**Bab 27. Pembukaan Kepala**
***
*Tap, tap-tak, tap!*
Memar kemerahan bagai titik-titik kecil terukir di beberapa bagian tubuh Dong Bong-su.
Sebuah gerakan yang sangat hati-hati namun setajam pisau bedah.
Hingga akhirnya, `[Head-Opening Great Method]` yang merupakan salah satu seni rahasia Sekte Tang mulai diterapkan pada tubuh Sosam—bukan, pada tubuh Dong Bong-su.
Untuk melakukan `[Head-Opening Great Method]`, Tang Wu harus membuat jalur meridian buatan di dalam tubuh Dong Bong-su menggunakan `[Dragon-Phoenix Golden Needles]`. Karena tidak ada jalur bawaan di tubuhnya, pekerjaan menciptakan jalur baru ini harus diutamakan terlebih dahulu.
Tangan Tang Wu menyayat udara dengan sangat cepat. Mengikuti gerakannya, `[Dragon-Phoenix Golden Needles]` yang melayang di udara mulai menancapkan diri ke sekujur tubuh Dong Bong-su, dan energi sejati Tang Wu mengalir di antara jarum-jarum tersebut, mengukir jalur-jalur meridian baru.
Melewati titik *Zhongfu*, menusuk *Shaoshang* dan *Shangyang*, mengalir melalui *Yingxiang* dan *Jiquan*, menembus *Shaochong* dan *Shaoze*, melintasi *Qigong* dan *Tianchi*, melewati *Zhongchong* dan *Chengqi*, menghantam *Yutang* dan *Yinbai*, menandai *Dafu* dan *Qingming*, melintasi *Zhiyin* dan *Yongquan*, menghantam *Youfu* dan *Guanchong*, menggores *Sizhukong* dan *Tongziliao*, menusuk *Zuqiyin* dan *Dadun*, hingga mencapai titik *Qimen*.
Akhirnya, jalur-jalur meridian dibuka di seluruh dua belas titik meridian utama sesuai dengan hukum yin-yang dan lima elemen.
Sejak saat itulah, `[Head-Opening Great Method]` yang sesungguhnya dimulai dengan sungguh-sungguh.
*Pababap!*
Tangan Tang Wu and `[Dragon-Phoenix Golden Needles]` bergerak lincah di sekujur tubuh Dong Bong-su.
Seiring berjalannya metode luar biasa ini, ia semakin merasakan betapa menakjubkannya tubuh tanpa aliran darah (*the bloodless body*) tersebut. Meskipun hanya mengikuti jalur meridian buatan yang diciptakan sementara, sama sekali tidak ada hambatan sekecil apa pun dalam aliran energi sejati dan darahnya. Alih-alih terhambat, energi sejati justru mengalir beberapa kali lebih cepat dibandingkan dengan tubuh ahli bela diri biasa.
Pria tua itu menjadi sangat bersemangat dan perlahan-lahan tenggelam dalam kekaguman selama menjalankan `[Head-Opening Great Method]`.
Meski begitu, ia tidak sepenuhnya kehilangan akal sehatnya. Masih ada satu tugas krusial yang harus ia selesaikan.
Saat `[Head-Opening Great Method]` hampir mencapai puncaknya, Tang Wu menekan tombol tersembunyi yang berada di bagian bawah kotak penyimpanan `[Dragon-Phoenix Golden Needles]`. Bagian dasarnya terbuka, memperlihatkan sebuah kompartemen rahasia di dalam kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat butiran-butiran kecil berwarna hitam pekat yang tak terhitung jumlahnya. Namun jika diamati lebih dekat, butiran-butiran kecil itu sebenarnya sedang menggeliat. Mereka bukan butiran benda mati—mereka adalah serangga.
Mereka adalah jenis serangga ultra-kecil yang dikenal sebagai `[Thousand-poison Insect]`.
`[Thousand-poison Insect]` adalah serangga beracun yang dikembangkan secara rahasia oleh Sekte Tang, jenis khusus yang diciptakan dengan menyuling berbagai serangga beracun dan menyuntikkan sepuluh ribu jenis racun ke dalamnya.
