"Ada orang-orang yang menemukan kebahagiaan hidup dari menyantap hidangan yang lezat. Sedangkan diriku murni hanya menemukan kebahagiaan dari rutinitas harian memandangi hamparan bintang-bintang di langit malam."

Sang guru lebih pantas disebut sebagai seorang petapa yang telah melepaskan diri dari urusan fana duniawi, yang membaca pergerakan benda-benda angkasa dan memahami rahasia lintasan bintang-bintang.

Meskipun menyandang nama sebagai seorang penyihir wanita, beliau terkadang merawat para pemburu yang terluka dan menolong orang-orang yang tengah berada dalam kesulitan hidup.

Pertemuan itu pastilah merupakan secuil dari keberuntungan takdir, sebuah berkah agung, atau jika bukan keduanya, murni sebuah kebetulan yang indah.

Bagi Esther, sosok sang guru adalah entitas yang teramat suci seperti itu.

'Sebuah mimpi masa lalu.'

Esther menyadari bahwa dirinya saat ini tengah berhadapan langsung dengan kepingan masa lalunya sendiri.

Waktu seakan melesat terbang mundur, menyinari masa kanak-kanaknya yang hangat.

Itu adalah masa-masa di mana dirinya tengah belajar, perlahan demi perlahan, bagaimana cara menyerap prinsip-prinsip alam semesta dan menjelajahi hakikat kebenaran sihir.

"Apakah ini terasa menyenangkan bagimu?"

Sang guru sempat melontarkan pertanyaan itu, dan gadis kecil itu menjawabnya dengan jujur, selagi butiran-butiran keringat membasahi batang hidung dan ujung hidungnya yang mungil.

"Tentu saja menyenangkan!"

Itu adalah nada bicara yang terdengar polos seolah bertanya kenapa sang guru harus menanyakan hal yang begitu jelas.

Hal yang terpancar di sepasang mata sang guru kala itu adalah sebuah rasa cemas yang mendalam.

Sosok Esther kecil kala itu sama sekali tidak sanggup memahami arti kekhawatiran tersebut.

Waktu terus bergulir berlalu, dan kali ini, sebuah pertemuan takdir yang menyerupai sebuah kemalangan atau kutukan maut mendatangi hidupnya.

"Child of the Stars."

Itu adalah sebuah julukan kehormatan.

Sebuah istilah yang mendeskripsikan berkah agung dari terlahir menggenggam kekuatan magis sihir yang sebesar hamparan bintang-bintang di angkasa raya.

Dan bakat luar biasa itu adalah target buruan yang teramat sangat menggiurkan bagi segelintir peneliti sihir gelap, dan kerap dijuluki sebagai esensi Mana murni.

Sebuah Elixir hidup yang, jika diekstraksi dan dimurnikan, daya khasiatnya sanggup melampaui ramuan Elixir legendaris mana pun di dunia.

Itulah alasan mutlak dan makna terselubung di balik julukan Child of the Stars.

"Kau telah menyembunyikannya dengan sangat rapi, namun kau tidak akan pernah bisa mengelabui ketajaman mataku."

Bahkan hingga detik ini gadis itu sama sekali tidak sanggup melupakan sosok pria tersebut.

Pria itu dikabarkan merupakan seorang penyihir yang kehilangan seluruh ekspresi wajah dan emosi jiwanya akibat sebuah kecelakaan tragis di tengah-tengah penelitian formula sihirnya.

Sang pemilik gelar agung 'Master of the Unfeeling Blade'.

Sensor kepekaan pria itu teramat sangat tajam, dan dia berhasil mengintip rahasia besar Esther, menembus belasan lapisan dinding pelindung yang dibangun dengan susah payah oleh sang guru.

Pria keji itu kemudian melancarkan serangan mendadak membidik nyawa sang guru.

Sang guru yang mendedikasikan hidupnya menjelajahi kebenaran sihir namun murni hanya menikmati hari ini dengan bahagia, membakar seluruh daya hidup yang ia miliki demi melindungi keselamatan Esther kecil.

"Hiduplah, Esther. Hiduplah sembari melakukan apa yang memang ingin kau lakukan di dunia ini."

Untaian kata-kata terakhir sang guru seketika menjelma menjadi belenggu rantai di dalam jiwanya.

Esther kala itu sama sekali tidak tahu apa sebenarnya hal yang ingin ia lakukan.

'Kebenaran sejati.'

Menjelajahi formula sihir adalah hal yang ia dambakan.

Sarana perantara mendadak bermutasi menjadi tujuan akhir hidupnya.

Dia mengira bahwa dirinya sanggup melakukan apa saja demi memperluas semesta ilmu sihirnya.

Esther perlahan-lahan tengah berada dalam proses bermutasi bukan menyerupai sang guru tercinta, melainkan persis seperti sosok monster yang telah membantai gurunya.

Namun demikian, alih-alih menumbalkan nyawa orang lain, dia murni menjelajahi kebenaran sihir dengan cara mengekspos dirinya sendiri ke dalam berbagai macam bahaya maut.

"Sudah lama tidak berjumpa."

Di tengah-tengah perjalanan itu, dia terus memburu dan bertarung melawan sang penyihir keji yang telah membunuh gurunya.

Betapa gembiranya pria itu saat mendengar sapaan dingin Esther kala itu.