Begitu seekor `[Thousand-poison Insect]` menetap di dalam dantian inangnya, ia akan melahap racun apa pun yang menyusup ke dalam tubuh inang tersebut. Dengan demikian, bahkan seseorang tanpa kekebalan racun sekalipun bisa mendapatkan kondisi `[Body Invulnerable to Ten Thousand Poisons]` hanya dengan menyembunyikan seekor `[Thousand-poison Insect]` di dalam tubuhnya.
Namun, projek `[Thousand-poison Insect]` ini sempat ditinggalkan sesaat setelah penciptaannya.
Alasannya adalah karena bahaya besar yang menyertai penggunaannya.
Serangga `[Thousand-poison Insect]` hidup berkoloni seperti semut atau lebah, tetapi begitu mereka menemukan inangnya, koloni tersebut akan berpencar. Pada titik itu, orang yang menyimpan ratu dari `[Thousand-poison Insect]` akan bisa mengendalikan siapa saja yang membawa sisa serangga `[Thousand-poison Insect]` lainnya.
Dengan kata lain, jika orang yang menyimpan ratu memiliki niat jahat dan ingin menghancurkan Sekte Tang, Sekte Tang bisa terjerumus ke dalam kehancuran yang tidak bisa dipulihkan. Menyadari bahaya besar ini, Sekte Tang memilih untuk mengubur keberadaan `[Thousand-poison Insect]` meskipun telah berhasil mengembangkannya.
Meski begitu, `[Thousand-poison Insect]` yang dikira telah musnah kini berada di tangan Tang Wu.
Mengapa Tang Wu mengeluarkan `[Thousand-poison Insect]` pada tahap ini, saat `[Head-Opening Great Method]` hampir selesai?
Jawabannya sudah sangat jelas.
Ini untuk mengendalikan dan membatasi Dong Bong-su.
Ia tidak ingin spesimen luar biasa seperti Sosam direbut oleh pihak lain secara kebetulan, dan ingin menjadikannya sebagai milik pribadinya sepenuhnya.
Namun, ada satu hal yang tidak ia ketahui.
Yaitu Dong Bong-su sudah mendengar semua rencana tersebut.
Mengetahui semua ini, ia menerima lamaran Tang Wu sepenuhnya dan membiarkan seekor serangga jantan `[Thousand-poison Insect]` masuk ke dalam tubuhnya. Alasannya sederhana: ia bisa membunuh serangga beracun tersebut kapan pun ia mau. Keahlian `[Inventory Divine Art]` miliknya bekerja dengan cara yang sama bahkan di dalam organ tubuhnya sendiri. Ini adalah hal yang baru saja ia sadari belum lama ini.
Itu adalah kesimpulan yang ditariknya setelah merenungkan sejauh mana jangkauan dari `[Inventory Divine Art]` miliknya—jika ia bisa memasukkan dan mengeluarkan barang ke dalam inventaris, lalu di mana sebenarnya batas jangkauan itu berada?
Apakah `[Inventory Divine Art]` bisa berfungsi bahkan di dalam ruang kosong di dalam tubuhnya sendiri?
Jawabannya adalah "ya."
Oleh karena itu, selama Dong Bong-su mengetahui di mana letak serangga beracun di dalam tubuhnya berada, ia bisa memproyeksikan senjata kecil seperti jarum dari dalam tubuhnya dan menghancurkan serangga tersebut kapan saja, membunuhnya secara instan.
Tang Wu tidak mengetahui hal ini dan sangat percaya bahwa ia bisa mengendalikan Dong Bong-su sepenuhnya.
Tang Wu memasukkan seekor `[Thousand-poison Insect]` ke dalam telinga Dong Bong-su.
*Geliat.*
Bagaikan semut yang menyelinap ke dalam pasir, seekor serangga jantan `[Thousand-poison Insect]` menghilang ke dalam saluran telinga Dong Bong-su.
Bahkan di saat itu, Dong Bong-su tetap duduk tenang, merasakan energi baru yang terakumulasi di dalam tubuhnya akibat dari `[Head-Opening Great Method]`. Hanya dengan menerima aliran energi sejati tersebut, ia langsung memahami bagaimana energi itu mengalir dan bagaimana seharusnya ia mengalirkannya di dalam tubuh.
Meskipun rasa sakit yang ditimbulkan oleh `[Head-Opening Great Method]` dan penyusupan `[Thousand-poison Insect]` sangatlah mengerikan, Dong Bong-su—yang telah mencapai kondisi penyatuan diri dengan alam—perlahan-lahan melupakan rasa sakit tersebut.
Meseipun itu bukan waktu yang lama, Dong Bong-su terus berevolusi menjadi monster yang jauh lebih mengerikan.
***
Beberapa jam kemudian.
Baru setelah ayam jantan berkokok di kala fajar, `[Head-Opening Great Method]` akhirnya selesai dilakukan.
Sebuah senyuman puas tersungging di wajah lelah Tang Wu saat ia menatap Dong Bong-su dan berbicara.
“Buka matamu.”
Dong Bong-su perlahan membuka matanya dan menatap Tang Wu. Kekuyuan di tatapan matanya telah hilang sepenuhnya, dan dalam beberapa hal, bahkan terpancar ketajaman yang memusingkan dari matanya.
“Aku telah memberimu nama Tang Sam, yang berarti menebas iblis bagai memotong rumput.”
“Ya.”
Sebuah suara canggung mengalir keluar dari mulut Dong Bong-su. Bagi Tang Wu dan yang lainnya, itu terdengar seolah-olah ia baru saja mendapatkan kembali kemampuan bicaranya setelah sekian lama membisu—persis seperti yang ia rencanakan.
Memercayai bahwa semuanya telah berjalan dengan sempurna, Tang Wu tersenyum puas. Dong Bong-su membalas senyuman itu. Tentu saja, senyumanya juga merupakan senyuman kepuasan bahwa semuanya telah berjalan dengan sempurna bagi dirinya.
Siapa di antara keduanya yang benar-benar berhasil, sudah jelas tanpa perlu diucapkan lagi.
Akhirnya, Dong Bong-su menanggalkan kulit lamanya sebagai Sosam sepenuhnya dan mendapatkan sayap baru dengan nama Tang Sam. Meskipun belum ada seorang pun di dunia persilatan yang menyadari bahaya yang ia bawa saat ini.
Hari ini adalah hari di mana sesosok monster memasangkan sayap kecil di tubuhnya dan bersiap untuk terbang tinggi. Seberapa jauh ia akan membubung—atau apakah ia akan jatuh sebelum sempat lepas landas—adalah sesuatu yang hanya waktu yang bisa menjawabnya.
***
*(Revisi) Aturan #2 New Murim Online: Barang apa pun yang bersentuhan langsung dengan bagian tubuh mana pun (tambahan: terlepas dari apakah barang tersebut berada di dalam atau di luar tubuh) dapat dimasukkan ke dalam inventaris. (Namun, ukuran barang tersebut harus lebih kecil dari ukuran inventaris itu sendiri dan tidak boleh berupa makhluk hidup).*
*Tambahan: Penggunaan inventaris tidak terbatas pada memasukkan dan mengeluarkan satu barang saja dalam satu waktu; melalui latihan, jumlah barang tersebut bisa terus bertambah.*
*※ Semua aturan ini masih belum bersifat tetap atau pasti.*
**Kisah Sampingan 1: Lahirnya sang Psikopat**
*Menjadi orang baik adalah sesuatu yang hanya bisa dikatakan saat berpapasan dengan seseorang. Jika dilihat dari keseluruhan rentang kehidupan, tidak ada yang namanya orang baik di dunia ini.* *– Hannibal Lecter, dari film 'The Silence of the Lambs'*
***
Aku sudah berbeda sejak usiaku masih sangat muda.
Kim Yang-suk berkata bahwa ia sangat terkejut saat aku tidak menangis ketika dilahirkan dan justru hanya melihat ke sekeliling memperhatikan lingkunganku. Ia mencoba memukul pantatku beberapa kali agar aku menangis, tetapi ketika aku tetap diam saja, ia akhirnya mencubitku. Baru setelah itulah aku menangis karena merasakan rasa sakit.
Sepuluh bulan kemudian.
Aku akhirnya mulai bisa berbicara.
Bahkan saat itu, aku berbeda dari anak-anak lainnya. Kata pertama yang kuucapkan bukanlah kata pendek seperti "Ibu," "Ayah," atau "Susu," melainkan sebuah kalimat utuh: "Ibu, berikan aku makanan."
Tampaknya ibuku, Kim Yang-suk, menyadari sejak saat itu bahwa aku berbeda dari anak-anak lainnya. Mungkin karena itu, aku diberikan pendidikan khusus untuk anak berbakat dan mempelajari banyak hal sejak usia muda. Namun, perkembanganku tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Kenyataannya, aku sudah mempelajari segalanya dan sibuk menikmati permainan mengadu semut di kamarku, tetapi di hadapan orang lain aku berpura-pura masih belajar.