"Kau akhirnya datang menyerahkan diri untuk kumangsa!"

Esther merobek mulut pria yang melontarkan kata-kata keji itu dari ujung kiri hingga ke ujung kanan.

Dia melakukannya murni menggunakan formula sihir pamungkas yang menjadi keahlian khusus pria itu sendiri.

Scythe of Dmulere adalah sihir andalan milik pria tersebut.

Inilah titik awal di mana dirinya mulai dijuluki sebagai sang Witch of Conflict.

"Dia adalah sang Child of the Stars!"

Dia mempelajari bagaimana cara bertarung di medan tempur selagi membantai orang-orang yang mengenali identitas aslinya, serta menjelajahi formula sihir di sela-sela waktu luangnya.

Dia tidak tahu apa yang terbentang di ujung akhir jalan terjal ini.

Dia melangkah maju tanpa mengetahui arah tujuannya.

Ada jalan yang membentang, namun sama sekali tidak ada tempat tujuan akhir.

Dan kemudian, jiwanya sempat ditelan oleh sebuah formula sihir terkutuk dan dirinya berakhir terperangkap di dalam raga seekor macan tutul akibat sebuah kutukan maut.

Kala itu dirinya mengira bahwa itu merupakan sebuah kemalangan hidup lainnya, namun saat meninjau kembali hari ini, peristiwa itu tampaknya justru menjelma menjadi sebuah keberuntungan takdir terbesar di dalam hidupnya.

'Hal yang sebenarnya kudambakan adalah...'

Dia tidak tahu.

Dia melangkah maju tanpa mengetahuinya secara pasti.

Dia dulunya murni hanya ingin menjelma menjadi sebutir bintang agung di langit malam.

Bintang di langit yang selalu diimpikan oleh sang guru tercinta, yang dulu telah menyelamatkan nyawanya dari takdir kelam mati membusuk setelah menjual tubuhnya di jalanan kota.

Itu bukanlah jalan hidupnya sendiri, melainkan jalan hidup milik sang guru.

Dia selama ini murni hanya melanjutkan sisa-sisa kehidupan yang dulu dijalani oleh gurunya.

Lalu bagaimana dengan dirinya hari ini?

"Kau sudah bangun rupanya."

Apakah suaranya akan terdengar semerdu ini saat tetesan embun jernih yang halus mengalir lembut menuruni sehelai daun hijau?

Suara sang peri jelita benar-benar teramat sangat merdu memikat hati.

Esther mendapati dirinya tengah berada dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, raganya terendam nyaman di dalam genangan air hangat yang menenangkan.

Ada lebih dari satu mata air suci milik bangsa peri.

Di antara mata air-mata air tersebut, kolam ini adalah Spring of Warmth, yang tersohor sebagai lokasi terbaik untuk memulihkan raga fisik yang kelelahan.

Bongkahan-bongkahan batu tersusun rapi mengitari kolam mata air, menciptakan sebuah panorama pemandangan alam yang teramat sangat tenang dan damai.

Sepasang mata hijau jernih milik sang peri—yang merupakan bagian tak terpisahkan dari panorama indah tersebut—tengah menatap lurus ke arah sosok Esther.

Bibir Esther perlahan terbuka.

"Iya."

Sang peri bertanya sembari menyunggingkan senyuman tipis.

"Jadi, kau digendong lagi olehnya?"

Esther merasa pertanyaan itu terdengar sangat menggelikan batinnya.

"Iya."

Saat dirinya memberikan jawaban jujur tersebut, sang peri menganggukkan kepalanya pelan, raut wajahnya tetap tampak tenang dan datar.

Itu adalah sebuah ekspresi wajah yang membuat siapa pun mustahil sanggup membaca apa yang tengah berkecamuk di dalam kepalanya.

Lalu gadis peri itu mendadak melontarkan pertanyaannya.

"Wajahmu tampak dipenuhi oleh begitu banyak beban kekhawatiran."

Sang peri kemudian melanjutkan kata-katanya dengan lembut:

"Kau tidak harus menyelesaikan seluruh beban masalah itu seorang diri."

Nasihat bijak dari sang peri berumur panjang terbukti sangat membantu menenangkan jiwanya.

Esther, meskipun masih terasa samar-samar, kini telah mengetahui jalan kehidupan macam apa yang sebenarnya ia dambakan di dunia ini.

Dia pun kini telah memahami apa pesan wasiat yang sesungguhnya dari sang guru tercinta.

'Kedamaian.'

Dan dia menambahkan sebuah kepingan nilai miliknya sendiri ke dalamnya:

'Kegembiraan.'

Dia akan melenyapkan segala hal yang mengusik rasa kenyamanannya.

Jika merasa terganggu melihat orang-orang tak berdosa mati konyol akibat eksperimen-eksperimen sihir yang tidak berguna, maka dia akan membersihkan para pelaku eksperimen itu sampai bersih.

Jika merasa terganggu melihat para penguasa iblis dari Demon Realm tengah memainkan trik-trik kotor di tanah ini, maka dia akan menyapu bersih konspirasi tersebut sampai ke akar-akarnya.

Serta...

'Bahkan andai ada sekelompok bajingan tamak yang mendambakan hal-hal sia-sia datang menyerbu kemari sekalipun...'

Dia pasti akan membersihkan dan melenyapkan mereka semua tanpa ampun.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.