Mungkin bahkan sejak saat itu, secara naluriah, aku tahu bahwa menonjolkan diri bukanlah hal yang menguntungkan.
Waktu berlalu kembali hingga aku menginjak usia lima tahun.
Pendidikan khusus untuk anak berbakat yang dipaksakan oleh Kim Yang-suk sebagian besar telah berakhir, dan aku menjalani fase pertumbuhan yang normal seperti anak-anak lainnya.
Aku bermain dengan anak-anak tetangga—bermain kartu *ddakji*, kelereng, permainan tapak gunung, dan berbagai konsol game. Di antara semuanya, aktivitas favoritku adalah menangkap serangga, reptil, dan amfibi lalu bermain dengan mereka.
Semut, capung, tonggeret, kumbang, kumbang tanduk, belalang sembah, berbagai jenis belalang, katak, salamander, kecebong, dan lainnya.
Sebagian besar ibu dari anak-anak itu sangat membenci hal-hal seperti itu, jadi tugas menyimpan tangkapan itu selalu jatuh kepadaku. Kim Yang-suk tidak terlalu memedulikannya selama aku merasa nyaman dengan hal itu.
Aku biasanya bermain dengan mereka di dalam kamarku.
Suatu pagi, Kim Yang-suk masuk ke kamarku dan tidak melihat tangkapan kemarin, lalu bertanya kepadaku tentang hal itu.
“Eh? Bong-su, apa yang kau lakukan dengan semua serangga yang kau tangkap bersama anak-anak lain kemarin? Kau tidak boleh membuang hal-hal seperti itu ke dalam tempat sampah begitu saja.”
Ia mengaduk-aduk tempat sampah di kamarku. Namun tentu saja, serangga-serangga itu tidak ada di sana.
“Aku memakannya.”
Kurasa itulah jawaban yang kuucapkan saat itu. Jawaban itu tidak sepenuhnya salah.
Terkejut mendengarnya, Kim Yang-suk memarahiku dengan keras, mengatakan bahwa aku tidak boleh memakan hal-hal seperti itu. Ia bahkan mengadu kepada ayahku saat beliau pulang malam itu, dan aku mendapatkan omelan yang jauh lebih keras lagi.
Kenyataannya, aku hanya memakan katak itu saja. Sisanya kubuat saling bertarung satu sama lain. Mereka membunuh dan dibunuh. Pada akhirnya, yang berhasil bertahan hidup adalah katak tersebut, dan aku hanya memakan katak yang menang itu. Pada akhirnya, itu sama saja dengan memakan mereka semua.
Aku membuktikan bahwa aku lebih kuat daripada katak tersebut, tetapi aku saat itu masih lebih lemah daripada kedua orang tuaku.
Momen itulah yang membuatku menyadari satu hal. Anda tidak boleh melakukan apa yang Anda sukai di depan orang lain—terutama di hadapan mereka yang jauh lebih kuat daripada Anda.
Waktu berlalu kembali.
Aku tumbuh besar menjadi anak yang sehat dan teladan.
Aku tidak pernah membuat cemas kedua orang tuaku, juga tidak pernah menarik perhatian negatif dari guru-guru sekolah. Sebaliknya, diriku saat kecil adalah seorang murid teladan yang diakui oleh semua orang.
Kim Yang-suk selalu memujiku ke mana pun ia pergi.
“Anak yang pintar dan berbakti.”
Guru-guru di sekolah juga sering mengelus kepalaku dan memujiku.
Seorang anak yang sempurna, dipuji ke mana pun ia melangkah.
Itulah diriku saat itu—Dong Bong-su. Bertindak dengan cara seperti itu memungkinkanku melakukan apa yang kusukai sementara orang lain dengan mudah menafsirkannya sebagai rasa ingin tahu ilmiah atau menerimanya begitu saja.
Namun, meskipun menjadi anak yang pintar dan dipuji bisa menyenangkan hati orang tua, hal itu secara tidak terhindarkan menarik permusuhan dari rekan-rekan sebaya. Pada saat itu, aku belum sepenuhnya menyadari hal tersebut.
Itu terjadi saat aku berada di tahun kedua sekolah menengah pertama.
Aku secara rahasia menangkap beberapa anjing dan kucing liar yang berkeliaran di lingkungan sekitar lalu membuat mereka bertarung hingga mati. Guna mengubur jasad hewan-hewan tersebut di taman bunga sekolah, aku tertangkap basah oleh anak-anak lain. Akibatnya, aku dikucilkan oleh seluruh sekolah. Setelah itu, sepanjang sisa masa sekolah menengah pertamaku, menjadi sangat mustahil bagiku untuk melanjutkan hobi maupun eksperimenku.
Momen itulah yang mengajarkanku hal lainnya. Tidak hanya aku harus terlihat baik di hadapan orang-orang yang lebih kuat dariku, tetapi aku juga harus terlihat biasa saja di hadapan mereka yang lebih lemah dariku—dan aku harus menyembunyikan hobiku dengan sangat rapat.
Waktu berlalu kembali, dan aku menjadi seorang murid sekolah menengah atas.
Pada saat itu, setidaknya di permukaan, aku telah menjadi anak yang sangat biasa.
Nilaiku rata-rata, aku tidak memiliki bakat khusus apa pun, hanya seorang murid SMA yang tidak mencolok—seseorang yang tidak akan menarik perhatian di mana pun ia berada. Itulah aku, Dong Bong-su.
Namun.
Masih ada sesuatu yang tidak biasa pada diriku.
Anehnya, gadis-gadis sangat menyukaiku dan terus mengikutiku. Pada awalnya, aku tidak bisa memahami mengapa mereka bertindak seperti itu.
Akhirnya, meskipun terasa merepotkan, aku berkencan dengan salah satu dari mereka. Suatu hari, aku bertanya kepadanya.
“Mengapa kau menyukaiku?”
“Aduh! Coba lihat dirimu. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal seperti itu sendiri? Memalukan sekali!”
Maka aku melakukan apa yang ia sukai, dan saat ia mencapai klimaksnya, aku bertanya kembali.
“Mengapa kau menyukaiku?”
Sembari terengah-engah, ia akhirnya memberikan jawaban yang kuinginkan.
“Aku tidak tahu. Mungkin… karena kau tidak biasa?”
“Apa maksudnya itu?”
“Kau tampak berbeda entah bagaimana. Kau terlihat biasa saja, tetapi di saat yang sama, kau terasa tidak biasa.”
Momen itulah yang memberiku pemahaman baru. Bahkan jika aku tidak melakukan apa-apa pun, aku memang tidak biasa.
Maka sejak saat itu, aku mulai mengenakan kamuflase buatan. Aku berolahraga seperti orang lain, menonton acara TV yang ditonton semua orang, tertawa ketika orang lain tertawa, dan menangis ketika orang lain menangis.
Pada suatu titik, orang-orang mulai mengatakan hal ini tentang diriku.
“Bong-su, kau benar-benar orang yang baik.”
“Bong-su, terima kasih banyak.”
“Bong-su, bisakah kau membantuku mengurus hal ini?”
“Bong-su……”
Sebelum aku menyadarinya, aku telah resmi menjadi orang baik di mata mereka.
Tidak ada seorang pun yang ragu untuk mendekatiku. Pria menyukaiku sebagai rekan kerja atau teman, dan wanita memandangku sebagai rekan kerja yang baik, senior di sekolah, atau sosok kakak laki-laki.
Hingga akhirnya, aku menyadarinya.
Bahwa aku akhirnya berhasil mendapatkan kamuflase yang sesungguhnya—yaitu kebiasaan menjadi orang biasa. Bagai seekor bunglon, ke mana pun aku pergi, bahkan tanpa usaha sadar pun, aku telah bertransformasi menjadi “orang baik yang biasa saja.”
Aku akhirnya berhasil meloloskan diri dari pengawasan mata orang-orang sepenuhnya.
Baru setelah itulah aku bisa kembali menemukan jati diriku yang sesungguhnya.
Itu adalah masa penahanan diri yang teramat panjang.
Kini tiba saatnya bagiku untuk melepaskan hasrat yang telah lama kupendam—bukan lagi pada serangga atau hewan, melainkan pada mangsa yang sesungguhnya.
Hanya di hadapan mereka sajalah aku bisa menanggalkan kamuflaseku dan kembali ke wujud asliku yang sesungguhnya.


